Akhirnya, Pengungsi Syiah Terusir

Jumat, 21/06/2013 | 11:02 WIB SP/Achmad Hairuddin Para pengungsi Syiah tengah mengemasi barang-barangnya untuk menuju tempat penampungan baru. Para kiai berpendapat pengikut Syiah dijual sebagai komoditas non migas oleh pihak tertentu Sampang - Proses pengusiran pengikut Syiah yang mengungsi di GOR tennis indoor Sampang sejak 10 bulan lalu, berlangsung dramatis. Ribuan massa dari berbagai Pondok Pesantren (Ponpes) se Madura, usai menggelar istighosah di lapangan Wijaya Kusuma, mencoba merangsek dan mengepung GOR tennis indoor. Mereka meneriakkan agar pengungsi Syiah diusir dari tempat penampungan tersebut. Pengusiran pengikut Tajul Muluk dari Sampang ke rumah susun Puspa Agro Sidoarjo itu, menimbulkan pro dan kontra dari kalangan masyarakat. Menurut Ketua Forum Kajian Publik (FKP) Sampang Heru Susanto, tindakan tersebut mengusik rasa toleransi terhadap perbedaan keyakinan, sehingga mengabaikan sisi kemanusian. ’’Mereka juga manusia, bukan binatang yang seenaknya saja diusir. Selain masalah agama mereka juga punya hak tinggal di Sampang, dan berhak mendapatkan perlindungan hukum sebagai warga negara Indonesia. Jadi sungguh naif ketika melihat Pemkab tidak bisa berbuat banyak, serta melakukan pembiaran terhadap pengusiran pengikut Syiah tersebut,’’ kritik Heru, dihubungi Jum'at (21/6). Menurut dia, bagaimana pun juga mereka adalah saudara kita, tapi ironisnya harus terusir dari kampung halamannya karena perbedaan keyakinan. ’’Kami bukan pada kapasitas menerima atau menentang keyakinan yang mereka anut. Tetapi pada konteks dari sisi kemanusiannya, bahwa persoalan perbedaan keyakinan menjadi isu sensitif yang bisa menimbulkan konflik horisontal menjadi meluas,’’ ujarnya. Iklil Aklima, pimpinan Syiah di pengungsian GOR, menyesalkan tindakan pengusiran yang dikatakan hanya evakuasi terhadap para pengikutnya yang dipindah ke Puspa Agro. Ia menyebut itu sebagai bentuk arogansi, karena pemerintah tidak bisa memberikan jaminan keamanan terhadap warganya dari ancaman bahaya. Kakak Tajul Muluk itu menagih janji Presiden SBY atas hak perlindungan warga untuk bebas menjalankan keyakinannya, karena ia dan pengikutnya diusir seperti binatang tanpa memikirkan nasib anak-anak yang juga ikut orang tuanya. ’’Kami hanya meminta rasa keadilan dari pemerintah, karena kami juga rakyat Indonesia sama seperti yang lainnya,’’ protesnya. Disisi lain, para kiai berpendapat bahwa para pengikut Syiah dijual sebagai komoditas non migas oleh pihak tertentu, sehingga menyudutkan kaum Sunni. Padahal perbuatan mereka telah melakukan penodaan agama, sehingga masyarakat dan para kiai juga berhak menolak dan mengecam jika agamanya dinodai atau dinistakan. ’’Bukannya kami tidak toleran, tapi ajaran yang mereka bawa merupakan penodaan agama Islam yang telah melukai hati masyarakat Madura. Sehingga kami meminta pemerintah jangan membiarkan persoalan itu berlarut-larut, karena jika mereka dibiarkan kembali ke kampung halamannya justru akan menimbulkan konflik semakin parah. Jadi sebaiknya mereka dipindahkan dari GOR tersebut agar situasi menjadi kondusif, karena apabila masih tetap di tempat pengungsian maka dikhawatirkan massa akan berbuat anarkis,’’ kata KH Karrar pengasuh Ponpes di Pamekasan yang masih kerabat Tajul Muluk. Sementara itu Wakil Bupati Sampang, Fadhilah Budiono yang juga ikut memantau saat pengungsi Syiah dievakuasi, menegaskan bahwa pemindahan pengungsi tersebut bukan semata-mata ingin mengusir dari Sampang. Karena para pengungsi yang dipindah itu akan di beri bekal sesuai dengan profesinya masing-masing, semisal bagi yang suka berdagang akan diarahkan dan dibukakan lapak untuk bisa berjualan di pasar Balongbendo Sidoarjo, sedangkan yang ingin bertani akan diarahkan ke pertanian. ’’Kami tidak akan tutup mata terhadap nasib mereka, karena pemerintah telah memikirkan agar bisa hidup mandiri. Termasuk juga rumah, harta benda dan tanah mereka akan kita lindungi atau dititipkan kepada saudaranya yang berbeda keyakinan,’’ jelas Fadhillah. Sebelumnya desakan massa yang menuntut agar pengungsi Syiah harus keluar dari tempat penampungan sempat memanas, karena Iklil menolak menandatangani pemindahan tersebut. Sehingga massa mencoba merangsek masuk ke dalam halaman GOR. Proses negosiasi dilakukan para kiai dan Wakil Bupati Fadhillah Budiono. Aparat keamanan juga sigap menjaga agar massa tidak masuk ke dalam, dengan mengerahkan seluruh kekuatan personil yang ada. Akhirnya Iklil luluh untuk menandatangani pemindahan pengungsi ke Puspo Agro. Wakapolres Sampang, Kompol Alfian Nurizal, menjelaskan, jumlah personil yang dikerahkan sebanyak 900 pasukan, terdiri dari 4 kompi Brimob, 1 peleton pasukan anti anarkis, 1 peleton renmas, dua mobil water canon Polda Jatim dan 280 personil dari Polres Sampang. ’’Kekuatan pasukan yang menjaga GOR tersebut untuk mengantisipasi apabila terjadi kerusuhan. Tapi Alhamdulillah semuanya berjalan lancar massa tidak melakukan aksi anarkis karena kita melakukan pendekatan persuasif,’’ tegas Kompol Alfian. rud

