Besok Listrik Madura Normal

Dikerjakan Tenaga Lokal

Jaringan listrik di Pulau Madura mulai Selasa (2/3) diperkirakan kembali normal, setelah selama dua bulan mengalami gangguan pemadaman.

Penyebabnya, karena salah satu sirkit saluran kabel bawah laut tegangan tinggi (SKLT) 150 KV di Selat Madura itu putus karena tersangkut jangkar kapal pada 4 Januari lalu.

Manajer PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Region Jatim dan Bali (RJTB), Asep Burhan mengatakan, kembali normalnya listrik Madura itu seiring dengan rampungnya pekerjaan penyambungan SKLT.

“Dengan memakai sekitar 50 tenaga kerja sendiri, kami melakukan pekerjaan penyambungan selama sebulan ini,” ungkap Asep kemarin.

Ia mengaku, sengaja mengerahkan tenaga lokal sebagai upaya penghematan. Langkah ini ternyata mampu menghemat anggaran PLN hingga Rp 6,3 miliar.

Sebelumnya, ia pernah melibatkan tenaga lokal saat kejadian serupa pada 2005-2006, juga menghemat Rp 6,3 miliar. PLN pernah memakai jasa tenaga kerja asing dari Inggris dan Italia.

Wakil Project Manager pada pekerjaan SKLT 2010, Sudirman mengakui, pekerjaan yang terberat adalah saat timnya bersama penyelam mencari kabel yang rusak di bawah laut, karena derasnya arus dasar laut Selat Madura.

“Untuk kegiatan ini saja, butuh waktu sekitar tiga pekan. Kami harus mengganti kabel yang rusak parah sepanjang 262 meter,” ujar Sudirman.

Untuk pekerjaan penyambungan masing-masing sisi butuh waktu 5-6 hari. “Jadi, kami harus menyewa kapal berikut peralatannya untuk sandar di tengah laut hingga pekerjaan selesai,” jelasnya.

Senin (1/3) ini, diperkirakan pihaknya akan membenamkan kabel yang telah tersambung sedalam 24-30 meter.

“Selanjutnya akan dicek secara keseluruhan dan jika sudah sempurna, keesokan harinya bisa dipastikan sudah bisa dioperasikan,” imbuh Sudirman. (ndio)

Sumber: Surya, Senin, 1 Maret 2010

Labels: , , ,

Listrik Madura Masih Rawan

Pencarian Kerusakan Belum Tuntas, Butuh 1,5 Bulan

Pelanggan listrik di Madura masih harus sabar menunggu agar pasokan energi listrik kembali normal. Pascaputusnya kabel listrik bawah laut akibat terkena jangkar kapal KM Kirana III, Senin (4/1) lalu, hingga saat ini pencarian kerusakan belum tuntas.

Manajer Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) PT PLN Region Jatim dan Bali, Asep Burhan mengatakan, tim penyelam dan teknisi PLN masih melakukan pencarian titik kabel di laut yang putus. Hasilnya, hanya satu bagian kabel yang putus berhasil ditemukan, sedang bagian lainnya belum ditemukan.

Jika titik kerusakan telah ditemukan, pihaknya baru bisa melakukan perbaikan yang diperkirakan butuh waktu sekitar 1,5 bulan. Untuk tahap ini, ia melibatkan tim PLN Distribusi Jatim dan Pembangkitan Jawa Bali.

“Kita berusaha segera menyelesaikan perbaikan ini. Kami minta pelanggan PLN di Madura sabar,” papar Asep, Senin (11/1).

Soal biaya perbaikan kabel, Asep mengaku belum bisa memperkirakan karena masih dalampenghitungan. Informasinya sekitar Rp 12,5 miliar.

Ia mengatakan bahwa dana perbaikan maupun beban biaya pengoperasian listrik sementara ke Madura masih dalam proses pihak berwenang. “Kita tunggu hasil dari proses hukum,” tegas Asep.

Menurutnya, selama masa perbaikan kabel bawah laut, pihaknya mengandalkan satu sirkit kabel bawah laut berkapasitas 100 MW. Jaringan kabel ini mampu menyuplai kebutuhan sekitar 500.000 pelanggan di 4 kabupaten di Madura, di mana saat beban puncak mencapai 130 MW. Sedang kekurangannya dipasok dari PLTG di Gili Timur berkapasitas 2×17 MW.

“Dengan kondisi ini, terkadang saat beban puncak ada daerah yang padam. Namun saat ini kondisinya normal,” ujar Asep.

