Diterpa Angin, Rumah Ambruk

Cuaca buruk terus memakan korban. Setelah tiga hari berturut-turut diterpa angin kencang dan hujan deras, rumah milik Imam, warga Desa Kebonagung, Kecamatan Kota, ambruk. Rumah berukuran 9x5 meter rata dengan tanah.

Imam yang ditemui di lokasi kejadian mengungkapkan, rumahnya dibangun pada tahun 1997. ”Kami kaget ketika terdengar bunyi yang keras di belakang rumah. Ternyata rumah kami ambruk. Mungkin pondasinya rapuh. Ketika diterpa angin kencang selama beberapa hari, langsung roboh,” katanya.

Sebelum kejadian, kata Imam, ia sudah berencana memanggil tukang untuk mengecek sekaligus memperbaiki bagian atas rumah pada hari Minggu (17/1) nanti. ”Tapi, belum sempat memanggil tukang, rumah tersebut ambruk lebih dulu,” ungkapnya. Namun, dia bersyukur kejadian itu tidak menyebabkan korban.

Penghuni rumah, Jakfar (55) dan Rusmani (50), pasangan suami-istri dari Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, yang menyewa rumah milik Imam itu, sedang tidak berada di dalam rumah ketika rumah itu ambruk. Jakfar sedang bekerja mengayuh becak. Sedangkan istrinya berada di pasar berjualan pracangan. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 16 Januari 2010

Labels: , , ,

Perlu Antisipasi Bencana Alam

Hindari Banyak Korban

Permintaan itu disampaikan Bupati Kholil usai memberikan bantuan pada warga Desa Palengaan Daya Kecamatan Palengaan yang menjadi korban puting beliung. Acara di Pendapa Kecamatan Palengaan, Kamis (14/1), itu dihadiri Wakil Bupati Drs Kadarisman, pimpinan SKPD terkait, Muspika, serta sejumlah Kepala Desa di Kecamatan Palengaan. Puting beliung yang terjadi pada 16 November lalu itu mengakibatkan 29 rumah rusak berat, 12 rumah rusak ringan dan 2 orang patah tulang.

“Sosialisasi ini penting untuk mengantisipasi agar puting beliung tidak mengakibatkan banyak korban. Misalnya, kalau ada gejala akan turun hujan, lalu ada awan hitam berputar di atas, maka masyarakat sudah harus waspada,” ungkap bupati.

Karena mayoritas warga Palengaan Daya petani, Bupati Kholil juga menyarankan jika ada tanda-tanda akan hujan lebat dan membahayakan, maka tak perlu ke sawah atau ladang. “Termasuk misalnya jika ada petir, kalau bapak ibu kebetulan ada di sawah atau ladang, maka bernaunglah di bawah pohon, karena petir itu menyambar benda yang paling tinggi. Tapi, jangan menempel pada pohon karena itu juga berbahaya,” lanjutnya.

Selain menyarankan agar ada upaya antisipasi dini untuk menghindari korban dalam becana alam, Bupati Kholil juga menyarankan agar masyarakat menjaga lingkungan dengan baik. “Jangan menebang pohon sembarangan yang tidak perlu, karena akan mengakibatkan lahan jadi gundul dan tandus yang akan menjadi penyebab terjadinya banjir. Saya sarankan untuk banyak menanam pohon apa saja, agar bumi tidak panas. Pemerintah punya program penanaman sejuta pohon. Warga desa besar andilnya untuk pekerjaan ini. Tidak sulit, yang penting ada kemauan,” tandasnya.

Bupati juga menegaskan bahwa pihaknya telah mendata jalan poros desa yang perlu diperbaiki atau diaspal. Dia berjanji akan memulai perbaikan jalan secara bertahap mulai tahun anggaran 2011i. Dikatakan bupati, program pemkab pada 2010 ini menuntaskan pengaspalan poros jalan kecamatan. Karena itu, untuk jalan poros desa diperkirakan baru akan dimulai mulai 2011.

