Desakan Ganti Suramadu Jadi M Noer Meluas

DPRD Jatim dan Bupati Bangkalan, Fuad Amin mendesak mengganti nama Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) menjadi Jembatan Mohammad Noer. Pergantian nama ini sebagai bentuk penghargaan almarhum M Noer sebagai penggagas Suramadu.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Mahdi mengatakan, almarhum M Noer merupakan pengusul berdirinya jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura itu. Jasa besar almarhum tidak bisa disepelekan, makanya pemakaian namanya di jembatan terpanjang di Indonesia itu cukup layak.

“Tidak ada lagi yang meragukan jasa besar Pak Noer. Rasanya pantas kalau nama Suramadu diubah menjadi jembatan Mohammad Noer,” ujar Mahdi, Minggu (18/4).

Dalam waktu dekat, lanjut dia, pihaknya akan mengalang dukungan untuk mendesak Pemprov Jatim mengubah nama Suramadu menjadi Jembatan M Noer. “Biar ada tanda pengenal atas jasa yang diberikan Pak Noer bagi warga Jatim,” jelasnya.

Anggota Komisi A DPRD Jatim Nizar Zahro mengatakan, nama Pak Noer tidak hanya layak mengantikan nama Jembatan Suramadu, melainkan sudah masuk tahapan menjadi pahlawan nasional. Jejak sejarah mulai dari peranannya merebut kemerdekaan sampai menjadi duta besar (Dubes) di Prancis telah dilalui.

“Kami juga sangat setuju kalau nama Suramadu diubah menjadi Mohamamd Noer. Bila perlu sekalian saja diusulkan menjadi pahlawan nasional,” ungkapnya.

Menurut dia, sosok Pak Noer pantas menjadi panutan bagi warga Jatim. Sejak muda sampai menjadi pimpinan di Jatim, sikapnya masih sederhana dan selalu memperhatikan rakyat kecil.

“Beliau pemimpin yang merakyat, semua tindakannya selalu mengedepankan kepentingan rakyat kecil,” tegasnya.



Untuk itu, DPRD Jatim tidak segan untuk segera menempelkan namanya menganti Suramadu. “Bentuk penghargaan itu sangat layak atas pengabdian yang telah dilakukan Pak Noer,” ungkapnya.

Bupati Bangkalan Fuad Amin juga mengusulkan, pihaknya akan mengusulkan nama mantan Gubernur Jatim, M Noer, menjadi nama jalan di sepanjang akses Jembatan Suramadu. Pengusulan nama M. Noer sebagai nama jalan yang memiliki panjang 11,5 km itu merupakan aspirasi dari masyarakat untuk mengenang jasanya.

”Kami akan mengusulkan dan meminta persetujuan dari DPRD setempat, namun kemungkinan besar kalangan DPRD Bangkalan akan menyetujui hal itu,” katanya optimis.

Selain faktor tersebut, kata dia, pemberian nama jalan terhadap Pak Noer karena pengabdiannya sebagai pamong di Kabupaten Bangkalan paling lama yakni sekitar 24 tahun. M Noer mengawali karir mulai dari Sekcam (sekretaris kecamatan), Widodo Arosbaya (pembantu kepala daerah) hingga menjadi Patih (kepala daerah/bupati) Bangkalan periode 1959 hinggga 1965. ”Kalau dihitung, beliau menjadi pamong di sini sekitar 24 tahun,” katanya. (sis)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 19 April 2010

Labels: , , , , , ,

Jatim Berduka Dua Hari

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menetapkan hari berkabung provinsi selama dua hari menyusul wafatnya mantan Gubernur Jawa Timur M Noer. Semua instansi pemerintahan dan masyarakat diminta menaikkan bendera setengah tiang selama masa berkabung.

Soekarwo mengatakan, Jatim sangat kehilangan dengan kepergian M Noer. Gubernur Jatim pada tahun 1970-an itu meletakkan dasar-dasar pembangunan Jatim sehingga maju seperti sekarang.

"Hari ini Jatim kehilangan putra terbesarnya. Pemerintah provinsi akan mengibarkan bendera setengah tiang hari ini dan besok sebagai tanda berkabung," ujarnya saat melayat ke rumah duka di Surabaya, Jumat (16/4/2010).

Semasa menjadi Gubernur Jatim, M Noer dikenal sangat disiplin. Almarhum juga dikenal punya ide-ide besar untuk pembangunan Jatim. Salah satunya adalah mencetuskan ide pembangunan Jembatan Suramadu pada masa pemerintahannya.

Jembatan itu baru terealisasi hampir 30 tahun setelah idenya dicetuskan tahun 1970-an. M Noer meninggal dunia pada usia 93 tahun di RS Darmo, Surabaya, Jumat (16/4/2010) pukul 08.50. Sebelum meninggal, ia sudah dirawat selama hampir tujuh bulan di rumah sakit itu karena berbagai penyakit dan usia lanjut. (Kris R Mada)

Sumber: Kompas, Jumat, 16 April 2010

Labels: , , ,

M Noer Dimakamkan di Somor Kompah

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pelayat berdoa di depan jenazah Mohammad Noer, mantan Gubernur Jawa Timur sekaligus sesepuh Madura di rumah duka Jalan Anwari, Surabaya, Jumat (16/4/2010). Mohammad Noer, penggagas Jembatan Suramadu meninggal dunia pada usia 93 tahun di RS Darmo.