Labels: , ,

Pemulangan Pengungsi Syiah Dramatis

Proses pemulangan pengungsi Syiah ke kampung halamannya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben setelah berada di tempat penampungan selama 15 hari di GOR tenis indoor berlangsung dramatis. Pemulangan berjalan berbelit-belit karena jemaah Syiah menginginkan pimpinannya, Tajul Muluk harus ikut dalam rombongan pengungsi.

Namun sejumlah relawan MER-C (Medical Rescue Committee), yang memfasilitasi pemulangan pengungsi Syiah, tidak ingin mengambil risiko karena sangat riskan apabila Tajul Muluk tetap mendampingi pengikutnya kembali ke rumah mereka, karena dikhawatirkan dapat memicu konflik akan meletus kembali. Mengingat warga setempat masih belum menerima kehadiran tokoh Syiah tersebut.

Meski negosiasi sempat berlangsung alot, namun akhirnya Tajul pun bersedia mengikuti saran relawan MER-C, dengan berbagai pertimbangan yang matang. Organisasi kemanusian yang bergerak dibidang bantuan kesehatan dan medis itu, juga menyewakan kendaraan 3 minibus, 4 truk dan 1 pickup untuk mengangkut warga Syiah.

Karena pengungsi menolak mengunakan kendaraan milik Pemkab Sampang, menyusul tindakan pengusiran paksa oleh petugas dengan mengemasi karpet di lapangan GOR. Sehingga pengungsi merasa tersinggung dan terhina, dengan cara pengusiran yang dinilai tidak manusiawi tersebut.

