Di Madura, Investor Minim Karena Jalan Rusak

Jalan Bangkalan-Sampang rusak, Pamekasan-Sumenep sempit

Add caption

Aktifnya jembatan Suramadu tahun 2009 lalu diharapkan mampu meningkatkan pembangunan di Madura. Faktanya, sejumlah kalangan menilai pembangunan di Pulau Garam -- sebutan Pulau Madura -- masih lambat. Investor enggan menanamkan modalnya karena infrastruktur jalan di pulau ini diangga tidak mendukung, kerusakan jalan terjadi hampir merata di empat kabupaten di Madura.

Saat ini, jalan provinsi yang ada, kerusakan terparah terjadi di antara Kabupaten Bangkalan hingga Sampang. Sedangkan di ruas Pamekasan hingga Sumenep jalannya sangat sempit.

“Salah satu faktor yang membuat investor enggan berinvestasi di Madura karena tidak didukung dengan infrastruktur jalan yang memadai. Padahal pasca pembangunan jembatan Suramadu, butuh percepatan pembangunan di berbagai bidang, tapi konsep tersebut sulit direalisasikan selama sarana dan prasarananya tidak dibenahi,” tegas Haryono Abdul Bari, Wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim saat dihubungi, Sabtu (20/8).

Haryono yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat (PD) Kabupaten Sampang itu menjelaskan jika perbaikan infrastrutur jalan tidak hanya dibebankan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jatim, tapi juga menjadi tanggung jawab masing-masing pemerintah kabupaten (pemkab) di Madura. Karena penyebab kerusakan ruas jalan akibat genangan air sehingga dapat menggerus aspal jalan.

“Saya memantau ruas jalan yang paling rusak parah terletak di jalur Bangkalan-Sampang, sedangkan ruas jalan yang sangat sempit sepanjang jalur Sampang-Pamekasan. Namun perbaikan jalan itu akan sia-sia jika Pemkab setempat juga tidak memperbaiki saluran drainase di bahu jalan, karena genangan air menjadi pemicu kerusakan jalan, “ tukasnya.

Selain itu, tambah, Haryono, faktor geografis tanah di Madura yang bergerak juga merupakan penyebab kerusakan jalan, sehingga harus mengunakan teknik lain agar jalan yang telah diperbaiki tidak cepat rusak. Disisi lain, keterbatasan dana APBN dan APBD tidak mungkin dapat memperbaiki semua ruas jalan yang rusak. “Paling tidak ada skala prioritas untuk jalan yang rusak parah, harus segera diperbaiki,” tandasnya.

Dia menyatakan, tingkat kerusakan jalan provinsi di Madura cukup parah, sehingga tidak mungkin dilaksanakan dengan hanya tambal sulam. Terutama di wilayah yang masuk jalur tengkorak misalnya Jl Raya Jrengik dan Torjun karena sering terjadi kecelakaan lalu lintas, akibat ruas jalan sempit dan berlubang, memerlukan penanganan serius.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas PU Bina Marga Provinsi Jatim, jalan yang mengalami rusak berat jalur Sampang hingga Kecamatan Ketapang sepanjang 2,77 kilometer (km), jalur Sumenep sampai Pantai Lumbang sepanjang 4,22 km. Sedangkan ruas jalan yang masuk katagori rusak, di ruas Bangkalan hingga Batas Sampang sejauh 8,78 km, Kecamatan Ketapang Sampang sampai Batas Pamekasan mencapai 10,25 km dan jalur Sampang - Ketapang panjangnya 23,65 km. Total kerusakan jalan provinsi panjangnya mencapai 49,67 km. (rud)

KERUSAKAN JALAN PROVINSI DI MADURA

JALAN RUSAK BERAT PANJANG

Sampang-Kecamatan Ketapang 2,77 km
Sumenep-Pantai Lumbang 4,22 km

JALAN KATEGORI RUSAK

Bangkalan-Batas Sampang 8,78 km
Kecamatan Ketapang (Sampang)-Batas Pamekasan 10,25 km
Sampang-Ketapang 23,65 km

TOTAL KERUSAKAN JALAN PROVINSI 49,67 km.

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 20/08/2011

Labels: , , ,

Presiden Didesak Bangun Madura

Diharapkan Nilai Kebudayaan Tidak Turun

Dewan Pembangunan Madura (DPM) beserta sejumlah tokoh masyarakat menagih janji pemerintah untuk membangun pulau garam setelah Jembatan Suramadu berdiri.

Ketua Umum DPM, H Achmad Zaini MA, Selasa (16/3), mengatakan, desakan kepada Presiden SBY itu disampaikan saat DPM dan sejumlah tokoh masyarakat Madura bertemu dengan Menteri PU, Ir Joko Kirmanto di Jakarta 12 Maret 2010. Hadir pula dalam pertemuan itu, Kepala Badan Pengembangan Wilayah Suramadu, Edy Poerwanto dan Ketua DPRD Jatim H, Imam Sunardhi.

Di depan Menteri PU, kata Zaini, pihaknya menyatakan bahwa masyarakat Madura berharap pemerintah membangun pulau kaya garam ini segera diwujudkan pada 2011 sebagaimana dijanjikan. Apalagi, Jembatan Suramadu sudah rampung dan diresmikan pemakaiannya pada16 Juli 2009.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan Perpres 27/2008 tentang pembentukan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS). Untuk dapat menarik banyak investor, diusulkan agar Madura ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Ekonomi Strategis (KES).

Menurut Zaini, materi pokok penjabaran usulan itu terdiri dari beberapa poin penting. Antara lain agar ditetapkan alokasi gas bumi untuk masyarakat Madura untuk bahan bakar power plan sebagai energi industri pupuk, garam, perangkat pelabuhan, pengelolaan air bersih, dan distribusinya serta industri-industri kecil. Selain itu, DPM juga mengusulkan untuk percepatan pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan tol dari Bangkalan ke Sumenep di lintas utara sepanjang 300 kilometer.

Selain itu, dewan juga mengusulkan pengembangan SDM berupa pendirian sekolah SMK dan berbagai kursus keterampilan. Juga mengusulkan agar melakukan penguatan kelembagaan serta modal UKM sebagai penggerak sektor riil melalui program CSR/PKBL dan lembaga pembiayaan pemerintah lainnya.

Lebih jauh dijelaskannya juga dalam pembangunan tersebut, nilai kebudayaan Madura yang Islami tidak mengalami penurunan bahkan diharapkan semakin baik. Dalam pelaksanaan pembangunan, DPM akan berperan sebagai pengawas dalam pembangunan, pengelolaan dan pembangunan potensi masyarakat bekerja sama dengan pemerintah daerah, pusat, dan pihak ketiga, investor dan BPWS. (jos)

Sumber: Surya, Rabu, 17 Maret 2010

Labels: , , ,

Siapa Saja Bisa Jadi Pejabat

Bupati Kholil mengungkapkan hal itu dalam acara pisah kenal Kajari Pamekasan dari Kadarsyah SH kepada penggantinya, Rahmat Dharma SH, di halaman Kejari Pamekasan, Selasa (9/3) malam. Acara pisah kenal ini dihadiri Wakil Bupati Drs Kadarisman Sastrodiwirjo MSi dan para pejabat teras Pemkab Pamekasan, Muspida, alim ulama, serta elemen masyarakat lainnya.