Almarhum Mohammad Noer, mantan Gubernur Jatim periode 1967-1976 rencananya akan dimakamkan, Sabtu (17/4/2010) besok sekitar pukul 11.30 di Pemakaman Keluarga, Jalan Merapi, Somor Kompah, Sampang, Madura.

Penggagas pembangunan Jembatan Suramadu ini akan dikebumikan setelah dishalatkan di tiga masjid, yaitu Masjid Al Falah Surabaya, Masjid Agung Bangkalan, dan Masjid Agung Sampang.

"Insyaallah Bapak dimakamkan sebelum dzuhur di pemakaman keluarga Somor Kompah, Sampang. Awalnya, Bapak akan dimakamkan hari ini, Jumat (16/4) tapi akhirnya ibu meminta pemakanan beliau ditunda hingga besok, Sabtu (17/4)," kata putra ketiga almarhum Mohammad Noer, Prof dr Sjaifuddin Noer, Jumat (16/4) di rumah duka, Jalan Anwari 11, Surabaya.

Almarhum Mohammad Noer meninggal dunia sekitar pukul 08.50 di Ruang ICU, Rumah Sakit Darmo, Surabaya. Sesepuh Madura ini meninggalkan seorang istri, delapan anak, 21 cucu, dan 6 cicit. Hingga, Jumat (16/4) siang, dua putra Mohammad Noer masih berada di luar negeri, yaitu putra ke-4 M Sjaifurrachman Noer yang berada di Seatle, USA; dan putra putra ke-2, Prof dr Sjaifullah Noer, yang tengah menghadiri kongres ginjal anak di Paris. (Aloysius Budi Kurniawan)

Sumber: Kompas, Jumat, 16 April 2010

Labels: , , , , ,

Megawati Usulkan M Noer Nama Jembatan Suramadu

Calon Presiden yang juga Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri mengusulkan Muhammad Noer dicantumkan sebagai nama jembatan Suramadu (Surabaya-Madura).

Jembatan sepanjang 5.438 meter yang menghubungkan Surabaya (Pulau Jawa) dengan Bangkalan (Pulau Madura) itu, pemancangan tiang pertama dilakukan Megawati ketika menjabat sebagai presiden, 20 Agustus 2003. Dan peresmiannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 10 Juni 2009. Perkiraan biaya pembangunan jembatan ini mencapai Rp 4,5 triliun.

Megawati menyatakan M Noer adalah tokoh Jawa Timur yang paling berjasa dalam pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura. Penegasan ini disampaikan saat berpidato di hadapan massa pendukungnya di Lapangan Desa Dukuh Sari, Kecamatan Jabon, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (14/6). Hadir di tempat itu calon wakil presiden pasangan Megawati, Prabowo Subianto.

“Dulu yang mencanangkan dibuatnya jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura adalah Bung Karno. Walau presiden berganti-ganti belum bisa ada yang melakukannya,” kata Mega.

Peran M Noer, kata Megawati, Sesepuh Jatim yang mantan Gubernur Jatim itu datang kepadanya dan meminta agar jembatan Suramadu bisa dibangun. “Saat saya menjadi presiden, datanglah, Muhammad Noer dan mengatakan kepada saya jembatan ini (Suramadu) sangat diinginkan oleh masyarakat Surabaya dan Madura,” kata Megawati. Baru setelah Mega menjadi presiden, rencana pembuatan jembatan Suramadu itu bisa terlaksana atas kerja sama yang erat antara Indonesia dengan China.

“Kalau lewat ke sana (jembatan Suramadu), tiang pancang yang di tengah diberikan oleh pemerintah China. Sementara yang lain dikerjakan oleh putra-putri terbaik Indonesia. Tapi, nyatanya, seakan-akan jembatan ini dibuat oleh pemerintahan yang sekarang,” tegas Megawati.

“Yang membuat tiang pancang adalah Ibu Megawati. Jangan suka lupa, kalau barang jadi, mesti dilihat permulaaannya. Ini harus diingiat oleh rakyat Jawa Timur, yang membuat Jembartan Suramadu, asal muasalnya adalah dari seorang perempuan,” kata Megawati lagi yang sempat pula menyinggung soal ini saat berorasi di Turen, Kabupaten Malang.

Megawati menyatakan, ia harus mengatakan yang sebenarnya agar masyarakat mengetahui asal muasal pembangunan Jembatan Suramadu akhirnya bisa tegak berdiri. “Saya mengusulkan pemberian nama Muhammad Noer dicantumkan dalam jembatan Suramadu. Karena beliaulah yang paling berjasa, yang terus menyatakan, jembatan itu perlu dibuat. Itulah cerita yang sebenarnya. Jangan, hanya tiba-tiba selesai lalu dibuka begitu, diresmikan begitu saja,” kata Megawati. (jbp/yat/mif)

Sumber: Surya, Senin, 15 Juni 2009

Labels: , , ,

Jenazah M Noer Akan Dishalatkan di Bangkalan

Jenazah mantan Gubernur Jawa Timur (Jatim) M Noer (Pak Noer) rencananya akan dishalatkan di Masjid Agung Bangkalan, Madura, Sabtu (17/4/2010) besok, sebelum dikebumikan di makam keluarga di Kabupaten Sampang.