Ia menambahkan, PLN saat ini juga tengah menyelesaikan pemasangan dua sirkit kabel bertegangan 200 MW sepanjang 8 kilometer melalui jembatan Suramadu, yang dijadwalkan beroperasi Maret nanti. “Pengerjaannya sudah 80 persen,” tegasnya.

Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jatim Agus Widayanto menjelaskan, untuk mengoperasikan PLTG itu dibutuhkan biaya cukup besar, mengingat bahan bakarnya menggunakan solar akibat ketiadaan pasokan gas. Bahkan diprediksi, alokasi dana selama perbaikan kabel bawah laut mencapai Rp 28,56 miliar.

Seperti diketahui, kabel listrik bawah laut milik PT PLN terkena jangkar KM Kirana III milik PT Dharma Lautan Utama (DLU). Kabel yang merupakan jaringan listrik interkoneksi Jawa Bali itu digelar di kawasan anchor free zone. Di kawasan ini kapal tidak dibolehkan lego jangkar.

Direktur Utama DLU Bambang Harjo mengatakan, cuaca buruk menyebabkan kapal terseret ombak sehingga jangkarnya memutus jaringan kabel PLN.

Karena itu, ia berharap PT PLN tidak begitu saja membebankan kerugian kepada DLU. “Seandainya harus membayar ganti rugi, ia berharap besarannya disesuaikan dengan kemampuan perusahaan,” kata Bambang. (ndio)

Sumber: Surya, Selasa, 12 Januari 2010

Labels: , , , , ,

Setelah 5 Jam Mati, Listrik Madura Normal Kembali

Pulau Madura selama hampir lima jam, mengalami listrik padam total (black out) pada Senin malam (4/1), setelah kabel bawah laut di Selat Madura terputus terkena jangkar kapal. Hari ini (Selasa 5/1), PT PLN berhasil menormalkan jaringan dengan mengunakan kabel cadangan.

”Setelah sempat mengalami padam total selama hampir lima jam, listrik di Madura kembali menyala sejka pukul 02:00 dini hari setelah mempergunakan kabel cadangan,” kata Corporate Speaker PT PLN Distribusi Jawa Timur Agus Widayanto kepada Media Indonesia di Surabaya, Selasa (5/1).

Listrik di seluruh Madura padam total akibat kabel bawah laut yang menghubungkan PLTU di Gresik dengan Madura, terputus akibat terkena jangkar kapal Kirana 3.

Akibat terputusnya kabel pada senin malam, selama lima jam dari pukul 23.00 hingga 01.45 dinihari, seluruh listrik di Madura padam total.

PT PLN yang mengetahui kejadian itu langsung mengalihkan penyaluran listrik ke kabel cadangan, sehingga pemadaman bisa teratasi.

PT PLN kini kosentrasi untuk mengatasi serta mencari titik putusnya kabel tersebut, jangka pendek yang dilakukan adalah menormalkan aliran listrik ke Madura. ”Kita belum mengetahui di titik mana kabel itu putus, tapi untuk sementara ini yang kita lakukan normalisasi lebih dulu agar listrik bisa menyala kembali,” katanya.

Meski telah tertasi, namun pasokan listrik di Madura masih rawan, sebab tidak ada kabel cadangan lagi, dengan satu kabel mampu menyuplai listrik ke Madura mencapai 250 megawat dari kebutuhan hanya 112 megawat.

”Soal pasukan tidak ada masalah tapi tetap saja masuk kategori rawan, kalau sampai terjadi lagi tentu akan merugikan masyarakat,” katanya.

PT PLN masih melakukan upaya untuk memperbaiki kabel yang putus tersebut. Diperkirakan membutuhkan waktu selama tiga bulan guna menyambung kembali.

Pihaknya belum memastikan berapa jumlah kerugian yang dialami PLN. Sebab, belum dihitung secara finansial. ”Nanti saja, yang penting normal kembali,” katanya.

Peristiwa black out ini merupakan yang kedua kalinya, tahun 1999 kasus serupa terjadi, kabel bawah laut ditabrak kapal Kapal Hanoman yang menyebabkan selama satu minggu Madura padam total. (ant)

Sumber: Surya, Selasa, 5 Januari 2010

Labels: , , , ,

Madura Gelap Gulita Lima Jam

Jangkar Kapal Putuskan Kabel Bawah Laut PLN

Sekitar lima jam listrik di seluruh wilayah Madura mati total menyusul putusnya satu jaringan kabel listrik bawah laut PLN akibat tersangkut jangkar Kapal Motor (KM) Kirana 3 di Buoy 6 di Alur Pelayaran Surabaya Barat, Senin (4/1) sekitar pukul 22.15 WIB.

