Akibat Layangan, 2,5 Jam Kota Sampang Gelap Gulita

Gara-gara sebuah layangan yang nyantol di jaringan instalasi listrik, membuat Kota Sampang gelap gulita selama 2,5 jam. Pemadaman tersebut terjadi pada pukul 21.30 dan baru menyala kembali pukul 00.00 win Selasa (8/5) dini hari.

Akibat pemadaman itu siswa Sekolah Dasar (SD) yang tengah belajar untuk menghadapi Ujian Nasional (UNAS), terganggu konsentrasinya. Tentu saja para pelanggan sangat kecewa dengan kinerja PLN yang dinilia lamban dalam mengatasi pemadaman listrik tersebut.

”Mengatasi layang-layang saja sudah tidak becus, apalagi ada gangguan lain yang lebih rumit, entah membutuhkan waktu berapa jam untuk membenahinya. Bisa-bisa sampai berhari-hari mungkin baru menyala kembali listriknya,” keluh Arif Wahyudi, warga Kelurahan Dalpenang, merasa kesal karena anaknya tidak bisa konsentrasi belajar akibat listrik padam.

Wahyudi menyayangkan kinerja petugas PLN yang tidak tanggap dalam mengatasi gangguan listrik hingga sering terjadi pemadaman secara mendadak. Saking kesalnya ia setengah berseloroh, PLN sepertinya mempunyai slogan tiada hari tanpa byar pet, terutama jika hujan deras disertai angin kencang pasti listrik padam. ”Jangan hanya mendenda pelanggan yang telat bayar tagihan, tapi tidak diimbangi perbaikan pelayanan,” protesnya.

Amin Arif Tirtana, anggota DPRD Sampang dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) menyatakan, dampak dari pemadaman listrik itu, para pelanggan tidak hanya mengalami kerugian dari aspek ekonomi saja, namun juga berdampak terhadap faktor keamanan serta menimbulkan ketidaknyamanan pelanggan terhadap pelayanan PLN yang sangat buruk tersebut.
”Dalam ketentuan Undang-undang No. 25/2009 tentang Pelayanan Publik, masyarakat sebagai konsumen berhak menuntut PLN, apabila dalam memberikan pelayanan tidak bekerja profesional, serta tidak memenuhi standar operasional pelayanan (SOP) yang telah ditentukan,” tegas Amin.

Sementara itu, Manajer Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) PLN (Persero) Sampang, Sumaryana, ketika dikonfirmasi terkait pemadaman listrik tersebut, menjelaskan, bahwa petugas yang melakukan penyisiran ke lapangan baru beberapa jam dapat menemukan penyebab gangguan pemadaman listrikitu, ternyata disebabkan sebuah layang-layang yang menyangkut di jaringan listrik. ”Kita telah berupaya, tapi akibat hujan deras sehingga petugas cukup kerepotan karena kondisinya sangat licin dan membahayakan keselamatan jiwa petugas,” terang Sumaryana. (rud)

Sumber: Surabaya Post

Labels: , , ,

Warga Gunung Maddah Tiga Hari Tanpa Listrik

Sejak 3 hari lalu, terhitung mulai hari Selasa (24/5) sampai Kamis (26/5) kemarin, sebagian besar pelanggan PLN yang berada di desa Gunung Maddah tidak bisa menikmati aliran listrik. Pasalnya, salah satu trafo di gardu induk milik PLN Sampang yang menjadi pusat aliran listrik mengalami kerusakan.

Holil, salah satu pelanggan PLN yang notabene adalah seorang anggota dewan mengatakan, banyak warganya mengeluhkan atas lambannya kerja PLN dalam mengatasi masalah dan gangguan listrik didaerahnya.

"Banyak warga mengeluhkan sampai tidak bisa mandi, aktifitas kerja jadi terganggu dan paling parahnya, sebagian besar petani tembakau mengalami kerugian akibat putusnya aliran listrik selama 3 hari tersebut," ujar anggota dewan dari Komisi C kepada Surabaya Pagi, kemarin (26/05).

Atas kejadian tersebut, warga merasa dirugikan. Apalagi para petani tembakau yang harus merasa rugi akibat banyaknya bibit-bibit tembakau yang rusak akibat listrik padam selama 3 hari berturut-turut.

"Imbasnya para pelanggan merasa dirugikan. Sebab, kita tahu bersama listrik merupakan salah satu kebutuhan vital bagi masyarakat. Terlebih bagi golongan masyarakat tertentu," tambah Holil.