Kabag Humas dan Protokol Setda Bangkalan Made Sundami, Jumat (16/4/2010), mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan segala sesuatunya dalam pelaksanaan shalat jenazah untuk sesepuh Madura itu.

“Rencananya, besok (Sabtu ,red) sekitar pukul 07:00 WIB, jenazah Pak Noer akan dishalatkan di Masjid Agung Bangkalan terlebih dulu, sebelum dibawa ke Sampang untuk dikebumikan di sana,” kata Made di Bangkalan, Jumat.

Made menjelaskan, acara penghormatan terakhir terhadap mantan Gubernur Jatim tersebut akan dihadiri sekitar ribuan warga Bangkalan. Mulai dari kalangan pejabat, ulama, dan masyarakat sekitar.

“Undangannya sudah kita sebar pada kalangan kiai, pejabat, dan masyarakat untuk menghadiri acara penghormatan terakhir pada Pak Noer,” kata Made Sundami.

Di samping menyebarkan undangan, sambung Made, kini pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan bagian umum untuk persiapan yang lain, seperti pemasangan tenda di sekitar halaman Masjid Agung.

“Kami berharap warga Bangkalan bisa hadir untuk menyalati almarhum di Masjid Agung. Sebab, jasa-jasa beliau sangat banyak saat menjadi pemimpin Jawa Timur, sekaligus sebagai salah satu penggagas pembangunan Jembatan Suramadu,” katanya.

Menurut Made, pihaknya berharap semoga semua amal ibadah yang telah dilakukan oleh mantan Bupati Bangkalan dan Sampang tahun 1950-an tersebut bisa diterima di sisi Allah SWT.

Mantan Gubernur Jatim M Noer meninggal dunia dalam usia 92 tahun di Rumah Sakit Darmo, Surabaya, Jumat, sekitar pukul 08.45 WIB.

M Noer yang lahir di Sampang itu menjabat sebagai Gubernur Jatim periode 1967-1976 asal Sampang, Madura dan menjadi Duta Besar RI di Prancis. Jenazah almarhum kini disemayamkan di rumah duka Jalan Anwari Nomor 11 Surabaya.

Sumber: Surya, Jumat, 16 April 2010

Labels: , , ,

Mantan Gubernur Jatim M Noer Meninggal Dunia

Masyarakat Jawa Timur berduka. Mantan Gubernur Jawa Timur pada tahun tahun 1967-1976 M Noer meninggal dunia di Rumah Sakit Darmo Surabaya dalam usia 93 tahun.

M Noer sebelumnya memang sudah dirawat di rumah sakit tersebut sejak tujuh bulan lalu atau tepat saat perayaan Idul Fitri tahun lalu.

“Bapak menderita penyakit jantung, selain itu usianya memang sudah sepuh,” kata Syaifuddin Noer, anak sekaligus dokter yang memeriksa almarhum.

M Noer merupakan kebanggaan masyarakat Madura. Karena M Noer adalah putra Madura yang pertama kali berhasl menjadi gubernur di Jawa Timur. Di kalangan warga Madura ada joke, jika ditanya siapa gubernur Jawa Timur, mereka akan menjawab M. Noer. Padahal M. Noer sudah lama pensiun.

Mereka berkelit, M Noer tetap menjadi gubernur mereka sedangkan saat ini yang sedang menjabat hanyalah penggantinya M Noer saja.

M Noer juga kepala daerah pertama kali yang pernah mengusulkan untuk membuat jembatan Surabaya dengan Madura pada masa presiden Soeharto. Dasar pemikiran dia, meski Madura dekat dengan Jawa, namun pembangunan di Madura terhambat karena dibatasi laut.

Maka tak heran, sebelum meninggal M Noer pernah berpesan agar dimakamkan di tanah Kelahirannya di Sampang, Madura dengan melewati Jembatan Suramadu. Selain itu, M Noer juga berpesan untuk disalatkan di masjid Al Falah Surabaya. Selamat jalan Pak Noer.

Sumber: Surya, Jumat, 16 April 2010

Labels: , , ,

Mantan Gubernur Jatim M Noer Wafat

Mantan Gubernur Jawa Timur H Mohammad Noer, yang mencetuskan gagasan pembangunan Jembatan Suramadu pada tahun 1950, meninggal dunia, Jumat (16/4) pukul 08.50 dalam usia 92 tahun. Selama hampir tujuh bulan terakhir, M Noer dirawat di RS Darmo, Surabaya, karena usia lanjut.

M Noer masuk rumah sakit pada 21 September 2009. Selama dirawat, kondisi kesehatannya naik-turun. ”Kondisi mendiang memburuk empat hari sebelum wafat,” ujar putra ketiga M Noer, Prof dr Sjaifuddin Noer.