"Jika memang pemerintah memaksa para jemaah pulang, apapun risikonya kami terpaksa angkat kaki dari tempat ini. Tetapi kami jelas menolak bantuan kendaraan yang ditawarkan pemerintah, lebih baik kami menyewa. Karena biar pun kami rakyat kecil dan warga minoritas, namun masih mempunyai harga diri," tegas Tajul, Kamis (12/1)

Koordinator Advokasi Syiah Sampang, Hadun Al Hadar, sangat menyesalkan dengan tindakan pihak yang mengatasnamakan Kementerian Agama (Kemenag) Sampang, yang melakukan pengusiran paksa terhadap para pengungsi tersebut. Dia mempertanyakan orang Kemenag yang telah mengusir orang-orang yang berada ditempat pengungsian tersebut. Padahal lanjut dia, persoalan pengungsi merupakan kewenangan aparat Kepolisian dan Pemerintah setempat.

"Sungguh ironis hukum di negara ini, masak pegawai Kemenag bersikap arogan seperti itu, mengambil karpet dan terpal seenaknya, lalu mereka mau tidur dimana. Jelas kami tidak terima dihina, karena orang Sampang mempunyai harga diri lebih baik mati berkalang tanah daripada bercermin bangkai," tegasnya.

Berdasarkan informasi pihak Kepolisian, Tajul Muluk, serta keluargnya maupun adik-adiknya berserta ibunya, untuk sementara waktu diungsikan menginap di Hotel PKPN Rajawali Kota Sampang dibawah pengawalan ketat petugas. Menurut Kasat Sabhara Polres Sampang, AKP Heri Darsono, pengawalan rombongan pengungsi menuju rumahnya masing-masing berjalan aman, tanpa ada reaksi dari warga setempat.

Sementara itu, Dandim 0828 Sampang, Letkol infantri Agus Wuriyanto, menyatakan, anggota TNI bersama aparat Polres Sampang, akan menjamin keamanan warga Syiah yang telah kembali ke kampung halamannya.

"Lokasi Desa Karang Gayam sudah kondusif, karena hingga saat ini aparat Kepolisian dibantu TNI tetap bersiaga mengamankan wilayah tersebut," tandasnya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 13/01/2012

Labels: , , , , ,

Kelompok Syiah Masih Bertahan di Pengungsian


From Surabaya Post


Ratusan pengungsi dari kelompok Islam Syiah, korban kerusuhan bernuansa suku agama ras dan antar golongan (SARA) hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian di GOR Wijaya Kusuma, Sampang, Madura, meski pemkab setempat meminta agar mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

"Kami menolak pulang dan memilih bertahan di sini, karena tidak ada jaminan keamanan dari pemkab maupun Polres Sampang bahwa kami akan aman di sana," kata penasihat kelompok Islam Syiah Iklil Almilal, Kamis (5/1) malam.

Jika pemkab dan petugas keamanan menjamin keamanan warga Syiah, Iklil menyatakan, pihaknya akan kembali ke kampung halamannya di Desa Karang Garam. Demikian juga dengan para pengikut Islam Syiah yang berada di Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang.

Selain itu, para tokoh agama Sunni tidak lagi membuat pernyataan yang bisa memicu emosi massa, seperti menyatakan Syiah sebagai aliran Islam sesat dan menyesatkan.

"Sebab yang membuat massa melakukan aksi anarkis hingga akhirnya melakukan aksi pembakaran rumah, mushalla, dan madrasah Islam Syiah di sana kan adanya pernyataan tokoh agama bahwa Syiah ini merupakan aliran Islam sesat," ucap Iklil Almilal, menegaskan.

Iklil bersama ratusan kelompok Islam Syiah lainnya menyatakan, belum yakin jaminan yang disampaikan polisi kepada mereka akan terlaksana sepenuhnya, karena pada saat kelompok Islam Syiah mengungsi, aksi penjarahan harta benda pengikut Syiah masih terjadi.

Upaya pemulangan pengungsi Syiah di GOR Wijaya Kusuma, Sampang oleh pemkab setempat ini dilakukan, karena masa tanggap darurat atas peristiwa kerusuhan bernuansa SARA antara kelompok pimpinan Tajul Muluk dengan kelompok pimpinan KH Rois telah berakhir.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Pemkab Sampang Malik Amrullah, menjelaskan masa tanggap darurat berlangsung selama tujuh hari, yakni mulai tanggal 29 Desember 2011 hingga 4 Januari 2012.