Peristiwa yang menggegerkan warga Madura itu berawal ketika KM Kirana 3 yang berlayar dari Sampit (Kalimantan Tengah) menuju Surabaya, akan memasuki Pelabuhan Tanjung Perak sekitar pukul 22.00 WIB.

Ketika menjelang perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), kapal itu – yang mengangkut 200 penumpang dan 40 unit kendaraan termasuk truk – tidak dipandu oleh petugas pandu. Padahal, untuk masuk ke APBS yang alurnya sempit, harus menggunakan jasa pandu. Kapal milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) itu hanya dipandu jalannya lewat radio komunikasi.

Saat itu, arus di perairan APBS cukup kuat sehingga kecepatan kapal diturunkan jadi separonya oleh nakhoda Subandrio dari kecepatan semula. Meski demikian, kapal masih melaju cukup kencang akibat kuatnya arus itu. Bahkan, ketika mesin kapal kemudian dimatikan, kapal masih berjalan sekitar 8 knot.

Kapal pun terseret hingga ke kawasan Buoy 6. Di kawasan itu ada dua rambu lampu kuning sebagai peringatan bahaya. Rambu lampu kuning I untuk mewaspadai adanya pipa gas bawah laut milik Kodeco, dan rambu lampu kuning II untuk peringatan adanya kabel bawah laut milik PLN.

Menurut Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak, Cholik Kirom, setelah melintas rambu I, nakhoda beranggapan bahwa kondisi sudah aman. Karena melihat kapal masih terbawa arus, jangkar pun ia turunkan dengan harapan supaya kapal tidak melaju terus. Tetapi, masih saja kapal tak mau berhenti, yang artinya jangkar juga ikut terseret.

“Nah, ternyata di situ masih ada rambu lampu kuning II untuk peringatan adanya kabel listrik bawah laut. Akhirnya, jangkar itu nyantol kabel tersebut, tertarik dan kemudian putus,” ungkap Cholik, Selasa (5/1).

Yang terputus itu adalah kabel utama bawah laut PLN yang melintasi APBS. Ada dua kabel di situ, yakni kabel utama dan kabel cadangan yang letaknya bersebelahan. Listrik yang dialirkan ke Madura lewat kabel tersebut berasal dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Gresik.

Sebenarnya, tatkala nakhoda berbicara melalui radio komunikasi dengan petugas radar, dia sudah diingatkan supaya tidak lego jangkar karena masih ada satu rambu lampu kuning lagi. Namun peringatan itu tidak diindahkan nakhoda.

“Mungkin nakhoda beranggapan kondisinya sudah aman sehingga lego jangkar,” tuturnya. Cholik menduga, kabel yang ada di dasar laut itu tidak ditanam sesuai standar oleh kontraktor yang mengerjakan. Pasalnya, sedimentasi di dasar laut berbeda-beda. Ada yang tanahnya lunak dan ada yang keras seperti karang. Kemungkinan kabel listrik yang terseret itu itu hanya dilewatkan di bagian-bagian karang, tidak ditanam di bawahnya.

“Mungkin kabel hanya ditempatkan di karang dan kemudian diuruk dengan bebatuan. Bisa jadi, karena alasan biaya mahal jika kabel ditanam di bawahnya,” jelasnya. Namun, keterangan lain menyebutkan, kabel itu ditanam antara 2-4 meter di bawah dasar laut.

Putusnya kabel di dasar laut ini merupakan peristiwa yang kelima di APBS. Tiga berakibat fatal, dan dua peristiwa hanya kecil dampaknya. Penyebabnya sama karena terseret jangkar.

Dalam peristiwa kemarin, delapan kru kapal di antaranya nakhoda Subiantoro dan tujuh ABK (Anak Buah Kapal) diperiksa Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Syahbandar Tanjung Perak untuk mengetahui kesalahan.

“Kapal masih dipersilakan jalan untuk kepentingan masyarakat. Tapi kru kapal kan bisa diganti dengan yang lain,” paparnya.

Siapa yang bersalah

Adpel masih belum bisa memastikan. “Semua masih dalam penyidikan. Tunggu satu sampai dua hari sudah kelar. Yang jelas, dari pihak pelayaran punya itikad baik untuk ikut menyelesaikan,” ungkapnya.