Menanggapi masalah tersebut, kepala PLN Sampang Sumaryana melalui kepala teknis PLN Sampang Fathorrahman membenarkan jika sebagian pelanggan PLN di desa Gunung Maddah mengalami gangguan listrik. Hal ini disebabkan rusaknya salah satu trafo di gardu induk yang berada diwilayah tersebut.

"Hal itu disebabkan oleh salah satu trafo di gardu induk rusak, Mas. Dan itu yang menjadi masalah utamanya. Trafo kecil itu berdaya 50 KVA dan letaknya di atas," jelasnya.

Menurut Fathor, masih belum diketahui penyebab rusaknya trafo di gardu induk tersebut yang hanya berdaya 50 KVA. Dan pihaknya sudah berusaha untuk menanggulangi masalah tersebut.

"Kita coba menanggulangi dengan meminjam trafo yang sama ke PLN cabang kota lain yakni Pamekasan. Tapi disana tidak ada. Dan baru kemarin kita dapat pinjaman dari PLN Bangkalan," ulasnya. Sementara, untuk menunggu trafo yang sebenarnya diperbaiki, maka pihak PLN Sampang untuk aliran listrik tersebut masih menggunakan trafo mobil hasil pinjaman dari PLN Bangkalan.

"Untuk menghindari lebih lamanya pemadaman tersebut, kita pakai trafo mobil itu sambil menunggu trafo yang asli diperbaiki," pungkasnya. (ful)

Sumber: Surabaya Pagi, 2011-05-27

Labels: , ,

Seratus Tujuh Puluh Enam Desa Belum Berlistrik

Sebanyak 176 desa atau 30 persen dari 186 desa dan kelurahan yang ada di Kab. Sampang belum menikmati aliran listrik. Program bantuan listrik masuk desa dari pemerintah pusat belum sepenuhnya dapat dirasakan sebagian warga desa.

Kepala Bidang (Kabid) Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, Bapemas Sampang, Ken Kukuh SE, mengatakan, dana program listrik masuk desa yang dikucurkan pemerintah pusat setiap tahun berkurang, tak sebanding dengan banyaknya warga yang butuh aliran listrik. "Karena keterbatasan anggaran tidak semua desa dapat teraliri listrik," ujarnya, Jumat (26/11).

Alokasi angaran program listrik masuk desa untuk Kab. Sampang pada 2009 misalnya Rp 9,7 miliar, namun tahun 2010 menjadi Rp 4 miliar. Bahkan 2011, diperkirakan hanya Rp 1 miliar. "Dengan nilai dana Rp 1 miliar, hanya akan terpasang 2 titik (desa) saja. Seharusnya pemerintah lebih mengutamakan anggaran pengadaan saluran listrik mengingat masih banyak warga miskin yang belum menikmati listrik," ungkapnya.

Namun, dia mengimbau masyarakat yang tidak mendapat saluran listrik tidak mengambil jalan pintas dengan cara menyambung jaringan sendiri lewat warga yang mendapatkan aliran listrik. "Selain merupakan tindakan pidana, perbuatan itu berbahaya karena kabel yang dipergunakan sebagai jaringan listrik bukan standar PLN," ujarnya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 27 Nopember 2010

Labels: , ,

Madura Akan Dipasok Listrik 400 MW

Pembangunan Kabel Listrik Suramadu Berlanjut

Perhatian pembangunan terhadap Pulau Madura pasca tersambungnya jembatan Suramadu mulai tampak. Saat ini PLN sedang menyiapkan tambahan pasokan listrik ke Madura melalui kabel yang melintas di bawah jembatan terpanjang di Indonesia tersebut. Praktis mulai 2010 ini, Madura akan dipasok listrik hingga 400 megawatt (MW).

Mulai Sabtu (23/1) lalu, pengerjaan proyek pemasangan kabel listrik di Jembatan Suramadu kembali dilanjutkan. Proyek yang memang sempat dihentikan sementara tersebut sudah dinanti oleh masyarakat Madura. Itu, seiring adanya pemadam listrik bergilir di Pulau Garam karena putusnya salah satu kabel listrik bawah laut yang ke Madura.