“Kami sudah tahu sendiri bagaimana kondisi jalan yang sangat rusak berat itu. Namun, kami minta agar masyarakat juga memahami, jalan itu akan kami perbaiki secara bertahap,” janjinya. (MASDAWI DAHLAN)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 15 Januari 2010

Labels: , , , ,

Sekolah Ambruk Diterjang Puting Beliung

Angin puting beliung disertai hujan deras pekan lalu tidak hanya menghancurkan puluhan rumah warga Desa Karang Gayam, Kec. Omben, Sampang, tetapi sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pandan 2 Desa Pandan juga mengalami nasib sama.

Angin kencang tersebut telah meluluhlantakan tiga ruang kelas SDN Pandan 2. Agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, pihak sekolah mengungsikan siswa kelas 2 dan 3 ke musala dan halaman rumah warga setempat.

“Jika dilihat dari kondisi fisik bangunan, memang sebenarnya sudah tidak layak ditempati. Karena, sebagian gedungnya retak bahkan satu ruang kelas tidak bisa dipergunakan lagi untuk kegiatan belajar mengajar karena sudah ambruk. Padahal bangunan itu sudah direhab pada 1996 silam, tapi karena kualitasnya jelek maka tidak bertahan lama,” terang Kepala SDN Pandan 2, Syaiful Bahar, Rabu (16/12).

Menurut Syaiful, jumlah murid sebanyak 145 siswa, mayoritas hanya mengunakan sandal jepit ketika bersekolah, namun minat belajar siswa miskin itu tetap tinggi. Syaiful berharap agar Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang memberikan perhatian serius agar segera merehab bangunan yang ambruk tersebut.

“Kami berharap pihak Disdik memperhatikan nasib murid-murid yang berada di daerah pelosok tersebut. Sudah beberapa kali kami mengajukan permohonan rehab bangunan kelas yang rusak, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Padahal, kata dia, minimnya prasarana pendidikan yang tidak memadai, ditambah dengan berdirinya sejumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI), berdampak terhadap berkurangnya jumlah siswa ke SDN 2 Pandan.

Sementara itu, sebanyak 25 rumah di Desa Karang Gayam, Kec. Omben rusak parah tertimpa pohon yang tumbang, akibat terjangan angin puting beliung disertai hujan deras yang melanda desa tersebut. Berdasarkan data petugas Kantor Kec. Omben, kerugian yang diderita warga mencapai Rp 95 juta, tapi tidak ada korban jiwa. rud

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 16 Desember 2009

Labels: , , ,

Angin Puting Beliung Hantam Madura

inilah.com/Dokumen

Angin puting beliung kembali terjadi di Pamekasan, Jumat (27/11). Akibatnya, tiga rumah warga rusak berat.

Angin yang disertai hujan deras itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB saat sebagian warga menunaikan Shalat Jumat. Kapolsek Tlanakan AKP Bambang Soegiharto, membenarkan kejadian itu.

Bahkan, angin kencang yang terjadi di Desa Branta itu juga menyebabkan sebuah pohon tumbang hingga nyaris mengenai rumah warga dan pengendara kendaraan bermotor yang melintas di Jalan Raya Tlanakan. "Itu memang benar terjadi, namun kerusakannya tidak parah," kata Bambang.

Menurut dia, saat peristiwa terjadi, dirinya sedang berada di kantor Mapolsek Tlanakan, yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari pohon yang tumbang tersebut. Warga, terang Bambang, memang terlihat ketakutan saat angin berhembus kencang yang disertai hujan deras, bahkan sebagian di antara mereka keluar rumah karena ketakutan.

"Peristiwa itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 15 menit setelah itu angin reda," terang Kapolsek Bambang.

Selain merusak atap rumah angin puting beliuang yang terjadi di Desa Branta itu juga merusak sebuah lembaga pendidikan di desa tersebut. Gentengnya banyak yang pecah akibat hembusan angin, namun tidak ada korban jiwa.

Saat ini warga yang rumahnya rusak akibat angin puting beliung tersebut masih melakukan perbaikan, dan menebang pohon yang roboh melintas jalan umum tersebut. [*/mut]

Sumber: inilah.com, 27/11/2009

Labels: , , ,