Secara terpisah, Direktur Utama PT DLU Bambang Harjo mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi oleh Adpel Tanjung Perak. “Jika hasil investigasi sudah ada, baru kami akan memberikan tanggapan,” tegasnya

Sementara itu, Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, Iwan Sabatini menuturkan, kapal sekelas KM Kirana 3 yang masuk ke APBS tidak harus dipandu karena ukurannya kecil. Selama ini, tugas memandu merupakan kewenangan instansi di bawah PT Pelindo III.

Menurut Iwan, yang perlu perhatian di APBS ada lima persoalan. Pertama, perairan di APBS dangkal. Kedalamannya sekitar 9 meter. Ke depan perairan itu akan dikeruk hingga mencapai kedalaman 12 meter.

Kedua, adanya pemasangan pipa gas Kodeco. Pipa gas itu melintang di alur dan harus segera dipindahkan.

Ketiga, ada 20-an bangkai kapal yang belum ditarik di alur APBS. Posisinya memang tidak di tengah alur tetapi di tepi. Namun, bangkai kapal itu bisa mengganggu kapal yang akan berlabuh.

Keempat, kabel listrik bawah laut. Penanaman kabel itu seharusnya 12 meter di bawah permukaan, tapi kabel itu tertanam sekitar 2 sampai 4 meter saja. Kelima, alur pelayaran di Buoy 6 dan 7 itu sempit dan harus dilebarkan. Bagian kiri kanan harus dikeruk supaya kapal besar bisa bersimpangan saat melintas. Selama ini, jika ada kapal besar yang melintas harus berhenti salah satu.

“Ke depan alur itu akan dikeruk. Tapi kalau dikeruk, nasib pipa gas dan kabel listrik bagaimana,” ucap Iwan dengan nada tanya.

Di tempat terpisah, Manager PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Jawa Bali untuk Region Jatim dan Bali, Asep Burhan mengatakan, butuh waktu sekitar 45 hari sampai dengan 2 bulan untuk melakukan perbaikan sampai penyaluran kembali listrik setelah rusaknya kabel listrik bawah laut itu.

Saat ini, P3B masih melakukan proses administrasi serta penyusunan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) terkait kejadian yang sempat memadamkan listrik di 4 kabupaten di Madura itu. “Jadi kami belum melakukan apa-apa, juga belum tahu seberapa parah kerusakannya,” kata Asep, Selasa (5/1).

Ia menjelaskan, pemasangan kabel listrik bawah laut tersebut sudah sesuai dengan standar internasional. Namun, diakui Asep bahwa kabel bawah laut rawan putus terkena jangkar kapal. Sebab, kabel itu memang tergelar di alur padat lalu lintas kapal.

Kabel bawah laut yang ada di Selat Madura saat ini berjumlah 2 sirkuit, yang masing-masing berkapasitas 100 MW. Jaringan kabel ini mampu menyuplai kebutuhan sekitar 500.000 pelanggan listrik di 4 kabupaten di Madura, dengan beban puncak mencapai 130 MW.

Dengan satu kabel terputus, satu lagi kabel bawah laut sebagai cadangan akan difungsikan maksimal. Suplai setrum ke Madura akan ditambah pula dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Gili Timur yang berkapasitas 2×30 MW.

Meski telah teratasi sementara, lanjut Asep, namun pasokan listrik di Madura masih rawan. Sebab, satu-satunya kabel cadangan yang berfungsi tidak cukup bisa diandalkan.

Padamnya listrik selama 7 jam pada malam dan dinihari di Madura terdampak terhadap kondisi keamanan di beberada desa di Sumenep.

Ketika listrik padam, terjadi tiga kasus pencurian sapi di Desa Lenteng Barat dan Desa Batu Putih Utara. “Kami mendengar tadi malam tiga warga kehilangan sapi, yang ditaruh di kandang belakang rumahnya. Selama ini kandang sapi diberi penerangan lampu listrik. Nah saat padam itu, sapi warga dicuri,” kata Aditio, warga Desa Lenteng Barat. (mif/dio/uji/riv/sin/st32)

Sumber: Surya, Rabu, 6 Januari 2010

Labels: , , , , , ,

Nunggak, Listrik Suramadu Diputus

Jalan akses jembatan Suramadu dari sisi Madura gelap-gulita, Senin (30/11) malam. Kondisi itu sangat mengganggu dan menyulitkan pengendara karena kegelapan itu terjadi hingga di loket karcis.

Usut punya usut, ternyata jaringan listrik itu memang sengaja diputus Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Bangkalan. Alasannya, pengelola Suramadu menunggak pembayaran listrik sebesar Rp 15,4 juta.