Sesepuh Madura ini meninggalkan seorang istri, 8 anak, 21 cucu, dan 6 cicit. Jenazah akan dikebumikan di pemakaman keluarga di Desa Somor Kompah, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Sabtu (17/4). Jenazah akan dishalatkan di Masjid Al Falah Surabaya, Masjid Agung Bangkalan, dan Masjid Agung Sampang, sesuai wasiat almarhum. ”Beliau juga berwasiat agar kereta jenazah melewati Jembatan Suramadu dan tidak dimakamkan di makam pahlawan.”

Di rumah duka, kemarin, sejumlah tokoh Jatim melayat, di antaranya mantan Gubernur Jatim Basofi Sudirman, Gubernur Jatim Soekarwo, dan Wali Kota Surabaya Bambang DH.

Suramadu

M Noer pertama kali mencetuskan gagasan pembangunan Jembatan Suramadu saat menjadi wakil bupati untuk wilayah Bangkalan dan Pamekasan, tahun 1950. Karena geram, ia pernah menyatakan akan merenangi Selat Madura jika jembatan tidak kunjung dibangun.

Niat itu batal saat Megawati Soekarnoputri menandatangani Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 2003 tentang Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura. Megawati menancapkan tiang pancang pada 20 Agustus 2003.

Jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 10 Juni 2009. (RAZ/ABK/ANO)

BIO DATA H.RADEN PANJI MOHAMMAD NOER
Nama: Raden Panji Mohammad Noer
Lahir: Sampang,13 Januari 1918
Agama: Islam
Isteri: Mas Ayoe Sid Rachma
Anak: 8 orang (4 Pria & 4 Wanita)

Pendidikan:
1. HLS lulus tahun 1932
2. MULO lulus tahun 1936
3. MOSVLA. lulus tahun 1939

Jabatan:
- Mantan Gubernur Kdh Tingkat I Jawa Timur
- Mantan Duta Besar RepuUlik Indonesia untuk Perancis

Riwayat Pekerjaan:
1. Juli 1939 -Agustus 1949, Pamong Praja
2. Agustus 1949-Maret 1950, Kapten TNI
3. Maret 1950-Januari 1976, Pamong Praja terakhir Gubemur Kdh Tingkat I Jawa Timur mulai Desember 1967-Januari 1976
4. 1973 -1978, Anggota MPR RI
5. Oktober 1976-Oktober 1980, Duta Besar R.I untuk Perancis
6. Agustus 1981-1983, Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
7.1983-11 Maret 1988, Anggota DPA Periode II
8. 1987, Anggota MPR RI
9. 1989-1997, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN)
10. 1989-Sekarang, Ketua Dewan Penyantun seluruh Univ Negeri di SuraUaya dan beberapa Univ Swasta di Surabaya, Jember dan Madura
11. 1980-Sekarang, Ketua Yayasan Jantung Cab. Utama Jawa Timur
12. 1984-sekatang, Ketua Yayasan Asma Wilayah Jawa Timur
13. 1985-sekarang, Ketua Yayasan Aji Dharma Bhakti (bergerak di bidang Sosial Pendidikan) Pemberian beasiswa
14. 2005-sekarang, Dewan Kurator Universitas Al-Zaytun

TandaJasa/Penghargaan:
1. Bintang Gerilya
2 Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
3. Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
4. Satya Lencana Penegak
5. Tanda Kehormatan Bhayangkara
6. BintangYalasena
7. Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama III
8. Dlari Pemerintah Perancis : Odre National Du Merite (Grand Officer)
9.Tanda Pengharg•aan Lencana "MELATI" dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
10. Satya Lencana Kebaktian Sosial
11. Manggala Karya Kencana dari BKKBN
12. Tanda Penghargaan dari Menteri Pemuda & Olah Raga
13. Tanda Penghargaan dari Menteri Keuangan "Pembayar Pajak Penghasilan Perorangan"
14. Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia
15. Piagam Penghargaan Rektor Univ. Airlangga "WIIDYA AIRLANGGA KENCANA" Atas Jasa Prestasinya ikut memajukan dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kemasyarakatan dan Kebudayaan (S.K. Rektor Universitas Airlangga No.3748/PT03.H/P/1993) Tertanggal 13 Nopember 1993

Hobby: Olah Raga (berenang)


Sumber: Kompas, Sabtu, 17 April 2010

Labels: , ,

Dijenguk Tokoh hingga Gubernur

KABAR sakitnya Pak Noer mendapat respons banyak koleganya. Selain anak, menantu, cucu dan cicitnya, banyak teman sesama Madura dan tokoh lain datang ke RS Darmo untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhan mantan gubernur Jawa Timur (1967 - 1976) itu .

Tokoh Madura tampak datang paling pagi adalah mantan Ketua Yayasan Ki Lemah Duwur Husein Suropranoto. Dia adalah sahabat Pak Noer ketika mendirikan Universitas Bangkalan (sekarang Universitas Trunojoyo Madura).

"Bagi saya Pak Noer ini bukan hanya tokoh Jawa Timur. Dia adalah tokoh nasional yang ada di Jawa Timur," ungkap Husein setelah keluar dari ruang ICU.