"Jadi masa berakhirnya pada Rabu (4/1) kemarin. Kami telah menyediakan tiga unit truk untuk mengangkut mereka, dan ternyata mereka tidak mau," ucap Malik Amrullah.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Rudi Setyadi menyatakan, pihaknya masih akan melakukan koordinasi lanjutan dengan semua pihak terkait pemulangan kelompok Islam Syiah ini, termasuk jaminan keamanan dari petugas keamanan.

Saat berdialog dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), para pengikut korban kerusuhan bernuansa SARA ini mengatakan, pihaknya bersedia kembali pulang ke kampung halamannya, jika petugas menegaskan secara terbuka mereka akan jaminan keamanan setelah mereka kembali.

"Kami kembali dan diancam akan dibunuh lagi dengan alasan bahwa ajaran kami sesat, kan lebih baik kami bertahan di sini. Toh kami rakyat Sampang, lahir di Sampang dan juga membayar pajak kepada pemerintah kabupaten Sampang ini," kata Iklil Almilal.

Konflik kakak beradik antara Tajul Muluk dengan KH Rois yang akhirnya merembet bernuansa SARA ini, telah menyebabkan ratusan keluarga telantar dan mereka terpaksa tinggal di lokasi penampungan.

Saat ini 335 dari total 351 orang lebih dievakuasi ke GOR Wijaya Kusuma depan kantor Bupati Sampang.

Konflik ini sudah terjadi sejak tahun 2006, namun hingga kini belum bisa diredam hingga akhirnya terjadi aksi anarkis berupa pembakaran. (ant)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 06/01/2012

Labels: , , , , ,

Provokatif & Tak Tahu Diri
Pusat Sekte Syi'ah Sampang Dibakar Oreng Madhura


Dinilai provokatif dan tak tahu diri dalam menyebarkan ajaran menyimpang kepada umat Islam, pusat sekte Syi'ah di Sampang Madura diserbu warga.

Kompleks Pesantren Sekte Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang Madura, dibakar massa, Kamis pagi (29/12/2011).

Aksi pembakaran pada pukul 09.30 WIB ini, dilakukan warga sekitar karena warga terusik dan tidak suka dengan keberadaan pesantren Syiah di sana.

Sambil mengumandangkan takbir, massa membakar mushalla, madrasah, asrama dan rumah pemimpin Syi’ah Sampang, Tajul Muluk. Bangunan berupa mushalla, pesantren putra dan putri, rumah pribadi dan salah satu toko milik Kiai Tajul Muluk, tokoh sekte Syi’ah, yang diduga dibakar massa, membuat kondisi di kawasan tersebut menarik perhatian masyarakat.


Ratusan polisi dan aparat militer dari Kodim 0828, tampak berjaga-jaga guna mengamankan amuk massa yang dikhawatirkan bisa semakin melebar.

"...Ajaran yang disebarkan Kiai Tajul Muluk menyimpang dari ajaran Islam dengan mengajarkan door to door. Makanya, warga semakin geram..."

Selain itu, 4 truk pasukan dari Polda Jatim, juga telah memasuki lokasi. Namun lantaran jarak yang tidak bisa dilalui dengan kendaraan, ratusan polisi dari Sabhara tersebut terpaksa harus jalan kaki menuju lokasi pembakaran.

Tak ada korban tewas dalam insiden itu, tapi dua kompi aparat Kepolisian Resor Sampang sempat tidak bisa masuk ke lokasi karena jalan menuju Nangkernang diblokir massa yang melengkapi diri dengan berbagai senjata tajam.


Kepala Bagian Operasional Polres Sampang, Komisaris Zainuri, mengatakan karena kalah jumlah, polisi belum bisa masuk ke lokasi. “Situasi tidak memungkinkan kami ke lokasi,” ungkapnya.

Senada itu, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur, Komisaris Besar Rachmat Mulyana, menyatakan kerusuhan di Sampang sudah bisa ditangani aparat keamanan setempat. Hingga saat ini, Kepolisian Resort Sampang secara resmi belum membutuhkan bantuan personel keamanan, baik itu dari Polres sekitar Sampang maupun dari Polda Jawa Timur.