Menurut Deputi Operational PLN Regent Jatim Chairul Alam, sebuah kabel yang mampu memasok 100 MW ditargetkan akan tuntas pada 14 Februari mendatang. "Ada saluran kabel yakni dari Gresik dan dari Pasuruan yang akan menambah pasokan listrik ke Madura. Satu kabel akan tuntas pada 14 Februari mendatang," ujarnya.

Sedangkan satu kabel lagi yang juga akan melintas di bawah jembatan Suramadu menurut Chairul akan diselesaikan pada tahun ini juga. Dengan tambahan kabel listrik yang baru dibangun PLN tersebut, akan mampu memasok 200 MW listrik baru ke Pulau Garam.

"Jadi kalau ditambah dua kabel dasar laut yang juga mampu memasok masing-masing 100 MW, maka total listrik yang masuk Madura mencapai 400 MW," ungkapnya.

Sementara itu, terkait perbaikan sebuah kabel PLN di dasar selat Madura yang rusak karena jangkar kapal, Chairul mengaku membutuhkan waktu 1,5 bulan. Saat ini pihak PLN sudah berhasil menemukan titik kerusakan kabel. Selanjutnya menurut Chairul, kabel tersebut akan diangkat ke permukaan untuk diperbaiki. "Kita sudah mendapatkan kapal tongkang dari Kalimantan sebagai tempat memperbaiki kabel yang rusak," terangnya.

Langkah konkret memanfaatkan Jembatan Suramadu untuk memasok listrik ke Madura mendapat apresiasi dari pihak DPRD Bangkalan. Rokib, anggota komisi C DPRD Bangkalan mengatakan, upaya tersebut memang sudah selayaknya dilakukan. "Buat apa kita punya jembatan yang sangat mahal kalau tidak difungsikan secara maksimal. Pihak PLN sangat brilian melakukan hal itu," ujarnya.

Rokib menambahkan, dengan adanya sambungan listrik di bawah jembatan Suramadu akan membuat persoalan Madura padam serentak tidak akan terulang kembali. Pasalnya dua kali peristiwa kabel dasar laut putus terbawa jangkar kapal tidak akan kembali terjadi. "Kalau sudah kabelnya di bawah jembatan, kan tidak mungkin dibawa kapal lagi," tandasnya. (ale/ed)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 25 Januari 2010

Labels: , , ,

PLN Jamin Madura Cukup Listrik

Tak Ada Pemadaman Bergilir meski Kabel Rusak

PLN menjamin pasokan listrik di Madura pasca bocornya kabel bawah laut awal Januari lalu. Juga tidak ada pemadaman secara bergilir. Jaminan ini disampaikan Deputi Operational PLN Regent Jatim Chairul Alam kepada Komisi C DPRD Bangkalan saat hearing kemarin (22/1).

Untuk membuktikan keseriusan PLN, Chairul yang ditemani Manajer UPJ PLN Bangkalan Taufik mengajak anggota komisi C melihat persediaan listrik untuk Madura di Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gili Timur, Kec Kamal.

Saat dengar pendapat, Chairul menjelaskan pasokan listrik di Madura. Saat ini kebutuhan listrik bagi masyarakat Madura saat siang hari hanya 65 megawatt (MW). "Kalau malam memang maksimal bisa mencapai angka 135 MW. Tapi, itu semua dapat dipenuhi kok," ujarnya.

Chairul menjelaskan, saat ini satu kabel PLN di dasar Selat Madura rusak karena jangkar kapal. Praktis kerusakan yang diakibatkan jangkar KM Kirana III pada Senin (4/1) lalu membuat pasokan listrik ke Madura berkurang. "Kita punya dua kabel bawah laut yang masing - masing mampu menyalurkan 100 MW ke Madura. Jika satu rusak, masih tersisa 100 MW," ulasnya.

Nah, kekurangan pasokan listrik ke Madura ditutupi oleh PLTG di Gili Timur. PLTG di Kec Kamal itu mampu memproduksi 2 x 18 MW. "Jadi, tidak ada masalah. Pemadaman bergilir awal Januari lalu, karena kami hanya sedang melakukan adaptasi. Sekarang kami jamin tidak ada pemadaman bergilir di Madura," tegasnya.

Bahkan, setelah memberikan penjelasan di hadapan para wakil rakyat, pihak PLN mengajak anggota komisi C melihat langsung kesiapan PLTG Kamal. Di sana, Ketua Komisi C Mukaffi Anwar dan anggotanya diperlihatkan kinerja PLTG dalam menyokong kebutuhan listrik di Madura. "Kami siap bekerja keras untuk menyediakan pasokan listrik di seluruh Madura," kata Chairul.