Menurut dia, Pak Noer merupakan tokoh kunci di banyak hal. Terutama tentang perkembangan dan pembangunan masyarakat Madura dan Jawa Timur. "Tidak salah dan tidak berlebihan kan kalau dia saya sebut tokoh nasional," paparnya.

Ditanya mengenai kemungkinan sembuhnya Pak Noer, Husein enggan berkomentar. Dia hanya ingat Pak Noer sebelumnya tak pernah sakit seperti yang dilihatnya kemarin di RS Darmo.

Tak lama kemudian tampak tokoh Madura yang menjadikan Pak Noer sebagai pembina di organisasinya. Yaitu, Dewan Pembangunan Madura (DPM) yang dimotori oleh Achmad Zaini, Harun Al - Rasyid, dan Anwar Zain.

Kepada koran ini, Harun Al - Rasyid mengaku sangat sedih dengan kondisi pria kelahiran Sampang itu. Sebab, meski sudah berusia lanjut, Pak Noer sebelumnya masih sangat enerjik dan banyak memberikan nasihat terkait pembangunan Madura.

"Jembatan Suramadu yang menjadi cita - cita beliau memang sudah selesai. Tapi, mengawal pembangunan setelah Suramadu sangat butuh orang seperti beliau," katanya.

Achmad Zaini, ketua harian DPM, meminta agar masyarakat Madura di seluruh Indonesia dapat mendoakan Pak Noer. "Saya lihat kondisinya sudah krisis total. Tapi, dengan doa seluruh warga Madura insya Allah (Pak Noer) bisa sembuh. Maka itu saya harap masyarakat Madura bisa mendoakan beliau," harapnya.

Tepat tengah hari, Gubernur Jawa Timur Soekarwo beserta istri dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf juga datang ke RS Darmo. Setelah menyapa beberapa wartawan di areal parkir Pakde Karwo dan Gus Ipul (sapaan gubernur dan Wagub) langsung masuk menuju ruang ICU. Tak lama kemudian keduanya muncul bersama beberapa putra - putri Pak Noer.

Menurut Karwo, Pak Noer merupakan bagian yang telah memberikan banyak semangat dalam pembangunan di Jawa Timur. "Kita doakan Pak Noer untuk kesembuhannya," katannya.

Kapan terakhir berkomunikasi dengan Pak Noer? Karwo mengatakan, terakhir kali bertemu Pak Noer untuk membicarakan pemberdayaan masyarakat Madura. "Sebelum beliau sakit saya sampaikan bahwa kami akan membantu membangun peternakan Madura agar lebih maju. Sebab, potensi itu sangat bisa ditingkatkan. Air bersih di Madura juga kami utamakan," tuturnya. Menurut dia, Pak Noer sangat setuju dengan rencana pemimpin Jatim tersebut.

Pesannya yang lain, imbuh Karwo, dirinya diminta agar menjaga industrialisasi di Madura supaya memiliki nuansa Islami. "Beliau juga meminta agar masyarakat Madura bisa terlibat di dalam berbagai kegiatan industri di Madura," ungkapnya. (nra/mat)

Sumber: Jawa Timur, Jum'at, 25 September 2009

Labels: ,

Pak Noer Kritis

Dirawat di RS Darmo, Kekurangan Natrium - Albumin

RPH Moh. Noer, 91, sesepuh Madura, kini tengah dirawat di Rumah Sakit (RS) Darmo Surabaya. Dalam dua hari terakhir, kondisi mantan gubernur Jawa Timur ini kritis hingga harus dipindah dari ruang rawat inap di paviliun VIP ke instalasi rawat intensif (ICU).

Tokoh Madura yang akrab disapa Pak Noer ini diopname di RS Darmo sejak 20 September lalu, tepat di Hari Raya Idul Fitri. Kesehatannya menurun sejak memasuki Ramadan.

Hingga berita ini ditulis, Pak Noer masih dirawat secara intensif di ICU. Sanak keluarga dan koleganya berdatangan untuk melihat secara langsung kondisinya di ruang ICU. Sayangnya, koran ini tak diperbolehkan mengambil gambar Pak Noer di ruang tersebut.

Beberapa cucu Pak Noer kemudian mengantarkan koran ini ke paviliun VIP nomor 57. Kamar tempat sesepuh Madura itu dirawat sebelum dipindah ke ICU.

Fenny Herawaty Noer, salah satu putri Pak Noer, menceritakan, kesehatan mantan bupati Bangkalan di era 1950 - an itu menurun akibat kekurangan asupan gizi di tubuhnya. Itu disebabkan pria berusia 91 tahun itu enggan meninggalkan ibadah puasa.

"Bapak sebenarnya tidak punya penyakit apa - apa. Sakitnya yang sekarang ini, menurut saya, lebih karena faktor usia," ungkap Waty - sapaannya. Dijelaskan, di usianya yang kian senja, asupan makanan Pak Noer semakin sedikit. Pola makannya berkurang karena fungsi pencernaannya juga menurun.

