Kongres I Bahasa Madura

Kongres I Bahasa Madura yang akan digelar di Pamekasan, Madura, 15 hingga 19 Desember 2008 mendatang, tak hanya dihadiri para tokoh dan budayawan regional dan nasional, tapi juga akan dihadiri pemerhati budaya Madura dari Jepang. "Pemerhati Budaya Madura dari Jepang yang kami undang adalah Prof Dr Okamoto Masaaki dari Universitas Kiyoto, Jepang," kata Sekretaris Panitia Kongres I Bahasa Madura, Khalifaturrahman di Pamekasan, Minggu (14/12). Kongres bertema 'Revitalisasi Pembinaan dan Pelestarian Bahasa dan Sastra Madura'. Okamoto Masaaki akan memberikan pandangan pemikiran seputar budaya dan tradisi warga Madura sebai bahan pertimbangan panitia dalam memasukkan poin rekomendasi kongres. (ANTARA)

Sumner: Kompas, 15/12/2008

Labels: , , , , ,

Kongres Kebudayaan Madura

Sebuah Langkah Penyelamatkan Kebudayaan Adiluhung


HIDUP yang keras dan kekerasan telah menjadi stereotipe etnis bagi orang Madura yang melekat sampai sekarang. Seperti carok, yakni perkelahian dengan menggunakan senjata tajam, yang masih kerap terjadi hingga sekarang, menperkuat pandangan negatif orang luar kepada orang Madura.


Padahal, banyak orang luar Madura yang pernah singgah di Pulau Garam ini mengaku bahwa orang Madura adalah orang yang ramah, jauh dari sangkaan negatif tersebut. Sesungguhnya, masih banyak nilai-nilai adiluhung dari kebudayaan Madura yang belum dikenal oleh orang luar.


Sesungguhnya pula, banyak nilai-nilai budaya dan karya-karya seni-budaya bertebaran di Pulau Madura. Nilai-nilai dan karya-karya budaya itu sampai sekarang masih hidup di tengah masyarakat. Bahkan, dengan sejarah tingginya migrasi orang-orang Madura, nuansa Madura masih sangat terasa di Jawa Timur bagian timur, mulai Bangil hingga ke Banyuwangi. Jadi, kebudayaan Madura telah mengalami difusi ke luar.


Kongres Kebudayaan Madura yang bakal digelar di Songennep (Sumenep) pada 9-11 Maret 2007, sebagai salah satu langkah menyelematkan kebudayaan Madura. "Kita berharap bisa melihat konvigurasi kebudayaan kita dewasa ini dan menyiapkan strategi kebudayaan untuk masa depan masyarakat Madura yang lebih baik dalam berbagai aspeknya. Dalam kehidupan global dewasa ini, dimana kebudayaan cenderung bersifat maya dan mengambang, tradisi dan kebudayaan lokal merupakan tanah tempat kebudayaan kita begitu konkret dan berakar kuat, serta mungkin menjuntaikan buah yang ranum ke dunia luar. Dengan cara itu, kebudayaan Madura akan memberikan sumbangan berarti pada kebudayaan nasional, bahkan kebudayaan global," kata Jamal D. Rahaman, Pemred Majalah Horison yang merupakan putra Sumenep.


Perlu diakui pula, arus modernisasi lambat laun telah menggerus nilai-nilai budaya masyarakat Madura. Kita tidak bisa menyalahkan arus modernisasi itu, kecuali kita punya kearifan lokal yang bisa membendungnya. Salah satu contohnya, Bahasa Madura yang menjadi salah satu unsur penting dari kebudayaan Madura, nyaris tak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, dalam konsep kebudayaan, bahasa menunjukkan bangsa.


Begitu juga dengan masih rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar dari masyarakat Madura, menjadi salah satu faktor tidak berkembangnya kebudayaan Madura. Dari tahun ke tahun, kebudayaan Madura mengalami stagnasi. Belum ada upaya serius dari pemerintah atau masyarakat Madura sendiri untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan dan hasil karya kebudayaan Madura.


Masyarakat Madura yang mayoritas bergama Islam, dikenal sebagai penganut Islam yang kuat. Corak kehidupan masyarakat dilandasi agama dan kultur Islam yang masih kuat dalam pola hidup kesehariannya. Di masyarakat Madura, menurut Abdurahman (1991), tidak dikenal Islam abangan. Sebab, katanya, golongan yang bukan santri hampir tidak ada, karena orang Madura hampir semuanya pernah mengaji di pondok pesantren/madrasah-madrasah atau langgar.


Seiring dengan arus modernisasi yang terus menggempur masuk Madura, tidak mengubah tradisi dan kultur masyarakat Madura secara besar-besaran. Namun demikian, benturan antara budaya tradisional dengan modern memang tidak dapat dielakkan. Di sinilah pondok pesantren punya peranan penting bagi masyarakat dan kebudayaan Madura, terutama dalam pendidikan moral dan agama.