Mukaffi Anwar saat dikonfiramsi koran ini menyatakan puas. Dia mengaku sudah mengerti akan kebutuhan listrik di Madura, khususnya di Bangkalan. Namun, dia tetap berharap agar terus ada peningkatan pelayanan PLN.

"Sekarang semua sudah menjadi jelas. Terpenting ada jaminan dari PLN bahwa masyarakat Madura tidak akan kesulitan mendapatkan pasokan listrik," tandasnya. (ale/mat)

Sumber: Jawa Pos, 23/01/2010

Labels: , , ,

Listrik Madura Masih Rawan

Pencarian Kerusakan Belum Tuntas, Butuh 1,5 Bulan

Pelanggan listrik di Madura masih harus sabar menunggu agar pasokan energi listrik kembali normal. Pascaputusnya kabel listrik bawah laut akibat terkena jangkar kapal KM Kirana III, Senin (4/1) lalu, hingga saat ini pencarian kerusakan belum tuntas.

Manajer Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) PT PLN Region Jatim dan Bali, Asep Burhan mengatakan, tim penyelam dan teknisi PLN masih melakukan pencarian titik kabel di laut yang putus. Hasilnya, hanya satu bagian kabel yang putus berhasil ditemukan, sedang bagian lainnya belum ditemukan.

Jika titik kerusakan telah ditemukan, pihaknya baru bisa melakukan perbaikan yang diperkirakan butuh waktu sekitar 1,5 bulan. Untuk tahap ini, ia melibatkan tim PLN Distribusi Jatim dan Pembangkitan Jawa Bali.

“Kita berusaha segera menyelesaikan perbaikan ini. Kami minta pelanggan PLN di Madura sabar,” papar Asep, Senin (11/1).

Soal biaya perbaikan kabel, Asep mengaku belum bisa memperkirakan karena masih dalampenghitungan. Informasinya sekitar Rp 12,5 miliar.

Ia mengatakan bahwa dana perbaikan maupun beban biaya pengoperasian listrik sementara ke Madura masih dalam proses pihak berwenang. “Kita tunggu hasil dari proses hukum,” tegas Asep.

Menurutnya, selama masa perbaikan kabel bawah laut, pihaknya mengandalkan satu sirkit kabel bawah laut berkapasitas 100 MW. Jaringan kabel ini mampu menyuplai kebutuhan sekitar 500.000 pelanggan di 4 kabupaten di Madura, di mana saat beban puncak mencapai 130 MW. Sedang kekurangannya dipasok dari PLTG di Gili Timur berkapasitas 2×17 MW.

“Dengan kondisi ini, terkadang saat beban puncak ada daerah yang padam. Namun saat ini kondisinya normal,” ujar Asep.

Ia menambahkan, PLN saat ini juga tengah menyelesaikan pemasangan dua sirkit kabel bertegangan 200 MW sepanjang 8 kilometer melalui jembatan Suramadu, yang dijadwalkan beroperasi Maret nanti. “Pengerjaannya sudah 80 persen,” tegasnya.

Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jatim Agus Widayanto menjelaskan, untuk mengoperasikan PLTG itu dibutuhkan biaya cukup besar, mengingat bahan bakarnya menggunakan solar akibat ketiadaan pasokan gas. Bahkan diprediksi, alokasi dana selama perbaikan kabel bawah laut mencapai Rp 28,56 miliar.

Seperti diketahui, kabel listrik bawah laut milik PT PLN terkena jangkar KM Kirana III milik PT Dharma Lautan Utama (DLU). Kabel yang merupakan jaringan listrik interkoneksi Jawa Bali itu digelar di kawasan anchor free zone. Di kawasan ini kapal tidak dibolehkan lego jangkar.

Direktur Utama DLU Bambang Harjo mengatakan, cuaca buruk menyebabkan kapal terseret ombak sehingga jangkarnya memutus jaringan kabel PLN.

Karena itu, ia berharap PT PLN tidak begitu saja membebankan kerugian kepada DLU. “Seandainya harus membayar ganti rugi, ia berharap besarannya disesuaikan dengan kemampuan perusahaan,” kata Bambang. (ndio)

Sumber: Surya, Selasa, 12 Januari 2010

Labels: , , , , ,

Sirkuit di Bawah Jembatan Suramadu

Februari mendatang, satu di antara dua sirkuit di bawah Jembatan Suramadu (JS) yang digunakan untuk mengalirkan listrik ke Madura segera beroperasi. Dengan beroperasinya satu sirkuit berkapasitas 200 MW ini, dipastikan pasokan listrik ke Madura akan aman di masa mendatang.