“Polres Sampang sudah bisa menangani. Kalau diperlukan Polda siap back-up,” kata Rachmat, Kamis siang, 29/12/2011). Ia membenarkan, kerusuhan yang terjadi di Sampang sempat meluas karena saat kejadian polisi tak bisa masuk ke dalam lokasi.

"...Ini karena ada provokasi melalui pengajian-pengajian Syi’ah yang dianggap memancing perkara..."

Apalagi, kawasan sekitar kerusuhan diblokir ratusan orang bersenjata tajam sehingga membuat polisi kewalahan dan tidak bisa masuk ke sekitar lokasi. Untuk menyiasati hal ini, Polres Sampang sudah berkoordinasi dengan Komando Distrik Militer Sampang.


“Kapolres, Dandim, dan Bupati Sampang sudah turun dan bisa meredam suasana,” tambah Rachmat. Kerusuhan sendiri, tambah dia, setidaknya menyebabkan rumah, sekolah dan sebuah mushalla milik tokoh sekte Syi’ah, Kiai Tajul Muluk dibakar.

Data resmi kepolisian, dalam insiden itu tak hanya tempat ibadah, beberapa rumah warga juga turut dibakar massa. “Ada tiga buah rumah, dan satu mushalla yang notabene ditempati kelompok Syi’ah dibakar,” kata Rachmat.

Mulyana menambahkan, untuk sementara belum mengetahui motif tindakan anarki ini. “Kami masih melakukan pendalaman di sana. Belum bisa menyimpulkan,” ujar dia.

Menurut dia, selain tiga rumah dan satu tempat ibadah ini, massa juga akan membakar sejumlah rumah lainnya. Namun usaha itu dicegah oleh aparat. “Kita terus melakukan pendekatan persuasi pada masing-masing kelompok di sana,” katanya. “Kita sudah menerjunkan anggota kita di sana.”

Menanggapi insiden itu, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyesalkan lemahnya kinerja kepolisian. Untuk mengatasi konflik yang berkepanjangan, PWNU Jatim menyatakan akan turun tangan memediasi konflik antara umat Islam dengan penganut sekte Syi’ah.

“Konflik Sunni dan Syi’ah di Sampang itu kasus lama dan sudah berlangsung dari dulu. Kalau sekarang memanas lagi dan ada bakar-bakaran, berarti aparat keamanan kecolongan dan tidak bisa meredam konflik tersebut,” kata Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar, Kamis (29/12/2011).

"...Aparat keamanan kecolongan dan tidak bisa meredam konflik tersebut..."

PWNU Jatim juga sedang menginvestigasi dugaan teterlibatan oknum warga Nahdliyin dalam insiden tersebut. “Kami akan melakukan investigasi terkait kasus itu. Kami belum bisa memastikan apakah NU terlibat dalam kejadian itu, ini karena Sunni tidak harus dari NU, bisa juga dengan kelompok lainnya dalam Islam,” tegasnya.

Sekte Syi’ah Provokatif dan Tak Tahu Diri

Menurut warga setempat, insiden pembakaran itu diprovokasi oleh penyebaran sekte Syi’ah yang dilakukan kepada umat Islam. “Dianggap ajaran yang disebarkan oleh Kiai Tajul Muluk menyimpang dari ajaran Islam dengan mengajarkan door to door. Makanya, warga semakin geram,” terang Juhaidi (45), salah satu tokoh masyarakat setempat yang berada di lokasi kejadian.

Sebenarnya, lanjut Juhaidi, konflik antara pengikut sekte Syi’ah dan umat Islam ini pernah didamaikan beberapa waktu lalu. Namun akibat Kiai Tajul tetap menyebarkan ajaran sekte Syi’ah di daerahnya, membuat warga nekad melakukan aksi pembakaran.

Senada itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim KH Abdusshomad Buchori mengimbau warga pengikut sekte Syi’ah agar tahu diri di lingkungan umat Islam.