Karena orang Madura damai dan toleran, kata Bupati Kholil, siapa saja dan dari mana asalnya, bisa menjadi pejabat di Madura dan siapa pun pejabat itu pasti bisa bekerja dengan baik karena senantiasa didukung oleh orang Madura. Bukti bahwa Pamekasan dan Madura aman dan damai bisa dilihat dari keberhasilan sejumlah pejabat asal luar Madura.

Ia menunjuk Kadarsyah SH, yang menjabat sebagai Kajari Pamekasan sekitar 1 tahun 7 bulan di Pamekasan, sebagai contoh. “Saat beliau memimpin Kejari Pamekasan, suasana aman damai, bahkan beliau terpilih sebagai Kajari terbaik di Indonesia,” katanya.

Suasana damai dan toleran bisa terwujud, karena masyarakat Madura mayoritas muslim yang religius dan selalu menghormati orang lain. Jika ada orang luar Madura yang baik, maka orang Madura akan lebih baik, seperti saudara sendiri. Namun jika sebaliknya, maka orang Madura juga bisa keras.

“Apalagi kami di Pamekasan punya motto Gerbang Salam, yakni Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami. Ini sangat besar pengaruhnya bagi masyarakat untuk menampilkan nilai-nilai islam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Bupati Kholil.

Kadarsyah, yang akan menjabat Asisten Intelejen Kejati Jateng, membenarkan pernyataan Bupati Kholil. “Bapak Bupati yang kiai sangat mendukung kerja kami, akhirnya kami bisa kerja tenang dalam penegakan hukum. Alhamdulillah, hubungan kami dengan Pemkab dan Muspida semuanya berjalan dengan baik,” katanya.

Sementara itu Rahmat Dharma SH minta dalam menjalankan tugasnya mendapat dukungan sepenuhnya dari semua elemen masyarakat. “Kami akan melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai pendahulu kami. Mohon dukungan,” pintanya. (MASDAWI DAHLAN)

Sumber: Surabaya Pos, Rabu, 10 Maret 2010

Labels: , , ,

Besok Listrik Madura Normal

Dikerjakan Tenaga Lokal

Jaringan listrik di Pulau Madura mulai Selasa (2/3) diperkirakan kembali normal, setelah selama dua bulan mengalami gangguan pemadaman.

Penyebabnya, karena salah satu sirkit saluran kabel bawah laut tegangan tinggi (SKLT) 150 KV di Selat Madura itu putus karena tersangkut jangkar kapal pada 4 Januari lalu.

Manajer PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Region Jatim dan Bali (RJTB), Asep Burhan mengatakan, kembali normalnya listrik Madura itu seiring dengan rampungnya pekerjaan penyambungan SKLT.

“Dengan memakai sekitar 50 tenaga kerja sendiri, kami melakukan pekerjaan penyambungan selama sebulan ini,” ungkap Asep kemarin.

Ia mengaku, sengaja mengerahkan tenaga lokal sebagai upaya penghematan. Langkah ini ternyata mampu menghemat anggaran PLN hingga Rp 6,3 miliar.

Sebelumnya, ia pernah melibatkan tenaga lokal saat kejadian serupa pada 2005-2006, juga menghemat Rp 6,3 miliar. PLN pernah memakai jasa tenaga kerja asing dari Inggris dan Italia.

Wakil Project Manager pada pekerjaan SKLT 2010, Sudirman mengakui, pekerjaan yang terberat adalah saat timnya bersama penyelam mencari kabel yang rusak di bawah laut, karena derasnya arus dasar laut Selat Madura.

“Untuk kegiatan ini saja, butuh waktu sekitar tiga pekan. Kami harus mengganti kabel yang rusak parah sepanjang 262 meter,” ujar Sudirman.

Untuk pekerjaan penyambungan masing-masing sisi butuh waktu 5-6 hari. “Jadi, kami harus menyewa kapal berikut peralatannya untuk sandar di tengah laut hingga pekerjaan selesai,” jelasnya.

Senin (1/3) ini, diperkirakan pihaknya akan membenamkan kabel yang telah tersambung sedalam 24-30 meter.

“Selanjutnya akan dicek secara keseluruhan dan jika sudah sempurna, keesokan harinya bisa dipastikan sudah bisa dioperasikan,” imbuh Sudirman. (ndio)

Sumber: Surya, Senin, 1 Maret 2010

Labels: , , ,

Listrik Madura Masih Rawan

Pencarian Kerusakan Belum Tuntas, Butuh 1,5 Bulan

Pelanggan listrik di Madura masih harus sabar menunggu agar pasokan energi listrik kembali normal. Pascaputusnya kabel listrik bawah laut akibat terkena jangkar kapal KM Kirana III, Senin (4/1) lalu, hingga saat ini pencarian kerusakan belum tuntas.

Manajer Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) PT PLN Region Jatim dan Bali, Asep Burhan mengatakan, tim penyelam dan teknisi PLN masih melakukan pencarian titik kabel di laut yang putus. Hasilnya, hanya satu bagian kabel yang putus berhasil ditemukan, sedang bagian lainnya belum ditemukan.

Jika titik kerusakan telah ditemukan, pihaknya baru bisa melakukan perbaikan yang diperkirakan butuh waktu sekitar 1,5 bulan. Untuk tahap ini, ia melibatkan tim PLN Distribusi Jatim dan Pembangkitan Jawa Bali.

“Kita berusaha segera menyelesaikan perbaikan ini. Kami minta pelanggan PLN di Madura sabar,” papar Asep, Senin (11/1).

Soal biaya perbaikan kabel, Asep mengaku belum bisa memperkirakan karena masih dalampenghitungan. Informasinya sekitar Rp 12,5 miliar.

Ia mengatakan bahwa dana perbaikan maupun beban biaya pengoperasian listrik sementara ke Madura masih dalam proses pihak berwenang. “Kita tunggu hasil dari proses hukum,” tegas Asep.

Menurutnya, selama masa perbaikan kabel bawah laut, pihaknya mengandalkan satu sirkit kabel bawah laut berkapasitas 100 MW. Jaringan kabel ini mampu menyuplai kebutuhan sekitar 500.000 pelanggan di 4 kabupaten di Madura, di mana saat beban puncak mencapai 130 MW. Sedang kekurangannya dipasok dari PLTG di Gili Timur berkapasitas 2×17 MW.

“Dengan kondisi ini, terkadang saat beban puncak ada daerah yang padam. Namun saat ini kondisinya normal,” ujar Asep.

Ia menambahkan, PLN saat ini juga tengah menyelesaikan pemasangan dua sirkit kabel bertegangan 200 MW sepanjang 8 kilometer melalui jembatan Suramadu, yang dijadwalkan beroperasi Maret nanti. “Pengerjaannya sudah 80 persen,” tegasnya.

Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jatim Agus Widayanto menjelaskan, untuk mengoperasikan PLTG itu dibutuhkan biaya cukup besar, mengingat bahan bakarnya menggunakan solar akibat ketiadaan pasokan gas. Bahkan diprediksi, alokasi dana selama perbaikan kabel bawah laut mencapai Rp 28,56 miliar.

Seperti diketahui, kabel listrik bawah laut milik PT PLN terkena jangkar KM Kirana III milik PT Dharma Lautan Utama (DLU). Kabel yang merupakan jaringan listrik interkoneksi Jawa Bali itu digelar di kawasan anchor free zone. Di kawasan ini kapal tidak dibolehkan lego jangkar.