Begitu juga dengan pembangunan jembatan Suramadu, akan semakin membuka Madura dari dunia luar. Arus barang, jasa, juga orang akan lebih padat, yang bisa membawa peradaban baru masuk Madura. Apalagi jika kemudian muncul industrialisasi Madura. Tentunya, itu adalah tantangan bagi masyarakat Madura untuk berusaha agar kulturnya tidak terkikis. Jika bukan masyarakat Madura sendiri yang melakukan, siapa lagi? Jawabnya, orang Madura sendiri yang bertanggung jawab terhadap kebudayaannya.


Maka, tantangan bagi penyelamatan kebudayaan Madura sungguh sangat besar. Dengan berbagai kompleksitas di atas, dalam Kongres Kebudayaan Madura bakal membahas secara komprehensif 3 pokok pikiran. Yakni, Orang Madura, Pendidikan dan Pesantren, dan Seni Budaya, dan Bahasa Madura. Ketiga pokok pikiran itu akan dibahas dalam 3 komisi pula.


Perkembangan yang menarik, setelah diadakan pra kongres di Pamekasan pada 3 Maret lalu, budayawan yang hadir dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep sangat merespons dan mendukung Kongres Kebudayaan Madura ini. Saat pra kongres, yang banyak dibahas adalah soal Bahasa Madura dan seni budaya Madura. Dengan memprediksi bakal "beratnya" pembahasan, maka di Komisi Seni, Budaya, dan Bahasa dipecah lagi menjadi tiga komisi, yakni subkomisi kesenian, subkomisi budaya, dan subkomisi Bahasa Madura.


Yang menarik juga, para peserta pra kongres mengingatkan tindak lanjut pasca kongres. Mereka berharap, selain menghasilkan keputusan-keputusan dan rekomendasi, ada tindak lanjut konkret pasca Kongres Kebudayaan Madura. Ada yang mengusulkan perlu dibentuk Dewan Kebudayaan Madura, yang anggotanya para pegiat seni dan budaya se Madura.


Sesungguhnya, masih banyak pekerjaan rumah bagi masyarakat Madura untuk menyelematkan dan mengembangkan kebudayaannya. Hal ini bukanlah tanggung jawab orang perorang, lembaga perlembaga, tapi tanggung jawab semua elemen masyarakat Madura. Baik yang berada di Madura sendiri maupun yang di luar Madura sana. Tanpa suntikan "darah" semangat itu, mustahil kebuadayaan Madura bisa diselamatkan dari gerusan kebudayaan global. Mengutip judul puisi D. Zawawi Imron: "Madura Akulah Darahmu". (mat)


Sumber: Jawa Pos, Senin, 05 Mar 2007

Labels: , , , ,

Budayawan Madura Mantapkan Kongres

Pamekasan, Jawa Pos - Meski Kongres Kebudayaan Madura (KKM) masih dihelat 9 Maret mendatang, kemarin budayawan se Madura berkumpul di Pamekasan. Itu terkait dengan hal-hal penting yang akan dibahas dalam helat KKM mendatang. Pada kongres ini, akan dipertajam materi di komisi-komisi manusia Madura, pendidikan dan pesantren, dan seni, budaya, dan bahasa daerah.


Saat memberi sambutan, budayawan asal Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirjo, menilai KKM sebagai harapan. Alasan dia, sejauh ini banyak pihak yang prihatin terhadap kebudayaan Madura. Baik menyangkut kebahasaan, perilaku, dan hal lain menyangkut SDM Madura. Apalagi, katanya, sebagian warga Madura terkesan kurang memiliki nasionalisme atas tanah kelahirannya. Ini dibuktikan dengan enggannya warga Madura mengakui kemaduraan dirinya ketika berada di luar Madura. "Kongres, barangkali tonggak kebangkitan menuju Madura yang lebih baik," Wabup Pamekasan ini.


Sementra Ketua Dewan Kesenian Mekkasen Syafiudin Miftah mengatakan, KKM memang diperlukan muncul untuk lebih mendisain Madura masa depan. Baik yang berkait dengan kebahasaan, kesenian, dan hal lainnya menyangkut kebudayaan. Tetapi, katanya, dalam sisa waktu sebelum kongres digelar 9 Maret mendatang, budayawan pantas bila bersilaturahim agar lebih fokus saat berada di arena kongres. "Bahwa kongres perlu dapat dipahami, tetapi apa yang akan disumbangkan, tidak kalah penting," katanya.


Menanggapi masukan budayawan se Madura, Ketua Panitia Januar Herwanto mengaku dapat memahami. Dia bilang, kongres dibuat sederhana dengan mengedepankan esensi bahwa Kebudayaan Madura penting dikukuhkan secara kultural. Dalam KKM, katanya, ada beberapa bidikan awal yang hendak diusung. Yakni, mengenai kebahasaan, kemanusaiaan, pendidikan pesantren, dan kesenian etnik lainnya di Madura.