“Kami sudah memberikan teguran melalui surat kepada pihak Suramadu. Namun mereka tidak mengindahkan teguran kami. Jadi kami harus bersikap tegas,” jelas Taufik Santoso, Kepala PLN UPJ Bangkalan, Selasa (1/12).

Menurutnya, keputusan pemutusan listrik di akses menuju jembatan Suramadu tersebut tidak diambil secara sepihak. Sebelumnya pihaknya telah melayangkan surat teguran dengan nomor 161/UPJ-BKL/2009 tanggal 26 November 2009 lalu bertepatan dengan batas waktu pembayaran listrik di akses menuju jembatan Suramadu. “Setelah toleransi selama satu minggu kami berikan, tidak ada tindakan kooperatif dari pihak pengelola,” tegasnya.

Akhirnya PLN UPJ Bangkalan bersikap tegas dengan memutus aliran listrik pada Senin (30/11) pukul 18.00 WIB. Taufik juga menyesalkan sikap pengelola jembatan Suramadu dalam menyikapi masalah tunggakan listrik tersebut.

“Masak kita hanya ditelepon. Seharusnya mereka (pengelola Suramadu) mengirim surat untuk selanjutnya kami ajukan ke pusat terkait perpanjangan toleransi penundaan pembayaran,” keluhnya.
Berdasarkan data di PLN, pada November tunggakan listrik pihak Suramadu sebesar Rp 15,4 juta. Jumlah tersebut merupakan akumulasi tunggakan yang tercatat di UPJ Bangkalan (Rp 7,3 juta) dan Kamal (Rp 8,1 juta).

Pembagian jaringan listrik pada akses Suramadu terbagi menjadi dua. UPJ Bangkalan bertanggung jawab pada jaringan listrik dari pintu masuk akses Suramadu hingga traffic light yang terdapat di Desa Petapan. Sedangkan UPJ Kamal bertanggung jawab dari lampu merah tersebut hingga batas bentang tol Suramadu.

Akibat pemadaman listrik tersebut, semakin memperpanjang permasalahan yang melilit di jembatan sepanjang 5,4 km itu. Pasalnya, penyediaan listrik di bentang jembatan Suramadu hingga saat ini belum juga ada kejelasan. Hal ini ditambah padamnya lampu di akses menuju Suramadu dari sisi Madura.

Kepala Shift Suramadu, Bahrum, membenarkan bahwa telah terjadi pemadaman listrik di akses menuju Suramadu. Ia menuturkan, pemadaman tersebut sangat tidak nyaman bagi pengendara setelah keluar dari Suramadu. “Di tempat pembelian tiket, lampu penerangan jalan umum juga mati. Namun, hal itu tidak berpengaruh pada pembelian tiket. Karena kami telah menyediakan dua generator,” jelasnya.

PLN Ngawur
Gelap gulitanya jalan akses jembatan Suramadu akibat aliran listrik diputus oleh PLN, ditanggapi serius AG Ismail, Kepala Balai Besar Jalan Nasional V yang membawahi proyek jembatan Suramadu.

Dia menuding PLN bertindak seenaknya sendiri dalam memutuskan pasokan arus listrik di akses Suramadu sisi Madura. Mestinya, sebelum listrik diputus, pihak PLN memberitahu terlebih dahulu kepada pimpinan proyek Suramadu sisi Madura. “Tapi nyatanya hal itu tidak dilakukan. Pemberitahuan tak ada, tapi langsung diputus begitu saja. Jadi PLN yang ngawur,” tegasnya kepada Surya, Selasa (1/12) lewat ponsel.

Meski demikian, pihaknya, kata Ismail sudah mengkonfirmasi Pemimpin Proyek Suramadu sisi Madura, Siswo Dwijanto. Dari laporan Siswo, Ismail diberitahu bahwa mulai kemarin listrik di akses Suramadu sisi Madura sudah menyala kembali.

Sementara itu, Agus Purnomo, Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya yang mengelola jembatan Suramadu menambahkan, masalah lampu atau penerangan listrik di atas jembatan sepanjang 5,438 km bukan pihaknya yang menangangi. “Itu urusan proyek (Balai Besar Jalan Nasional V),” katanya.
Menurut Agus, hingga saat ini, tol Suramadu, belum teraliri listrik dari PLN. Penerangan yang ada masih mengandalkan genset, mulai untuk menghidupkan lampu jalan, AC, dan gardu serta sejumlah fasilitas umum lainnya. “Dan itu inisiatif dari kami selaku pengelola. Karena hingga kini PLN belum masuk,” tegasnya. (st32/uji)

Sumber: Surya, Rabu, 2 Desember 2009

Labels: , ,