Direktur Utama DLU Bambang Harjo mengatakan, cuaca buruk menyebabkan kapal terseret ombak sehingga jangkarnya memutus jaringan kabel PLN.

Karena itu, ia berharap PT PLN tidak begitu saja membebankan kerugian kepada DLU. “Seandainya harus membayar ganti rugi, ia berharap besarannya disesuaikan dengan kemampuan perusahaan,” kata Bambang. (ndio)

Sumber: Surya, Selasa, 12 Januari 2010

Labels: , , , , ,

Setelah 5 Jam Mati, Listrik Madura Normal Kembali

Pulau Madura selama hampir lima jam, mengalami listrik padam total (black out) pada Senin malam (4/1), setelah kabel bawah laut di Selat Madura terputus terkena jangkar kapal. Hari ini (Selasa 5/1), PT PLN berhasil menormalkan jaringan dengan mengunakan kabel cadangan.

”Setelah sempat mengalami padam total selama hampir lima jam, listrik di Madura kembali menyala sejka pukul 02:00 dini hari setelah mempergunakan kabel cadangan,” kata Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jawa Timur Agus Widayanto kepada Media Indonesia di Surabaya, Selasa (5/1).

Listrik di seluruh Madura padam total akibat kabel bawah laut yang menghubungkan PLTU di Gresik dengan Madura, terputus akibat terkena jangkar kapal Kirana 3.

Akibat terputusnya kabel pada senin malam, selama lima jam dari pukul 23.00 hingga 01.45 dinihari, seluruh listrik di Madura padam total.

PT PLN yang mengetahui kejadian itu langsung mengalihkan penyaluran listrik ke kabel cadangan, sehingga pemadaman bisa teratasi.

PT PLN kini kosentrasi untuk mengatasi serta mencari titik putusnya kabel tersebut, jangka pendek yang dilakukan adalah menormalkan aliran listrik ke Madura. ”Kita belum mengetahui di titik mana kabel itu putus, tapi untuk sementara ini yang kita lakukan normalisasi lebih dulu agar listrik bisa menyala kembali,” katanya.

Meski telah tertasi, namun pasokan listrik di Madura masih rawan, sebab tidak ada kabel cadangan lagi, dengan satu kabel mampu menyuplai listrik ke Madura mencapai 250 megawat dari kebutuhan hanya 112 megawat.

”Soal pasukan tidak ada masalah tapi tetap saja masuk kategori rawan, kalau sampai terjadi lagi tentu akan merugikan masyarakat,” katanya.

PT PLN masih melakukan upaya untuk memperbaiki kabel yang putus tersebut. Diperkirakan membutuhkan waktu selama tiga bulan guna menyambung kembali.

Pihaknya belum memastikan berapa jumlah kerugian yang dialami PLN. Sebab, belum dihitung secara finansial. ”Nanti saja, yang penting normal kembali,” katanya.

Peristiwa black out ini merupakan yang kedua kalinya, tahun 1999 kasus serupa terjadi, kabel bawah laut ditabrak kapal Kapal Hanoman yang menyebabkan selama satu minggu Madura padam total. (ant)

Sumber: Surya, Selasa, 5 Januari 2010

Labels: , , , ,

Madura Gelap Gulita Lima Jam

Jangkar Kapal Putuskan Kabel Bawah Laut PLN

Sekitar lima jam listrik di seluruh wilayah Madura mati total menyusul putusnya satu jaringan kabel listrik bawah laut PLN akibat tersangkut jangkar Kapal Motor (KM) Kirana 3 di Buoy 6 di Alur Pelayaran Surabaya Barat, Senin (4/1) sekitar pukul 22.15 WIB.

Peristiwa yang menggegerkan warga Madura itu berawal ketika KM Kirana 3 yang berlayar dari Sampit (Kalimantan Tengah) menuju Surabaya, akan memasuki Pelabuhan Tanjung Perak sekitar pukul 22.00 WIB.

Ketika menjelang perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), kapal itu – yang mengangkut 200 penumpang dan 40 unit kendaraan termasuk truk – tidak dipandu oleh petugas pandu. Padahal, untuk masuk ke APBS yang alurnya sempit, harus menggunakan jasa pandu. Kapal milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) itu hanya dipandu jalannya lewat radio komunikasi.

Saat itu, arus di perairan APBS cukup kuat sehingga kecepatan kapal diturunkan jadi separonya oleh nakhoda Subandrio dari kecepatan semula. Meski demikian, kapal masih melaju cukup kencang akibat kuatnya arus itu. Bahkan, ketika mesin kapal kemudian dimatikan, kapal masih berjalan sekitar 8 knot.

Kapal pun terseret hingga ke kawasan Buoy 6. Di kawasan itu ada dua rambu lampu kuning sebagai peringatan bahaya. Rambu lampu kuning I untuk mewaspadai adanya pipa gas bawah laut milik Kodeco, dan rambu lampu kuning II untuk peringatan adanya kabel bawah laut milik PLN.

Menurut Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak, Cholik Kirom, setelah melintas rambu I, nakhoda beranggapan bahwa kondisi sudah aman. Karena melihat kapal masih terbawa arus, jangkar pun ia turunkan dengan harapan supaya kapal tidak melaju terus. Tetapi, masih saja kapal tak mau berhenti, yang artinya jangkar juga ikut terseret.

“Nah, ternyata di situ masih ada rambu lampu kuning II untuk peringatan adanya kabel listrik bawah laut. Akhirnya, jangkar itu nyantol kabel tersebut, tertarik dan kemudian putus,” ungkap Cholik, Selasa (5/1).

Yang terputus itu adalah kabel utama bawah laut PLN yang melintasi APBS. Ada dua kabel di situ, yakni kabel utama dan kabel cadangan yang letaknya bersebelahan. Listrik yang dialirkan ke Madura lewat kabel tersebut berasal dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Gresik.

Sebenarnya, tatkala nakhoda berbicara melalui radio komunikasi dengan petugas radar, dia sudah diingatkan supaya tidak lego jangkar karena masih ada satu rambu lampu kuning lagi. Namun peringatan itu tidak diindahkan nakhoda.

“Mungkin nakhoda beranggapan kondisinya sudah aman sehingga lego jangkar,” tuturnya. Cholik menduga, kabel yang ada di dasar laut itu tidak ditanam sesuai standar oleh kontraktor yang mengerjakan. Pasalnya, sedimentasi di dasar laut berbeda-beda. Ada yang tanahnya lunak dan ada yang keras seperti karang. Kemungkinan kabel listrik yang terseret itu itu hanya dilewatkan di bagian-bagian karang, tidak ditanam di bawahnya.

“Mungkin kabel hanya ditempatkan di karang dan kemudian diuruk dengan bebatuan. Bisa jadi, karena alasan biaya mahal jika kabel ditanam di bawahnya,” jelasnya. Namun, keterangan lain menyebutkan, kabel itu ditanam antara 2-4 meter di bawah dasar laut.

Putusnya kabel di dasar laut ini merupakan peristiwa yang kelima di APBS. Tiga berakibat fatal, dan dua peristiwa hanya kecil dampaknya. Penyebabnya sama karena terseret jangkar.

Dalam peristiwa kemarin, delapan kru kapal di antaranya nakhoda Subiantoro dan tujuh ABK (Anak Buah Kapal) diperiksa Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Syahbandar Tanjung Perak untuk mengetahui kesalahan.