"Saat masuk bulan puasa kemarin itu Bapak sangat antusias untuk siam (puasa, Red). Beliau sama sekali tidak mau meninggalkan ibadah wajib itu," ujarnya.

Berpuasa tak membuat Pak Noer makan lahap di saat berbuka. Begitu terdengar azan Magrib, dia hanya menyantap sebuah kurma, es buah, dan sedikit makanan ringan. "Setelah itu bapak salat Magrib, Isa, lalu tarawih. Selesai tarawih bapak istirahat, bangun sahur, dan begitu seterusnya," tutur Waty.

Beberapa hari berpuasa kesehatan Pak Noer makin menurun. Genap berpuasa dua minggu, anak - anaknya kemudian meminta dia berhenti berpuasa. "Tapi Bapak menolak. Ke anak - anaknya dia bilang gini: Kalau saya tidak puasa, sapa yang menanggung dosa saya? Saya tidak bisa berhenti puasa," tegas Pak Noer seperti ditirukan Waty.

Sikap keras putra asli Madura itu akhirnya luluh setelah putra - putrinya berkonsultasi dengan tim dokter yang selama ini menjaga kondisi kesehatannya. "Meski beberapa anaknya dokter, Bapak tetap tidak mau berhenti puasa," tandas Waty. Namun, setelah dinasehati dr Abd Syukur, ketua tim dokter, akhirnya Pak Noer berhenti puasa di hari ke - 21 Ramadan. "Tapi, dia masih bersemangat untuk membayar fidyah - nya," ungkapnya.

Kondisi Pak Noer membaik hingga tutup Ramadan. Dia melaksanakan salat Idul Fitri berjamaah di Jalan dr Soetomo yang berdekatan dengan kediamannya. Pulang dari salat Id, Pak Noer menggelar open house untuk sanak saudara dan beberapa koleganya.

Saat menerima tamu, Pak Noer terlihat masih terus berupaya fokus memberikan nasihat - nasihat. Hanya, selama open house kondisinya kembali lemah. Dia hanya sesekali menemui tamu lalu tidur. Padahal, biasanya Pak Noer sangat bersemangat untuk bertemu anak cucu hingga cicitnya untuk bercerita, menasihati, dan menerangkan banyak hal.

"Kami anak - anaknya kembali berkonsultasi pada tim dokter. Hasilnya kami sepakat membawa Bapak ke rumah sakit ini," terangnya. Pak Noer tiba ke RS Darmo tepat pukul 14.00 di hari Lebaran.

Hingga kemarin (24/9) Pak Noer telah dirawat selama lima hari. Masuk ruang rawat inap di paviliun VIP selama dua hari, Pak Noer dipindah ke ruang ICU pada Selasa (22/9). Hasil pemeriksaan tim dokter, Pak Noer mengalami kekurangan natrium (zat garam) dan albumin. "Kata dokternya, ini baru pertama ada orang Madura kekurangan garam," tutur Waty.

Kemarin tim dokter juga meminta keluarga untuk mengadakan rapat terkait kondisi terakhir Pak Noer. "Mas maafkan saya, hasil rapat tadi off the record dulu ya. Bapak kelihatannya masih akan dirawat di ICU," kata Waty usai mengikuti rapat keluarga dengan tim dokter.

Pihak keluarga sangat berharap Pak Noer kembali sehat dan kembali beraktifitas. "Intinya kami sangat mengharap doa dari segenap warga Jawa Timur dan Madura khususnya. Mudah - mudahan Bapak diberi kesembuhan," harapnya. (nra/mat)

Baca juga:
Dijenguk Tokoh hingga Gubernur

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 25 September 2009

Labels: ,

M Noer Tak Disebut, eks Jenderal Marah

Peresmian Jembatan Suramadu, Kamis menyisahkan ketersinggungan mantan jenderal berdarah Madura. Penyebabnya sederhana, bahkan nyaris luput dari perhatian khalayak. Yaitu isi sambutan para pejabat negeri ini yang tidak menyinggung sedikitpun nama sesepuh Madura, M Noer.

Namun bagi mantan petinggi militer ini, luputnya M Noer dalam catatan sambutan gubernur bukan hal sepele. Mantan Komandan Jenderal Akabri, Laksamana (Purn) Abu Hanifah, bahkan menggap pemerintah sengaja menghilangkan sejarah Suramadu ketika tidak menyinggung keringat M Noer terhadap Suramadu dalam sambutannya.

Selain Hanifah, tujuh mantan jendral lain juga mengeluhkan hal yang sama. Yaitu Direktur BAIS, Brigjen (Purn) Poernomo, mantan Kasad, Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar, mantan Kapolri Jenderal (Purn) Roesman Hadi, mantan petinggi Mabes Polri Brigjen (Purn) Abdul Aziz, mantan Kasad, Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar, mantan Kasal Laksamana (Purn) Sutjipto, mantan kepala BASIS Brigjen Purn Ari Sudiwo.