Kabel yang dipasang menempel di bawah Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 km ini menghabiskan dana sebesar Rp 215 miliar. Proses pembangunan sirkuit ini dimulai sejak diresmikannya Jembatan Suramadu pertengahan tahun 2009 lalu. ”Pengerjaan instalasi selesai pertengahan Februari. Sebenarnya, nantinya akan ada dua sirkuit tapi pengerjaannya bertahap. Begitu satu ini beroperasi, pengerjaan sirkuit berikutnya akan segera dimulai,” kata Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jatim, Agus Widayanto ketika ditemui di kantornya, Selasa (12/1).

Sirkuit kedua juga memiliki kapasitas 200 MW dan ditargetkan selesai dalam waktu tujuh bulan mendatang. Dengan beroperasinya satu sirkuit saja sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik Madura saat ini yang saat beban puncaknya sekitar 120 MW. Dikatakan Agus, dibangunnya dua sirkuit ini memang untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan listrik di Madura. Pasca dioperasikannya Jembatan Suramadu, kebutuhan listrik Madura terus mengalami peningkatan, baik untuk konsumen Rumah Tangga (RT) maupun industri. Pertumbuhan konsumsi listrik di Madura tumbuh 6% per tahun.

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 13 Januari 2010

Labels: , , ,

Setelah 5 Jam Mati, Listrik Madura Normal Kembali

Pulau Madura selama hampir lima jam, mengalami listrik padam total (black out) pada Senin malam (4/1), setelah kabel bawah laut di Selat Madura terputus terkena jangkar kapal. Hari ini (Selasa 5/1), PT PLN berhasil menormalkan jaringan dengan mengunakan kabel cadangan.

”Setelah sempat mengalami padam total selama hampir lima jam, listrik di Madura kembali menyala sejka pukul 02:00 dini hari setelah mempergunakan kabel cadangan,” kata Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jawa Timur Agus Widayanto kepada Media Indonesia di Surabaya, Selasa (5/1).

Listrik di seluruh Madura padam total akibat kabel bawah laut yang menghubungkan PLTU di Gresik dengan Madura, terputus akibat terkena jangkar kapal Kirana 3.

Akibat terputusnya kabel pada senin malam, selama lima jam dari pukul 23.00 hingga 01.45 dinihari, seluruh listrik di Madura padam total.

PT PLN yang mengetahui kejadian itu langsung mengalihkan penyaluran listrik ke kabel cadangan, sehingga pemadaman bisa teratasi.

PT PLN kini kosentrasi untuk mengatasi serta mencari titik putusnya kabel tersebut, jangka pendek yang dilakukan adalah menormalkan aliran listrik ke Madura. ”Kita belum mengetahui di titik mana kabel itu putus, tapi untuk sementara ini yang kita lakukan normalisasi lebih dulu agar listrik bisa menyala kembali,” katanya.

Meski telah tertasi, namun pasokan listrik di Madura masih rawan, sebab tidak ada kabel cadangan lagi, dengan satu kabel mampu menyuplai listrik ke Madura mencapai 250 megawat dari kebutuhan hanya 112 megawat.

”Soal pasukan tidak ada masalah tapi tetap saja masuk kategori rawan, kalau sampai terjadi lagi tentu akan merugikan masyarakat,” katanya.

PT PLN masih melakukan upaya untuk memperbaiki kabel yang putus tersebut. Diperkirakan membutuhkan waktu selama tiga bulan guna menyambung kembali.

Pihaknya belum memastikan berapa jumlah kerugian yang dialami PLN. Sebab, belum dihitung secara finansial. ”Nanti saja, yang penting normal kembali,” katanya.

Peristiwa black out ini merupakan yang kedua kalinya, tahun 1999 kasus serupa terjadi, kabel bawah laut ditabrak kapal Kapal Hanoman yang menyebabkan selama satu minggu Madura padam total. (ant)

Sumber: Surya, Selasa, 5 Januari 2010

Labels: , , , ,

Madura Gelap Gulita Lima Jam

Jangkar Kapal Putuskan Kabel Bawah Laut PLN

Sekitar lima jam listrik di seluruh wilayah Madura mati total menyusul putusnya satu jaringan kabel listrik bawah laut PLN akibat tersangkut jangkar Kapal Motor (KM) Kirana 3 di Buoy 6 di Alur Pelayaran Surabaya Barat, Senin (4/1) sekitar pukul 22.15 WIB.