“Kapal masih dipersilakan jalan untuk kepentingan masyarakat. Tapi kru kapal kan bisa diganti dengan yang lain,” paparnya.

Siapa yang bersalah

Adpel masih belum bisa memastikan. “Semua masih dalam penyidikan. Tunggu satu sampai dua hari sudah kelar. Yang jelas, dari pihak pelayaran punya itikad baik untuk ikut menyelesaikan,” ungkapnya.

Secara terpisah, Direktur Utama PT DLU Bambang Harjo mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi oleh Adpel Tanjung Perak. “Jika hasil investigasi sudah ada, baru kami akan memberikan tanggapan,” tegasnya

Sementara itu, Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, Iwan Sabatini menuturkan, kapal sekelas KM Kirana 3 yang masuk ke APBS tidak harus dipandu karena ukurannya kecil. Selama ini, tugas memandu merupakan kewenangan instansi di bawah PT Pelindo III.

Menurut Iwan, yang perlu perhatian di APBS ada lima persoalan. Pertama, perairan di APBS dangkal. Kedalamannya sekitar 9 meter. Ke depan perairan itu akan dikeruk hingga mencapai kedalaman 12 meter.

Kedua, adanya pemasangan pipa gas Kodeco. Pipa gas itu melintang di alur dan harus segera dipindahkan.

Ketiga, ada 20-an bangkai kapal yang belum ditarik di alur APBS. Posisinya memang tidak di tengah alur tetapi di tepi. Namun, bangkai kapal itu bisa mengganggu kapal yang akan berlabuh.

Keempat, kabel listrik bawah laut. Penanaman kabel itu seharusnya 12 meter di bawah permukaan, tapi kabel itu tertanam sekitar 2 sampai 4 meter saja. Kelima, alur pelayaran di Buoy 6 dan 7 itu sempit dan harus dilebarkan. Bagian kiri kanan harus dikeruk supaya kapal besar bisa bersimpangan saat melintas. Selama ini, jika ada kapal besar yang melintas harus berhenti salah satu.

“Ke depan alur itu akan dikeruk. Tapi kalau dikeruk, nasib pipa gas dan kabel listrik bagaimana,” ucap Iwan dengan nada tanya.

Di tempat terpisah, Manager PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Jawa Bali untuk Region Jatim dan Bali, Asep Burhan mengatakan, butuh waktu sekitar 45 hari sampai dengan 2 bulan untuk melakukan perbaikan sampai penyaluran kembali listrik setelah rusaknya kabel listrik bawah laut itu.

Saat ini, P3B masih melakukan proses administrasi serta penyusunan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) terkait kejadian yang sempat memadamkan listrik di 4 kabupaten di Madura itu. “Jadi kami belum melakukan apa-apa, juga belum tahu seberapa parah kerusakannya,” kata Asep, Selasa (5/1).

Ia menjelaskan, pemasangan kabel listrik bawah laut tersebut sudah sesuai dengan standar internasional. Namun, diakui Asep bahwa kabel bawah laut rawan putus terkena jangkar kapal. Sebab, kabel itu memang tergelar di alur padat lalu lintas kapal.

Kabel bawah laut yang ada di Selat Madura saat ini berjumlah 2 sirkuit, yang masing-masing berkapasitas 100 MW. Jaringan kabel ini mampu menyuplai kebutuhan sekitar 500.000 pelanggan listrik di 4 kabupaten di Madura, dengan beban puncak mencapai 130 MW.

Dengan satu kabel terputus, satu lagi kabel bawah laut sebagai cadangan akan difungsikan maksimal. Suplai setrum ke Madura akan ditambah pula dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Gili Timur yang berkapasitas 2×30 MW.

Meski telah teratasi sementara, lanjut Asep, namun pasokan listrik di Madura masih rawan. Sebab, satu-satunya kabel cadangan yang berfungsi tidak cukup bisa diandalkan.

Padamnya listrik selama 7 jam pada malam dan dinihari di Madura terdampak terhadap kondisi keamanan di beberada desa di Sumenep.

Ketika listrik padam, terjadi tiga kasus pencurian sapi di Desa Lenteng Barat dan Desa Batu Putih Utara. “Kami mendengar tadi malam tiga warga kehilangan sapi, yang ditaruh di kandang belakang rumahnya. Selama ini kandang sapi diberi penerangan lampu listrik. Nah saat padam itu, sapi warga dicuri,” kata Aditio, warga Desa Lenteng Barat. (mif/dio/uji/riv/sin/st32)

Sumber: Surya, Rabu, 6 Januari 2010

Labels: , , , , , ,

Investasi Madura Terganjal

Tidak kunjung rampungnya penyusunan blueprint pembangunan di sekitar kawasan Jembatan Suramadu membuat penanaman investasi di kawasan Madura secara keseluruhan cukup terhambat. Dengan tidak adanya kepastian blueprint, praktis belum ada investasi yang masuk ke kawasan kaki-kaki Jembatan Suramadu.

"Dengan begitu akhirnya kami memilih fokus menjual potensi investasi kawasan Madura lainnya di luar 1,2 ribu hektare kawasan kaki-kaki jembatan Suramadu. Sebenarnya di wilayah ini ramai peminat. Tapi bagaimana lagi, blueprint-nya saja belum ada," ujar Sikilli Hamza, Kepala Bidang Pengembangan dan Kerja Sama Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur di kantornya, Surabaya, Selasa (22/12).

Namun demikian, Sikilli menegaskan, wilayah-wilayah lain di Madura juga tidak kalah menarik dalam hal menarik investasi masuk ke wilayah Madura. Dalam perkembangan terbaru, Sikilli menjelaskan, ada penambahan jumlah investor di Madura dari penanaman modal asing (PMA).

"Ada dua. Mereka investasi di daerah Sampang dengan bidang kerja jasa pengeboran minyak. Total investasinya sekitar 2 juta dollar AS," jelasnya. Dengan penambahan tersebut, kini jumlah investor asing yang telah berinvestasi di kawasan Madura keseluruhan ada 9 investor dengan total investasi sebanyak 264,7 juta dollar AS. "Sementara baru itu yang masuk Madura. Kalau blueprint Suramadu sudah ada, saya yakin penambahannya ke depan akan cukup signifikan," tukasnya.

Di sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Madura, belum ada penambahan. Dengan begitu, jumlah investor dalam negeri yang menanamkan modalnya di kawasan Madura masih sekitar 8 investor dengan total investasi mencapai Rp 1,752 triliun.

"Mereka tersebar di berbagai sektor industri, meliputi industri galangan kapal, industri makanan-minuman, budidaya udang, pengolahan tembakau dan pertambangan," katanya.

Ke depan, papar Sikilli, proyek yang sedang dalam tahap pembicaraan adalah pembangunan kawasan wisata bahari di daerah Camplong, Sampang, dengan total investasi sekitar Rp 1,5 triliun.

"Sedang dalam penelitian kawasan dan juga pengajuan perizinan. Semoga cepat terlaksana karena cepat atau lamanya proyek ini terwujud sebagian juga tergantung pada proses perizinan yang ada," paparnya. Rencana investasi ini, berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).(tsa)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 23 Desember 2009

Labels: , ,

Madura, Hasil Karya Mahasiswa Munich

Mobil konsep Lamborghini Madura

Slavche Tanevsky, seorang mahasiswa di Universitas Munich, Jerman, telah menciptakan mobil konsep masa depan, Lamborghini Mandura.