“Kami semua kecewa mengapa Pak Noer seolah oleh diabaikan,” Hanifah. M Noer saat pembukaan kemarin memang duduk di kursi paling depan namun paling pojok bersebelahan dengan kursi mantan gubernur Imam Utomo. Di dalam susunan acara, Noer tidak dijadwalkan memberi sambutan mewakli sesepuh Madura. Padahal agenda ini sempat diperkirakan ada. Kenyataanya tidak hanya diberi panggung sambutan, Noer bahkan tidak disebut dalam sambutan, terutama sambutan gubernur.

Nama Alm Prof Ir Sediyatmo Memang disebut dalam sambutan menteri, Penemu teknologi pondasi cakar ayam ini merancang teknis jembatan yang menghubungkan Jawa dengan Sumatra, Madura dan Bali pada 1960-an. Pada 1986, Presiden kedua RI, Soeharto menamai tiga jembatan itu dengan Tri Nusa Bimasakti.

Namun menurut pengetahuan para mantan jenderal ini, M Noer adalah orang pertama yang memiliki gagasan menyambung Madura dengan Surabaya. Saat itu tahun 1960 dan mantan gubernur Jatim ini masih menjabat sebagai Patih Bangkalan. ” Prof Sediyatmo adalah ahli teknik yang menagkap ide itu dengan penghitungan teknik,” kata Poernomo.

Bagi para eks jenderal ini, M Noer begitu berkeringat memompa pemerintah untuk segera membangun Suramadu. Semua tokoh madura kerap berkumpul di rumah M Noer untuk mendorong proyek ini sampai membentuk Dewan Pembangunan Madura. Bahkan nama besar M Noer tidak isa dilepaskan dengan gagasan Suramadu.

Kata Poernomo, jika mencermati sambutan para pejabat kemarin, seolah-olah warga Madura pasif dan berposisi diberi hadiah oleh pemerintah. Padahal kata dia, mulai gagasan hingga dorongan politis dilakukan tokoh Madura dengan semnagat M Noer. “Meskipun jembatan ini secara teknis dilakukan ahli teknik,” kata Poernomo. (uca)

Sumber: Surya, Kamis, 11 Juni 2009

Labels: , ,

Megawati Usul Nama Jembatan Suramadu Muhammad Noer

Calon Presiden yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnouptri mengusulkan untuk mengabadikan nama mantan Gubernur Jawa Timur, Muhammad Noer, dicantumkan sebagai nama jembatan Surabaya Madura (Suramadu).

Mega, didampingi Prabowo Subianto saat berorasi di depan massa pendukungnya di Lapangan Desa Dukuh Sari, Kecamatan Jabon, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), Minggu (14/6).

Ia menyatakan, M Noer adalah tokoh Jatim yang paling berjasa, jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura ini akhirnya bisa berdiri.

“Dulu, yang mencanangkan dibuatnya jembatan yang menhubungkan Surabaya dan Madura adalah Bung Karno. Berganti-ganti presiden sebelumnya, belum bisa ada yang melakukan,” Mega mengawali ceritanya.

Baru setelah ia menjadi presiden,rencana pembuatan jembatan Suramadu itu bisa terlaksana seiring dibukanya kembali hubungan diplomatik antara Indonesia dengan China. Sesepuh Jatim yang mantan Gubernur, M Noer, kemudian datang kepadanya, meminta agar jembatan Suramadu bisa dibuat.

“Saat saya menjadi presiden, datanglah, Muhammad Noer dan mengatakan kepada saya jembatan ini (Suramadu) sangat diinginkan oleh masyarakat Surabaya dan Madura,” kata Megawati.

Pembuatan jembatan Suramadu kemudian terwujud setelah pemerintah China mau memberikan bantuan.

“Kalau lewat kesana (jembatan Suramadu), tiang pancang yang di tengah diberikan oleh pemerintah Cina. Sementara yang lain dikerjakan oleh putra-putri terbaik Indonesia. Tapi, nyatanya, seakan-akan jembatan ini dibuat oleh pemerintahan yang sekarang,” tegas Megawati.

“Yang membuat tiang pancang adalah Ibu Megawati. Jangan suka lupa, kalau barang jadi, musti dilihat permulaaannya. Ini harus diingat oleh rakyat Jatim, yang membuat Jembatan Suramadu, asal muasalnya adalah dari seorang perempuan,” kata Megawati lagi yang sempat pula menyinggung soal ini saat berorasi di Turen, Kabupaten Malang.

Megawati menyatakan, dirinya harus mengatakan yang sebenarnya agar masyarakat mengetahui asal muasal pembangunan Jembatan Suramadu akhirnya bisa tegak berdiri.

“Saya mengusulkan pemberian nama Muhammad Noer dicantumkan dalam jembatan Suramadu. Karena beliaulah yang paling berjasa, yang terus menyatakan, jembatan itu perlu dibuat. Itulah cerita yang sebenarnya. Jangan hanya tiba-tiba selesai lalu dibuka begitu, diresmikan begitu saja,” kata Megawati. (rachmat hidayat/persda network)

Sumber: Surya, Minggu, 14 Juni 2009

Labels: , ,

M Noer: Suramadu Jangan Jadi Seperti Batam

Pembangunan Jembatan Suramadu tidak bisa dilepaskan dari peran Muhammad Noer, 91.