Peristiwa yang menggegerkan warga Madura itu berawal ketika KM Kirana 3 yang berlayar dari Sampit (Kalimantan Tengah) menuju Surabaya, akan memasuki Pelabuhan Tanjung Perak sekitar pukul 22.00 WIB.

Ketika menjelang perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), kapal itu – yang mengangkut 200 penumpang dan 40 unit kendaraan termasuk truk – tidak dipandu oleh petugas pandu. Padahal, untuk masuk ke APBS yang alurnya sempit, harus menggunakan jasa pandu. Kapal milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) itu hanya dipandu jalannya lewat radio komunikasi.

Saat itu, arus di perairan APBS cukup kuat sehingga kecepatan kapal diturunkan jadi separonya oleh nakhoda Subandrio dari kecepatan semula. Meski demikian, kapal masih melaju cukup kencang akibat kuatnya arus itu. Bahkan, ketika mesin kapal kemudian dimatikan, kapal masih berjalan sekitar 8 knot.

Kapal pun terseret hingga ke kawasan Buoy 6. Di kawasan itu ada dua rambu lampu kuning sebagai peringatan bahaya. Rambu lampu kuning I untuk mewaspadai adanya pipa gas bawah laut milik Kodeco, dan rambu lampu kuning II untuk peringatan adanya kabel bawah laut milik PLN.

Menurut Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak, Cholik Kirom, setelah melintas rambu I, nakhoda beranggapan bahwa kondisi sudah aman. Karena melihat kapal masih terbawa arus, jangkar pun ia turunkan dengan harapan supaya kapal tidak melaju terus. Tetapi, masih saja kapal tak mau berhenti, yang artinya jangkar juga ikut terseret.

“Nah, ternyata di situ masih ada rambu lampu kuning II untuk peringatan adanya kabel listrik bawah laut. Akhirnya, jangkar itu nyantol kabel tersebut, tertarik dan kemudian putus,” ungkap Cholik, Selasa (5/1).

Yang terputus itu adalah kabel utama bawah laut PLN yang melintasi APBS. Ada dua kabel di situ, yakni kabel utama dan kabel cadangan yang letaknya bersebelahan. Listrik yang dialirkan ke Madura lewat kabel tersebut berasal dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Gresik.

Sebenarnya, tatkala nakhoda berbicara melalui radio komunikasi dengan petugas radar, dia sudah diingatkan supaya tidak lego jangkar karena masih ada satu rambu lampu kuning lagi. Namun peringatan itu tidak diindahkan nakhoda.

“Mungkin nakhoda beranggapan kondisinya sudah aman sehingga lego jangkar,” tuturnya. Cholik menduga, kabel yang ada di dasar laut itu tidak ditanam sesuai standar oleh kontraktor yang mengerjakan. Pasalnya, sedimentasi di dasar laut berbeda-beda. Ada yang tanahnya lunak dan ada yang keras seperti karang. Kemungkinan kabel listrik yang terseret itu itu hanya dilewatkan di bagian-bagian karang, tidak ditanam di bawahnya.

“Mungkin kabel hanya ditempatkan di karang dan kemudian diuruk dengan bebatuan. Bisa jadi, karena alasan biaya mahal jika kabel ditanam di bawahnya,” jelasnya. Namun, keterangan lain menyebutkan, kabel itu ditanam antara 2-4 meter di bawah dasar laut.

Putusnya kabel di dasar laut ini merupakan peristiwa yang kelima di APBS. Tiga berakibat fatal, dan dua peristiwa hanya kecil dampaknya. Penyebabnya sama karena terseret jangkar.

Dalam peristiwa kemarin, delapan kru kapal di antaranya nakhoda Subiantoro dan tujuh ABK (Anak Buah Kapal) diperiksa Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Syahbandar Tanjung Perak untuk mengetahui kesalahan.

“Kapal masih dipersilakan jalan untuk kepentingan masyarakat. Tapi kru kapal kan bisa diganti dengan yang lain,” paparnya.