Penggunaan Madura, Tanevsky merujuk pada nama pulau di Indonesia. Pulau ini, menurut Tanevsky, terkenal dengan bantengnya. Bagi bangsa Jerman, penamaan mobil hampir selalu dikaitkan dengan keperkasaan banteng.

Sebenarnya bila di Indonesia, Madura terkenal dengan sapi-sapi yang kuat. Sapi-sapi ini biasanya dilombakan dalam ajang karapan sapi.

Konsep ini merupakan bekerja sama Lamborghini dan Audi. Lamborghini sendiri menyiapkan seluruh bahan baku proyek itu. Menurut Tanevsky, proyek ini merupakan produk hibrida pertama Lamborghini yang dijadwalkan keluar pada 2016.

Sebagai mobil hibrida yang efisien bahan bakar dan ramah lingkungan, tidak membuat Lamborghini Madura ini tak menarik. Mobil ini didesain dengan rangka dan cat futuristik.

Meskipun desain ini samar-samar mirip pada mobil konsep Reventón dan Estoque, namun desain Madura lebih ramping, lebih terfokus, dan lebih agresif.

Di bagian depan, fitur Madura lebih ramping pada lampu depan membuat ruang bagi lubang udara yang lebih besar. Madura juga didesain berkelok yang bisa mengarahkan angin lebih sempurna. (World Car Fans) (Hadi Suprapto)

Sumber: VIVAnews, Kamis, 10 Desember 2009

Labels: , , ,

Lamborghini Pakai Nama Madura

Produsen mobil mewah Lamborghini menggunakan nama Madura untuk salah satu mobil konsepnya. Mobil konsep ini dirancang oleh Slavche Tanevsky, mahasiswa Munich University of Applied Sciences.

Seperti dikutip Worldcarfans, Rabu (9/12/2009), Tanevsky mengaku terinspirasi dengan Pulau Madura di Jawa Timur yang terkenal dengan karapan sapinya itu. Mobil konsep itu tercipta atas kolaborasi Tanevsky dengan perancang Lamborghini dan Audi.

"Madura diusulkan untuk menjadi mobil Lamborghini hybrid pertama yang dijadwalkan akan diproduksi pada 2016," ujar Tanevsky.

Tanevsky menuturkan mobil konsep super itu akan memiliki efisiensi bahan bakar tinggi dan lebih ramah lingkungan dengan mesin hybrid yang digendongnya.

Meskipun samar-samar mengingatkan kita pada pada Lamborghini Reventón dan mobil konsep Estoque, seluruh desain dari Madura memiliki desain lebih ramping, lebih terfokus, dan lebih agresif.

Di bagian depan, fitur lampu utama Madura lebih ramping, air intake yang besar. Di bagian belakang mobil, mesin hybrid yang ditanamkan Tanevsky menghasilkan garis-garis rumit labirin yang membantu memberikan penampilan mobil yang unik. Kapan masuk Indonesia dan lewat Jembatan Suramadu ya? (Dadan Kuswaraharja - detikOto )

Sumber: detikOto, Rabu, 09/12/2009

Labels: , , ,

Kongres I Bahasa Madura

Kongres I Bahasa Madura yang akan digelar di Pamekasan, Madura, 15 hingga 19 Desember 2008 mendatang, tak hanya dihadiri para tokoh dan budayawan regional dan nasional, tapi juga akan dihadiri pemerhati budaya Madura dari Jepang. "Pemerhati Budaya Madura dari Jepang yang kami undang adalah Prof Dr Okamoto Masaaki dari Universitas Kiyoto, Jepang," kata Sekretaris Panitia Kongres I Bahasa Madura, Khalifaturrahman di Pamekasan, Minggu (14/12). Kongres bertema 'Revitalisasi Pembinaan dan Pelestarian Bahasa dan Sastra Madura'. Okamoto Masaaki akan memberikan pandangan pemikiran seputar budaya dan tradisi warga Madura sebai bahan pertimbangan panitia dalam memasukkan poin rekomendasi kongres. (ANTARA)

Sumner: Kompas, 15/12/2008

Labels: , , , , ,

Kongres Kebudayaan Madura

Sebuah Langkah Penyelamatkan Kebudayaan Adiluhung


HIDUP yang keras dan kekerasan telah menjadi stereotipe etnis bagi orang Madura yang melekat sampai sekarang. Seperti carok, yakni perkelahian dengan menggunakan senjata tajam, yang masih kerap terjadi hingga sekarang, menperkuat pandangan negatif orang luar kepada orang Madura.


Padahal, banyak orang luar Madura yang pernah singgah di Pulau Garam ini mengaku bahwa orang Madura adalah orang yang ramah, jauh dari sangkaan negatif tersebut. Sesungguhnya, masih banyak nilai-nilai adiluhung dari kebudayaan Madura yang belum dikenal oleh orang luar.


Sesungguhnya pula, banyak nilai-nilai budaya dan karya-karya seni-budaya bertebaran di Pulau Madura. Nilai-nilai dan karya-karya budaya itu sampai sekarang masih hidup di tengah masyarakat. Bahkan, dengan sejarah tingginya migrasi orang-orang Madura, nuansa Madura masih sangat terasa di Jawa Timur bagian timur, mulai Bangil hingga ke Banyuwangi. Jadi, kebudayaan Madura telah mengalami difusi ke luar.


Kongres Kebudayaan Madura yang bakal digelar di Songennep (Sumenep) pada 9-11 Maret 2007, sebagai salah satu langkah menyelematkan kebudayaan Madura. "Kita berharap bisa melihat konvigurasi kebudayaan kita dewasa ini dan menyiapkan strategi kebudayaan untuk masa depan masyarakat Madura yang lebih baik dalam berbagai aspeknya. Dalam kehidupan global dewasa ini, dimana kebudayaan cenderung bersifat maya dan mengambang, tradisi dan kebudayaan lokal merupakan tanah tempat kebudayaan kita begitu konkret dan berakar kuat, serta mungkin menjuntaikan buah yang ranum ke dunia luar. Dengan cara itu, kebudayaan Madura akan memberikan sumbangan berarti pada kebudayaan nasional, bahkan kebudayaan global," kata Jamal D. Rahaman, Pemred Majalah Horison yang merupakan putra Sumenep.


Perlu diakui pula, arus modernisasi lambat laun telah menggerus nilai-nilai budaya masyarakat Madura. Kita tidak bisa menyalahkan arus modernisasi itu, kecuali kita punya kearifan lokal yang bisa membendungnya. Salah satu contohnya, Bahasa Madura yang menjadi salah satu unsur penting dari kebudayaan Madura, nyaris tak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, dalam konsep kebudayaan, bahasa menunjukkan bangsa.


Begitu juga dengan masih rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar dari masyarakat Madura, menjadi salah satu faktor tidak berkembangnya kebudayaan Madura. Dari tahun ke tahun, kebudayaan Madura mengalami stagnasi. Belum ada upaya serius dari pemerintah atau masyarakat Madura sendiri untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan dan hasil karya kebudayaan Madura.


Masyarakat Madura yang mayoritas bergama Islam, dikenal sebagai penganut Islam yang kuat. Corak kehidupan masyarakat dilandasi agama dan kultur Islam yang masih kuat dalam pola hidup kesehariannya. Di masyarakat Madura, menurut Abdurahman (1991), tidak dikenal Islam abangan. Sebab, katanya, golongan yang bukan santri hampir tidak ada, karena orang Madura hampir semuanya pernah mengaji di pondok pesantren/madrasah-madrasah atau langgar.