“Kekerasan tidak bisa dibenarkan atas nama agama. Meski begitu, seharusnya kaum Syi’ah di Sampang tahu diri kalau tidak bisa diterima mayoritas masyarakat Madura yang basisnya Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah, red),” tegasnya, Kamis (29/12/2011).

KH Abdusshomad menambahkan, selama ini MUI pusat bersama MUI Jatim seringkali turun ke Sampang untuk mendamaikan konflik Syi’ah dan umat Islam yang sudah berlangsung lama. Namun pihak Syi’ah selalu memancing perkara dengan materi pengajian-pengajian yang provokatif.

“MUI sudah sering mendamaikan mereka, bahkan MUI pusat sudah turun ke Sampang. Yang terjadi di Sampang mirip seperti kejadian di Bangil Pasuruan. Ini karena ada provokasi melalui pengajian-pengajian Syi’ah yang dianggap memancing perkara,” tuturnya.

MUI sudah menyarankan kepada kelompok Syi’ah agar mengalah dan tidak mengembangkan dan menyebarluaskan ajarannya di Madura. Ini karena di Madura adalah basisnya kalangan Sunni.

Untuk meredam konflik tersebut, MUI Jatim telah memerintahkan Ketua MUI Sampang KH Buchori Maksum dan salah satu Ketua MUI Jatim KH Nuruddin Arahman yang tinggal di Bangkalan, untuk terjun ke TKP untuk proses mediasi.

"...Sy'iah tidak mewajibkan shalat Jumat, azannya berbeda dengan Islam, dan mengamalkan doktrin kawin kontrak..."

KH Abdushomad menilai, konflik antara sekte Syi'ah dan umat Islam di Sampang sangat sulit untuk didamaikan, karena Sampang merupakan basis Sunni militan yang sulit menerima adanya aliran Syi'ah di kawasan itu.

"Tidak mungkin didamaikan karena Syiah itu memang tak cocok kalau dikembangkan di Madura," kata dia. Ketidakcocokan inilah, yang menurut Abdushomad, memicu adanya konflik berkepanjangan di antara Sunni dan Syiah di Sampang.

Beberapa masalah yang selama ini menjadi jurang pemisah dengan Islam, menurut KH Abdusshomad, karena ajaran Syi’ah itu tidak mau merima riwayat Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatthab dan Usman bin Affan. Sekte Syi’ah melainkan hanya mengakui Ali bin Abi Thalib.

Akibat tidak diakuinya hadist dari tiga shahabat, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Usman, setidaknya membuat beberapa cara beribadah dari Syiah sangat berbeda dengan Sunni. Perbedaan itu, misalnya, Syiah menggabungkan dua shalat antara zuhur dan asar digabung di waktu zuhur, lantas magrib dan isya digabung pada waktu magrib.

Tak hanya itu, sekte Sy'iah juga tidak mewajibkan shalat Jumat. Azan salat aliran Syiah juga berbeda dengan Sunni. Dan perbedaan yang tajam adalah doktrin kawin kontrak yang dipraktikkan Syi'ah. “Mereka juga tidak mewajibkan untuk shalat Jumat dan membolehkan nikah mut’ah (kawin kontrak, red),” imbuhnya.

Oleh karena itu, MUI Jawa Timur minta kalau memang masih mau menyebarkan Syi'ah, para tokoh Syi'ah diharapkan mau mencari lokasi lain di luar Sampang. "Ini bukan pengusiran, tapi ya harus tahu dirilah," katanya. [taz/tempo, viva, beritajatim]

Sumber: Voice of Al Islam, Kamis, 29 Dec 2011

Baca artikel terkait:
  1. Bukti Kekufuran Syi'ah terhadap Al-Qur'an.
  2. Kebencian dan Permusuhan Syi'ah Terhadap Ahlus Sunnah.
  3. Umat Islam Indonesia Sepakat Tolak dan Bubarkan Sekte Sesat Syi'ah.
  4. Pernyataan Sikap Umat Islam Indonesia tentang Bahaya Syi'ah (Kutipan Lengkap).
  5. Mempertanyakan Infiltrasi Yahudi dan Kristen Dalam Doktrin Syi'ah.
  6. Akibat Nikah Mut'ah, Wanita Syi'ah Mengidap Gonore.
  7. MUI: Syi'ah di Madura Seperti Bom Waktu, Akidahnya Beda dengan Islam.