Dia bilang, beberapa pihak telah dihubungi baik yang berada di dalam dan luar negeri. Bahwa ada kemungkinan ada kekurangan, budaywan Madura dirasa penting membuat KKM lebih sempurna. "Kami ingin dalam kongres mengalir dulu, karena kami yakin akan ketemu muaranya," katanya.


Dalam silaturahim budayawan se Madura ini, dari Bangkalan hadir antara lain Hasan Sastra, Sunarto Rastarja, Eroni, Khairul Anwar, dan Eroni. Dari Sampang, terlihat M. Syahid, Solahur Rabbani, dan Daud Bey. Sedangkan dari tuan rumah Pamekasan, DR A. Djamaludin Karim, M. Yusuf Suhartono, Chairil Basyar, Muakmam, Dradjit, dan Khalifaturahman. Dari Sumenep, Edy Setiawan, Fauzil Adim, Faaizi, dan Pemred Radar Madura M. Tojjib. (abe)


Sumber: Jawa Pos, Minggu, 04 Mar 2007

Labels: , , , , , ,

Dari Musyawarah Para Seniman di Kabupaten Pamekasan

Berhasil Bentuk DKP Setelah Sepuluh Tahun Berlalu. Di Pendopo Budaya Jl Jakatole, puluhan seniman bertemu. Berbeda dari pertemuan yang digelar biasa, silaturahim antarseniman kemarin khusus mendialogkan urgensi DKP (Dewan Kesenian Pamekasan) yang layak dibentuk. Kemudian, DKP pun terbentuk meski terhitung efektif 2007 mendtang. Mengapa?

Oleh: ABRARI, Pamekasan

Perbincangan seniman, tidak selalu menyoal soal budaya dan proses kreatif dalam kesenian. Melainkan, dalam seniman juga lihai "berpolitik". Terutama, berkait dengan siapa yang layak jadi Ketua DKP untuk 3 tahun ke depan sampai tahun 2010. Bahkan, lewat proses politik mengacu pada tatib pemilihan, nama calon pun bermunculan. Hingga, Syafiuddin Miftah, berhasil memimpin perolehan suara, mengungguli calon kuat lainnya, Bob Chandra Musthafa.

Pada putaran pertama, banyak nama muncul sebagai kandidat. Diantaranya, Yayan KS, Brojol Senoaji, Kartolo, Bambang Hartono, dan beberana nama lainnya. Hanya, yang dianggap layak menjadi calon, adalah balon (bakal calon) yang sekurang-kurangnya didukung 10 suara. Yakni, Syafiudin Miftah dan Bob Chandra Mustafa. Duel seniman ini pun kembali bertarung menunjuk puncak untuk menjadi orang pertama di DKP. Pasca perhitungan suara, Syafiudin Miftah unggul (39 suara) dari kandidat lainnya, Bob Chandra Mustafa (22) suara.

Ditemui usai pembentukan dan pemilihan Ketua DKP, Kasi Kebudayaan Khalifaturrahman menilai DKP sebagai lembaga yang pantas berdiri. Ini, untuk mengkoordinasi lembaga seni yang telah bermunculan di seantero Pamekasan. Dia bilang, bila pada akhirnya DKP baru muncul, bukan berarti terlambat dari wacana pembentukannya sejak 1987 lalu. Melainkan, proses dan dialog belum selesai terkait pembentukan DKP. Menurutnya, lewat proses yang memekan waktu sepersepuluh abad, DKP pun lahir di ujung tahun ini. "Kami berharap DKP ini bisa eksis," paparnya.

Dihubungi pasca pemungutan suara, Ketua DKP Syafiudin Miftah menyambut baik didirikannya DKP, siapa pun yang menjadi ketuanya. Bagi pria yang akrab disapa Bang Dut ini, yang terpenting kerja sama untuk berkreativitas, berkesenian menyongsong sinyal budaya pasca Suramadu. Yang harus dicatat, seorang Ketua DKP diakuinya tidak akan berperan banyak dalam memajukan DKP. Ini, bila tidak didukung sesama seniman baik yang ada di dalam maupun luar DKP. "Bismillah, semoga DKP ini membawa berkah kebudayaan," katanya.

Sementara, Bob Chandra Mustafa, meminta pemerintah terus berperan. Dia bilang, peran pemerintah tidak hanya selesai mengantar DKP sampai terealisasi di ujung tahun ini. Pasca DKP, proses berkesnian masih perlu berjibaku dalam kreativitas. Suatu saat nanti, katanya, setelah ada Pendopo Budaya dan Dewan Kesenian, Pamekasan saatnya nanti perlu memiliki GKP (Gedung Kesenian Pamekasan). Ini, bukan semata-mata Pamekasan sebagai kota pelajar dan budaya-nya Madura, melainkan sebagai kelengkapan dan penunjang proses kreatif. "Mudah-mudahan, proses kreatif ini tetap hidup dan berlanjut terus," pungkasnya. (*)


Sumber: Jawa Pos, 03 Des 2006

Labels: , , , , , ,