Seiring dengan arus modernisasi yang terus menggempur masuk Madura, tidak mengubah tradisi dan kultur masyarakat Madura secara besar-besaran. Namun demikian, benturan antara budaya tradisional dengan modern memang tidak dapat dielakkan. Di sinilah pondok pesantren punya peranan penting bagi masyarakat dan kebudayaan Madura, terutama dalam pendidikan moral dan agama.


Begitu juga dengan pembangunan jembatan Suramadu, akan semakin membuka Madura dari dunia luar. Arus barang, jasa, juga orang akan lebih padat, yang bisa membawa peradaban baru masuk Madura. Apalagi jika kemudian muncul industrialisasi Madura. Tentunya, itu adalah tantangan bagi masyarakat Madura untuk berusaha agar kulturnya tidak terkikis. Jika bukan masyarakat Madura sendiri yang melakukan, siapa lagi? Jawabnya, orang Madura sendiri yang bertanggung jawab terhadap kebudayaannya.


Maka, tantangan bagi penyelamatan kebudayaan Madura sungguh sangat besar. Dengan berbagai kompleksitas di atas, dalam Kongres Kebudayaan Madura bakal membahas secara komprehensif 3 pokok pikiran. Yakni, Orang Madura, Pendidikan dan Pesantren, dan Seni Budaya, dan Bahasa Madura. Ketiga pokok pikiran itu akan dibahas dalam 3 komisi pula.


Perkembangan yang menarik, setelah diadakan pra kongres di Pamekasan pada 3 Maret lalu, budayawan yang hadir dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep sangat merespons dan mendukung Kongres Kebudayaan Madura ini. Saat pra kongres, yang banyak dibahas adalah soal Bahasa Madura dan seni budaya Madura. Dengan memprediksi bakal "beratnya" pembahasan, maka di Komisi Seni, Budaya, dan Bahasa dipecah lagi menjadi tiga komisi, yakni subkomisi kesenian, subkomisi budaya, dan subkomisi Bahasa Madura.


Yang menarik juga, para peserta pra kongres mengingatkan tindak lanjut pasca kongres. Mereka berharap, selain menghasilkan keputusan-keputusan dan rekomendasi, ada tindak lanjut konkret pasca Kongres Kebudayaan Madura. Ada yang mengusulkan perlu dibentuk Dewan Kebudayaan Madura, yang anggotanya para pegiat seni dan budaya se Madura.


Sesungguhnya, masih banyak pekerjaan rumah bagi masyarakat Madura untuk menyelematkan dan mengembangkan kebudayaannya. Hal ini bukanlah tanggung jawab orang perorang, lembaga perlembaga, tapi tanggung jawab semua elemen masyarakat Madura. Baik yang berada di Madura sendiri maupun yang di luar Madura sana. Tanpa suntikan "darah" semangat itu, mustahil kebuadayaan Madura bisa diselamatkan dari gerusan kebudayaan global. Mengutip judul puisi D. Zawawi Imron: "Madura Akulah Darahmu". (mat)


Sumber: Jawa Pos, Senin, 05 Mar 2007

Labels: , , , ,

Budayawan Madura Mantapkan Kongres

Pamekasan, Jawa Pos - Meski Kongres Kebudayaan Madura (KKM) masih dihelat 9 Maret mendatang, kemarin budayawan se Madura berkumpul di Pamekasan. Itu terkait dengan hal-hal penting yang akan dibahas dalam helat KKM mendatang. Pada kongres ini, akan dipertajam materi di komisi-komisi manusia Madura, pendidikan dan pesantren, dan seni, budaya, dan bahasa daerah.


Saat memberi sambutan, budayawan asal Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirjo, menilai KKM sebagai harapan. Alasan dia, sejauh ini banyak pihak yang prihatin terhadap kebudayaan Madura. Baik menyangkut kebahasaan, perilaku, dan hal lain menyangkut SDM Madura. Apalagi, katanya, sebagian warga Madura terkesan kurang memiliki nasionalisme atas tanah kelahirannya. Ini dibuktikan dengan enggannya warga Madura mengakui kemaduraan dirinya ketika berada di luar Madura. "Kongres, barangkali tonggak kebangkitan menuju Madura yang lebih baik," Wabup Pamekasan ini.


Sementra Ketua Dewan Kesenian Mekkasen Syafiudin Miftah mengatakan, KKM memang diperlukan muncul untuk lebih mendisain Madura masa depan. Baik yang berkait dengan kebahasaan, kesenian, dan hal lainnya menyangkut kebudayaan. Tetapi, katanya, dalam sisa waktu sebelum kongres digelar 9 Maret mendatang, budayawan pantas bila bersilaturahim agar lebih fokus saat berada di arena kongres. "Bahwa kongres perlu dapat dipahami, tetapi apa yang akan disumbangkan, tidak kalah penting," katanya.


Menanggapi masukan budayawan se Madura, Ketua Panitia Januar Herwanto mengaku dapat memahami. Dia bilang, kongres dibuat sederhana dengan mengedepankan esensi bahwa Kebudayaan Madura penting dikukuhkan secara kultural. Dalam KKM, katanya, ada beberapa bidikan awal yang hendak diusung. Yakni, mengenai kebahasaan, kemanusaiaan, pendidikan pesantren, dan kesenian etnik lainnya di Madura.


Dia bilang, beberapa pihak telah dihubungi baik yang berada di dalam dan luar negeri. Bahwa ada kemungkinan ada kekurangan, budaywan Madura dirasa penting membuat KKM lebih sempurna. "Kami ingin dalam kongres mengalir dulu, karena kami yakin akan ketemu muaranya," katanya.


Dalam silaturahim budayawan se Madura ini, dari Bangkalan hadir antara lain Hasan Sastra, Sunarto Rastarja, Eroni, Khairul Anwar, dan Eroni. Dari Sampang, terlihat M. Syahid, Solahur Rabbani, dan Daud Bey. Sedangkan dari tuan rumah Pamekasan, DR A. Djamaludin Karim, M. Yusuf Suhartono, Chairil Basyar, Muakmam, Dradjit, dan Khalifaturahman. Dari Sumenep, Edy Setiawan, Fauzil Adim, Faaizi, dan Pemred Radar Madura M. Tojjib. (abe)


Sumber: Jawa Pos, Minggu, 04 Mar 2007

Labels: , , , , , ,

Rekonstruksi Citra Budaya Madura

Tema dialog yang diselenggarakan RRI Sumenep (9/12/2006) yang lalu bertajuk "Membangun Kembali Citra Positif Budaya Madura" dipastikan berangkat dari keyakinan bahwa Budaya Madura sesungguhnya memang sarat dengan nilai-nilai sosial budaya yang positif. Hanya saja kemudian nilai-nilai positif tersebut tertutupi perilaku negatif sebagian orang Madura sendiri, sehingga muncul stereotype tentang orang Madura, dan lahir citra yang tidak menguntungkan.