Labels: , , , , ,

Polri: Pembakaran di Sampang Diawali Masalah Keluarga



Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menjelaskan bahwa pembakaran yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, berawal dari permasalahan keluarga. Itu berdasarkan keterangan masyarakat.

"Awalnya ini masalah keluarga yaitu, Rois dan Rojul, ini kakak beradik. Pada awalnya mereka kelompok Suni, kemudian Rois masuk ke kelompok lain karena ada perselisihan dengan abangnya, maka dia masuk Syiah," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution, Kamis (29/12).

Menurut Saud, permasalahan itu sebenarnya sempat dibicarakan di tingkat kecamatan. Hasilnya, kedua belah pihak berkomitmen untuk saling menjaga.

"Empat hari yang lalu sudah diselesaikan di kecamatan, lewat Muspida Sampang dan sudah ada pernyataan saling menjaga, tapi tadi pagi terjadi pembakaran," terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga rumah di Karanggayam, Sampang, Madura, Jatim, ludes dilalap si jago merah setelah dibakar massa. Pembakaran yang dilakukan ratusan warga di sekitar perkampungan tersebut dipicu persoalan pemahaman yang berbeda dalam ritual ibadah. (Andrie Yudhistira)

Sumber: Liputan6.com, 29/12/2011

Terkait:

Labels: , , , , ,

Pembakaran Pesantren Tajul Muluk Didahului Isu

Asyura Syiah di Indonesia (sumber: antara)


Berselang beberapa jam sebelum aksi pembakaran Pesantren Tajul Muluk terjadi, telah beredar kabar adanya ancaman tersebut.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kuasa Hukum Ahlul Bait Indonesia (ABI) Jawa Timur Moh Hadun Haddar, hari ini, di Jawa Timue, saat dihubungi Beritasatu.com melalui sambungan telepon.

"Ada isu yang berkembang sebelumnya bahwa pesantren dan rumah Ustad Tajul Muluk akan dibakar berikut orang-orangnya. Makanya, kami sempat melaporkan ke kepolisian adanya isu tersebut. Tapi, ternyata tidak ada respons sama sekali dari kepolisian, sampai akhirnya aksi tersebut pun terjadi," tuturnya.

Akibat aksi kebakaran tersebut, Hadun mengatakan, tidak ada yang tersisa dari bangunan pesantren maupun rumah Ustad Tajul Muluk. Semua, menurut dia, sudah rata dengan tanah. Walau demikian, dia bersyukur, insiden tersebut tidak menelan korban jiwa.

Pelanggaran HAM

Lebih jauh, Hadun juga menyesalkan respons kepolisian terhadap serangkaian ancaman yang menimpa pengikut Syiah di Sampang, Jawa Timur.

Menurut dia, ancaman bagi warga Syiah di kawasan tersebut sudah terjadi sejak sekitar enam bulan lalu.

"Saat itu, pemda setempat bahkan sudah turun tangan. Diputuskan dalam pembahasan sejumlah pihak bahwa Ustad Tajul Muluk diminta keluar dari Jatim sampai situasi mereda. Ustad saat itu mematuhi putusan tersebut," katanya.

Namun yang terjadi, Hadun mengatakan, aparat justru tidak menindaklanjuti penanganan terhadap persoalan tersebut. Sehingga, kata dia, saat akhirnya Ustad Tajul Muluk kembali ke pesantrennya, Rabu (28/12), karena hendak menjenguk anaknya yang sakit, justru aksi anarkistis itu terjadi.

"Saya menilai, permintaan aparat agar Ustad meninggalkan Jawa Timur adalah bentuk pelanggaran HAM," pungkasnya. (Ratna Nuraini)

Sumber: Berita Satu, Kamis, 29 Desember 2011

Labels: , , , , , , ,