Mantan Gubernur Jatim periode 1967-1976 inilah yang sedari awal getol mendorong dibangunnya Jembatan Suramadu. Bahkan, ketika masih pegawai biasa di Bangkalan pada 1938, M Noer pernah mengangankan adanya jembatan yang bisa menghubungkan antara Madura dan Surabaya itu. Kini angan-angan tokoh kharismatik asal Madura itu terwujud.

Menurut M Noer, keberadaan jembatan memang amat diperlukan Madura. Sebab, selain akan mempercepat dan melancarkan lalu lintas manusia dan barang dari dan ke Madura, jembatan itu bisa pula memangkas penguasaan feri. Feri selama ini menjadi satu-satunya pilihan transportasi publik jurusan Surabaya-Madura (atau sebaliknya).

Yang lebih penting lagi, imbuhnya, adalah tidak berhenti memanfaatkan keberadaan Jembatan Suramadu hanya sebagai jembatan penyeberangan. Jika jembatan itu sudah bisa mempercepat dan melancarkan hubungan/lalu lintas Jawa dan Madura, maka selanjutnya adalah mengidentifikasi potensi-potensi di Madura yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan jembatan itu.

Di sektor pariwisata, di ujung timur Madura, yakni Sumenep, objek-objek turisme yang bagus sekali tersedia banyak. Banyak pantai dengan pasir yang indah di sana. Di perairan Sumenep juga banyak tersimpan sumber daya alam berupa tambang.

Yang harus diperhatikan, kata M Noer, jangan sampai warga asli Madura hanya sebagai penonton sedangkan orang lain menjadi pemain, dan makin gencar menyerbu Madura setelah beroperasinya jembatan.

Pak Noer sendiri, lewat yayasannya yang bekerja sama dengan ITS, mencoba mendukung peningkatan kualitas SDM Madura dengan menampung anak-anak yang berprestasi dan potensial dari 4 kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep).
“Mereka akan dididik untuk menjadi SDM handal, yang suatu saat mampu memberi sumbangsih bagi kemajuan Madura,” kata M Noer.

Pak Noer berharap Madura tak menjadi seperti Batam, yang berkembang maju namun beriringan pula dengan berkembangnya penyakit masyarakat seperti pelacuran. Karena alasan inilah, ia juga kurang setuju jika badan pengelola Jembatan Suramadu meniru Badan Otorita Batam. Selain dianggap gagal akibat kewenangannya yang melampaui otoritas pemda terkait, Badan Otorita Batam juga dinilai tak berhasil membendung merajalelanya penyakit masyarakat di sana.

Melihat kegagalan Batam, sempat para kiai di Madura tidak menyetujui pembangunan Jembatan Suramadu. Tetapi, berkat upaya M Noer untuk meyakinkan para kiai itu tentang manfaat Jembatan Suramadu, akhirnya mereka bisa menerima.

“Butuh waktu dua tahun untuk melakukan pendekatan pada para kiai itu. Yang jelas, dibutuhkan peran pro aktif masyarakat untuk menghindari munculnya ekses negatif dari keberadaan Jembatan Suramadu seperti pelacuran,” tutur M Noer.

Noer juga tidak setuju penggratisan untuk para pelintas jembatan. “Kalau digratiskan, biaya perawatanya dari mana? Jembatan itu harus dipelihara, dan untuk memelihara tidak bisa mengandalkan dana pemerintah saja. Tapi harus ada partisipasi rakyat,” jelas Noer. (k6)

Sumber: Surya, Selasa, 9 Juni 2009

Labels: , ,

Gubernur Jatim Minta Maaf kepada M Noer

Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo, meminta maaf kepada mantan gubernur dan sesepuh masyarakat Jatim, M Noer selaku pencetus ide pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu).

“Kami akan mengajukan surat permintaah maaf kepada Pak Noer,” katanya saat ditemui setelah menjadi pembicara dalam seminar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Kamis (11/6).

Soekarwo mengaku, lupa tidak menyebut nama salah satu mantan Gubernur Jatim itu dalam sambutan peresmian Jembatan Suramadu di Dusun Sumber Wungu, Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura, Rabu (10/6).

“Tidak ada unsur kesengajaan. Pak Gunarto (Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim) lupa tidak mencantumkan nama Pak Noer, karena mungkin terburu-buru,” kata Soekarwo.

Dalam sambutan peresmian, dia menyatakan, terima kasih kepada para ulama, kiai, tokoh agama, tokoh masyarakat di Madura dan Surabaya. Soekarwo juga berterima kasih kepada masyarakat Madura yang telah rela melepaskan lahannya untuk proyek tersebut.

Hal itu memicu protes dari Ketua Umum Pembangunan Madura, Ahmad Zaini.

“Tidak disebutnya nama M Noer sebagai tokoh pencetus gagasan Jembatan Suramadu, merupakan upaya penghilangan sejarah dalam momen yang sangat bersejarah untuk bangsa Indonesia ini,” katanya.

Selain kepada Gubernur Jatim, dia akan mengajukan protes kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meresmikan pemanfaatan jembatan itu. (ant)

Sumber: Surya, Kamis, 11 Juni 2009

Labels: ,