Oleh Kadarisman Sastrodiwirjo

Nilai-nilai sosial sebuah budaya, menurut Latif Wiyata bersifat lokal dan kontekstual sesuai dengan kondisi dan karakteristik masyarakat pendukungnya. Sejalan dengan ini, seharusnya Budaya Madura mencerminkan karakteristik masyarakat yang religius, yang berkeadaban dan sederetan watak positip lainnya. Akan tetapi keluhuran nilai budaya tersebut pada sebagian Orang Madura tidak mengejawantah karena muncul sikap-sikap yang oleh orang lain dirasa tidak menyenangkan, seperti sikap serba sangar, mudah menggunakan senjata dalam menyelesaikan masalah, pendendam dan tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (Giring, 2004). Akibatnya, timbul citra negatif tentang orang Madura dan budayanya.

Orang yang tidak pernah ke Madura, memiliki gambaran yang kelam tentang Orang Madura. Rata-rata pejabat yang dipindah tugas ke Madura, berangkat dengan diliputi penuh rasa was-was, karena benak mereka dihantui citra Orang Madura yang serba tidak bersahabat. Akan tetapi kemudian setelah berada di Madura, ternyata hampir semuanya berubah 180 derajat pandangannya tentang Orang Madura. Mereka dengan penuh ketulusan mengatakan bahwa Orang Madura ternyata santun, ramah, akrab dan hangat menerima tamu.

Citra negatif ini pula yang kemudian melahirkan sikap pada sebagian Orang Madura, utamanya kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan diri sebagai Orang Madura, karena Madura identik dengan keterbelakangan atau kekasaran Keadaan ini harus diakhiri. Perlu dilakukan upaya untuk menunjukkan bahwa Orang Madura dan budayanya tidak sejelek yang diduga orang lain.

Upaya pertama adalah membangun citra positif. Membangun citra ini dimulai dengan menonjolkan hal-hal yang positif dari Budaya Madura. Untuk itu perlu dilakukan inventarisasi yang cermat nilai-nilai sosial budaya yang positif atau sering diistilahkan dengan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai tersebut bisa kita temukan dalam pelbagai parebhasan, saloka, bangsalan atau paparegan yang banyak memuat bhabhurughan becce’.

Nilai-nilai ini perlu dipilah menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah nilai-nilai yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Di antaranya adalah ungkapan-ungkapan : "Manossa coma dharma". Ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. Selain itu, "Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman" Ungkapan ini menunjukkan berjalin kelindannya Budaya Madura dengan nilai-nilai agama Islam. Bahkan, penting dimasukkan Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhubha’ e budi.

Ini semua, ajaran yang bagus dalam manajemen perencanaan, yang mengisyaratkan perlunya disusun rencana yang cermat dalam setiap kegiatan, agar tidak mengalami kesulitan di kemudian hari karena salah perencanaan. Bandingkan dengan selogan: "Perencanaan memang mahal, akan tetapi akan lebih mahal lagi akibatnya apabila kita membangun tanpa rencana". Misalnya, tercermin dalam "Asel ta’ adhina asal" yang mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri.

Pun, Lakona lakone, kennengnganna kennengnge. Bandingkan dengan the right man on the right job. Pae’ jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu’. Ini juga nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus mendalami akar permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. Kar-karkar colpe’, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap mau bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang bisa dinikmati.

Kelompok kedua adalah ajaran yang sementara ini penafsirannya cenderung mengarah kepada hal-hal yang acapkali menimbulkan ketakutan kepada pihak lain. Ajaran ini perlu kita beri redefinisi, atau reinterpretasi sebagaimana misalnya 'Clurit Emas'-nya Zawawi Imron. Clurit jangan lagi kita lihat semata-mata sebagai alat untuk mempertahankan diri atau menebas leher orang, akan tetapi bagaimana clurit ini kita maknai sebagai alat untuk 'menebas ketertinggalan, kebodohan dan kemiskinan'. Ada beberapa ungkapan yang termasuk dalam kelompok ini, misalnya: Etembhang pote mata, bhango’ pote tolang. Ini kita berikan penafsiran baru menjadi ajaran untuk meneguhkan semangat berkompetisi. Kalau tidak ingin pote mata, kita harus memperbaiki diri, meningkatkan kapabilitas, sehingga tak perlu pote tolang. Ungkapan itu perlu diubah menjadi ta’ terro pote mata, ta’ parlo pote tolang. Bandingkan dengan 'Hidup mulya atau mati syahid' (Isy kariman aw mutsy syahidan).

Oreng jhujhur mate ngonjhur, kita robah menjadi Oreng sabbhar nompa’ jikar. Kedua ungkapan ini seolah-olah menggambarkan bahwa orang sabar atau orang jujur kondisinya kurang bersaing. Ungkapan ini perlu kita reposisi menjadi misalnya oreng sabbhar nompa’ kapal ngabbher.

Ola’ neng bato, odi’. Kalau semula ungkapan ini untuk menggambarkan sikap orang yang suka narema papasten, bisa kita beri semangat baru, bahwa perlu ada sikap ulet, tekun dan tabah untuk mempertahankan hidup.

Kelompok ketiga adalah ajaran yang kita tanamkan untuk menumbuhkan nilai-nilai baru yang positip yang sejalan dengan perkembangan zaman. Bandingkan dengan pepatah Inggris 'time is money' yang sesungguhnya bukan nilai budaya asli orang Inggris yang dimiliki sejak zaman dulu, melainkan ditumbuhkan sejak Inggris memasuki era industrialisasi. Agar masyarakat mau menghargai waktu, maka waktu dikaitkan dengan uang/profit.

Kita perhatikan beberapa ungkapan baru yang bisa kita tanamkan dan kembangkan, misalnya:

  • Lamon terro amodel, kodhu amodal
  • Lamon terro penter, kodhu ajar komputer
  • Ta’ atane, ta’ atana’, ini dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat mengembangkan kehidupan di bidang agriculture dan agribisnis
  • Ta’ adhagang, ta’ adhaging, dimaksudkan untuk mengembangkan semangat kewiraniagaan
  • Kembhang malate kembhang bhabur, mandhar bhadha’a paste, terro daddhia haji mabrur.
Upaya selanjutnya, membangun citra ini perlu diikuti dengan perubahan perilaku dari sebagian taretan dibhi’. Untuk itu perlu dilakukan studi, perilaku apa yang tidak disukai oleh orang lain, serta perilaku apa yang disukai. Perilaku yang tidak disukai kita kurangi atau dieliminasi, sedang yang disukai kita kembangkan dan dijadikan modal dalam membangun citra.

Perubahan perilaku ini memang membutuhkan proses panjang, kesungguhan dan keserempakan (sinergi). Peningkatan pendidikan masyarakat adalah jawaban yang tepat untuk ini. Penanaman budi pekerti luhur sejak dini di kalangan anak-anak, mutlak diperlukan. Juga perlu keteladanan dari para tokoh utamanya Ulama/Kyai dan para pemimpin formal. Upaya ini perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan terencana, yang dimotori oleh mereka yang memiliki kesadaran tentang hal ini.

Upaya berikutnya adalah menanamkan dan menumbuhkan kecintaan dan kesetiaan Orang Madura kepada budayanya. Ini perlu agar budaya Madura tidak pupus dalam satu-dua generasi. Jangan sampai terjadi baru pada generasi kedua saja Bahasa Madura sudah tidak dikenal; sopan santun, sikap andhap asor sudah menghilang.