Siapa yang bersalah

Adpel masih belum bisa memastikan. “Semua masih dalam penyidikan. Tunggu satu sampai dua hari sudah kelar. Yang jelas, dari pihak pelayaran punya itikad baik untuk ikut menyelesaikan,” ungkapnya.

Secara terpisah, Direktur Utama PT DLU Bambang Harjo mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi oleh Adpel Tanjung Perak. “Jika hasil investigasi sudah ada, baru kami akan memberikan tanggapan,” tegasnya

Sementara itu, Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, Iwan Sabatini menuturkan, kapal sekelas KM Kirana 3 yang masuk ke APBS tidak harus dipandu karena ukurannya kecil. Selama ini, tugas memandu merupakan kewenangan instansi di bawah PT Pelindo III.

Menurut Iwan, yang perlu perhatian di APBS ada lima persoalan. Pertama, perairan di APBS dangkal. Kedalamannya sekitar 9 meter. Ke depan perairan itu akan dikeruk hingga mencapai kedalaman 12 meter.

Kedua, adanya pemasangan pipa gas Kodeco. Pipa gas itu melintang di alur dan harus segera dipindahkan.

Ketiga, ada 20-an bangkai kapal yang belum ditarik di alur APBS. Posisinya memang tidak di tengah alur tetapi di tepi. Namun, bangkai kapal itu bisa mengganggu kapal yang akan berlabuh.

Keempat, kabel listrik bawah laut. Penanaman kabel itu seharusnya 12 meter di bawah permukaan, tapi kabel itu tertanam sekitar 2 sampai 4 meter saja. Kelima, alur pelayaran di Buoy 6 dan 7 itu sempit dan harus dilebarkan. Bagian kiri kanan harus dikeruk supaya kapal besar bisa bersimpangan saat melintas. Selama ini, jika ada kapal besar yang melintas harus berhenti salah satu.

“Ke depan alur itu akan dikeruk. Tapi kalau dikeruk, nasib pipa gas dan kabel listrik bagaimana,” ucap Iwan dengan nada tanya.

Di tempat terpisah, Manager PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Jawa Bali untuk Region Jatim dan Bali, Asep Burhan mengatakan, butuh waktu sekitar 45 hari sampai dengan 2 bulan untuk melakukan perbaikan sampai penyaluran kembali listrik setelah rusaknya kabel listrik bawah laut itu.

Saat ini, P3B masih melakukan proses administrasi serta penyusunan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) terkait kejadian yang sempat memadamkan listrik di 4 kabupaten di Madura itu. “Jadi kami belum melakukan apa-apa, juga belum tahu seberapa parah kerusakannya,” kata Asep, Selasa (5/1).

Ia menjelaskan, pemasangan kabel listrik bawah laut tersebut sudah sesuai dengan standar internasional. Namun, diakui Asep bahwa kabel bawah laut rawan putus terkena jangkar kapal. Sebab, kabel itu memang tergelar di alur padat lalu lintas kapal.

Kabel bawah laut yang ada di Selat Madura saat ini berjumlah 2 sirkuit, yang masing-masing berkapasitas 100 MW. Jaringan kabel ini mampu menyuplai kebutuhan sekitar 500.000 pelanggan listrik di 4 kabupaten di Madura, dengan beban puncak mencapai 130 MW.

Dengan satu kabel terputus, satu lagi kabel bawah laut sebagai cadangan akan difungsikan maksimal. Suplai setrum ke Madura akan ditambah pula dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Gili Timur yang berkapasitas 2×30 MW.

Meski telah teratasi sementara, lanjut Asep, namun pasokan listrik di Madura masih rawan. Sebab, satu-satunya kabel cadangan yang berfungsi tidak cukup bisa diandalkan.

Padamnya listrik selama 7 jam pada malam dan dinihari di Madura terdampak terhadap kondisi keamanan di beberada desa di Sumenep.

Ketika listrik padam, terjadi tiga kasus pencurian sapi di Desa Lenteng Barat dan Desa Batu Putih Utara. “Kami mendengar tadi malam tiga warga kehilangan sapi, yang ditaruh di kandang belakang rumahnya. Selama ini kandang sapi diberi penerangan lampu listrik. Nah saat padam itu, sapi warga dicuri,” kata Aditio, warga Desa Lenteng Barat. (mif/dio/uji/riv/sin/st32)

Sumber: Surya, Rabu, 6 Januari 2010

Labels: , , , , , ,