Membangun citra positip, memang tidak bisa serta merta, perlu proses, akan tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Itupun harus dimulai sekarang juga, agar keadaan tidak semakin parah. Hal yang sangat penting adalah adanya kesadaran bahwa membangun citra positip harus dilakukan sendiri oleh Orang Madura, sebagaimana semboyan kelompok Pakem Maddhu, Pamekasan yang berbunyi: Coma reng Madhura se bisa merte bhasa Madhura. (*)

Sumber: Jawa Pos, 24 Des 2006

Labels: , , ,

Membangun Madura atau Membangun di Madura

Pembangunan Jembatan Suramadu dan pengembangannya harus bisa membuka lapangan kerja bagi warga Madura. Dengan demikian, kesejahteraan warga pulau ini bisa meningkat.

Oleh Achmad Faiz

Meski konsep pembentukan Badan Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Wilayah Suramadu belum final, menurut Asisten II Pemerintah Provinsi Jatim Bidang Pembangunan Soetjahjono Soejitno, berbagai reaksi telah bermunculan. Tidak berlebihan jika bupati se- Madura menginginkan agar lembaga ini bisa mengoptimalkan potensi dan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Madura sesuai dengan tujuan awal pembangunan jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu.

Secara umum tujuan pembangunan Jembatan Suramadu adalah memberikan aksesibilitas agar potensi yang ada di Madura dapat dimanfaatkan secara optimal, menunjang peningkatan sektor-sektor pembangunan lain seperti pariwisata, pertambangan, perikanan dan lain- lain, serta membangun sistem jaringan jalan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura dalam rangka pengembangan wilayah. (Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 2003).

Diharapkan pengembangan jaringan berupa jembatan penghubung ini mampu memberikan pencerahan secara ekonomi bagi masyarakat Madura yang identik dengan ketertinggalan.

Dalam perspektif teori dependensia, relasi Jawa -dalam hal ini Surabaya- dengan Madura mau tidak mau merujuk pada posisi ketergantungan struktural. Kata Suramadu merupakan gabungan dari kata Surabaya dan Madura. Dari perspektif gramatikal kata Suramadu jelas mengandung suatu makna relasional antara subyek dan obyek. Sura(baya) sebagai subyek, sedangkan Madu(ra) sebagai obyek. Surabaya sebagai subyek disadari atau tidak harus ditempatkan sebagai wilayah pusat, sedangkan Madura pada posisi sebagai wilayah pinggiran.

Berbagai kajian terhadap pengalaman di berbagai negara (baik di tingkat global, nasional, regional maupun lokal), hubungan relasional dalam perspektif dependensia selalu menguntungkan pihak pusat. Sebaliknya wilayah pinggiran tidak pernah mengalami kemajuan apa pun.

Ada ungkapan menarik dari Bupati Bangkalan KH Fuad Amin Imron yang diamini oleh Bupati Pamekasan Ahmad Syafi’i. “Hasil proyek Suramadu harus bisa dirasakan seluruh warga Madura. Jangan sampai warga Madura hanya menjadi penonton” (Kompas, 20/11/2006).

Harapan kedua Bupati ini beralasan. Secara ekonomi masyarakat Madura masih tertinggal dibandingkan dengan kabupaten/kota di Jawa Timur. Keadaan tersebut karena infrastruktur pembangunan kurang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

Sudah lama masyarakat di Madura diasosiasikan dengan atribut kemiskinan dan ketertinggalan. Hal itu akibat kondisi alam Madura yang gersang dan tandus sehingga daya dukung alam, khususnya sektor pertanian, terhadap penduduk tidak memadai. Tak heran banyak penduduk Madura merantau ke luar untuk mencari sumber-sumber ekonomi.

Data menunjukkan laju pertumbuhan pembangunan Madura lebih lambat dari rata-rata kabupaten lain di Jatim. Nilai pendapatan domestik regional bruto Madura tahun 2002 adalah Rp 8,2 triliun. Padahal, Pulau Madura mempunyai potensi lokal seperti tembakau, garam serta potensi perikanan.

Kehadiran Jembatan Suramadu merupakan hikmah sekaligus merupakan tantangan bagi masyarakat Madura untuk terlibat secara langsung dan aktif pada proses pembangunan Madura pascapembangunan fisik jembatan. Keberhasilan sebuah proses pembangunan adalah adanya swadaya masyakat dalam setiap proses, baik yang dimiliki individu maupun kelompok di masyarakat.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam menyongsong Jembatan Suramadu. Pertama, pembenahan aspek SDM. Pembenahan ini mutlak diperlukan mengingat rendahnya statistik pendidikan di empat kabupaten di Madura. Di Kabupaten Sampang, tahun 2000, lulusan SD yang melanjutkan pendidikan ke SMP hanya sekitar 50 persen. Lulusan SLTP yang melanjutkan ke SMA hanya sekitar 60 persen. Bahkan, tahun 2001 terjadi penurunan angka dari SD ke SMP menjadi 42 persen (Kompas, 24/3/2002). Angka ini mewakili realita rendahnya tingkat pendidikan SDM Madura.

Pembenahan SDM bisa dilakukan dengan membuka dan menambah beberapa sarana dan prasarana pendidikan yang menunjang kebutuhan masyarakat Madura pascapembangunan Suramadu. Madura memiliki ratusan pesantren dengan karakter dan sistem pendidikan yang berbeda. Potensi ini bisa dioptimalkan oleh pemerintah dengan memberlakukan kurikulum tambahan berbasis kemampuan tehnik bagi para santri di pesantren.

Optimalisasi lembaga pendidikan dan perguruan tinggi dan pendidikan nonformal di Madura dengan membuka program studi atau kejuruan yang dibutuhkan diharapkan memberikan kontribusi dalam melahirkan generasi yang siap pakai.

Kedua, pembenahan SDM harus didukung oleh pembenahan aspek sosial budaya. Rendahnya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi mengakibatkan rendahnya kualitas SDM di Madura. Hal ini dilatarbelakangi ukuran sukses bagi masyarakat Madura adalah memiliki harta yang berlimpah, sedangkan seseorang yang mempunyai tingkat intelektualitas dan tingkat pendidikan yang tinggi tidak dianggap sebagai orang sukses. Paradigma ini perlu diubah lewat pendekatan sosiokultural.

Membangun masyarakat dari wacana berpikir yang statis tradisional menjadi dinamis rasional merupakan proses kegiatan pembangunan masyarakat desa/kota yang memerlukan penyuluhan masyarakat. Bentuknya bervariasi, mulai pendidikan formal dan nonformal, penyuluhan pembangunan, komunikasi pembangunan, pendidikan kesejahteraan keluarga, demokrasi, pendidikan keterampilan, dan lain-lain.

Ketiga, penyiapan infrastruktur pendukung pembangunan. Pembangunan infrastruktur hendaknya tidak berorientasi pada aspek keuntungan belaka, tetapi hendaknya mempertimbangkan pula aspek sosial. Jika para investor hanya berorientasi pada keuntungan, bisa dikatakan pembangunan Jembatan Suramadu bukan untuk membangun masyarakat Madura, tetapi membangun di Madura.

Dalam konteks inilah seluruh pemangku kepentingan di Madura perlu dilibatkan. Terutama para ulama yang merupakan figur sentral dalam masyarakat Madura. Dengan demikian, harapan untuk menyejahterakan masyarakat Madura bisa terwujud nyata.

ACHMAD FAIZ, Alumnus Pascasarjana Ilmu PSDM Universitas Airlangga

Sumber: Kompas, 13/12/06

Labels: , , ,