Pengungsi Sampit di Pasar Keputran (1)

Matdu'i Sungguh Menikmati Kampung Kecil Itu

Konflik antar etnis yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, pada Februari 2001 membuat masyarakat suku Madura harus mengungsi. Pulang di tanah leluhur justru tak memuaskan hati mereka. Merantau tetap dipilih untuk melanjutkan kehidupan. Pasar Keputran Surabaya terpilih sebagai singgahan  mereka.

Oleh Marta Nurfaidah

Selasa siang (8/1), sekitar pukul 13.00 WIB. Pasar Keputran Surabaya sudah menunjukkan geliatnya. Terutama di bagian dalam pasar yang bertingkat dua itu. Meski dikenal sebagai pasar malam hari, namun penjual dan pegawai bawang putih dan jeruk nipis sudah bersiap-siap.

"Minggir! Minggir! Ono barang liwat! (ada barang lewat!),” teriak seorang laki-laki. Langkahnya setengah berlari. Pundaknya terbebani karung plastik warna putih.

Sekilas, tercium bau bawang menyengat. Mengulik hidung segera bersin. Rupanya, laki-laki bertubuh besar dan tegap itu kebagian tugas membawa berkilo-kilo bawang putih dari mobil pick up ke dalam pasar. Mendatangi tiap pemiliknya.

Bau bawang dan selokan yang penuh dengan sampah menambah tak sedap aroma di lantai satu Pasar Keputran. Semakin melangkah ke sisi dalam, semakin tercium bau busuknya. Onggokan sampah nampak di mana-mana. Di jalan masuk pasar, pojok stan-stan pedagang, atau beberapa anak tangga menuju lantai dua.

Kulit bawang putih, plastik pembungkus, tanah becek akibat buangan air pencuci jeruk nipis, sisa makanan, bercampur jadi satu. Kotor sekali. Menjadi tempat pesta kucing-kucing liar yang butuh makanan.
Kondisi itu tak dihiraukan penghuni pasar. Semua tetap melakukan tugas rutin yang sudah bertahun-tahun digelutinya. Sampah adalah bagian dari kehidupan mereka.

Dari anak tangga, nampak stan-stan bekas toko terbuat dari kayu. Berbagai jenis pakaian digantung pada kabel yang diregangkan di salah satu sisi stan. Atau pada beberapa paku yang tertancap. Sedikit beranjak dari anak tangga, terlihat peralatan dapur bertumpukan di meja kecil depan pintu stan. Ibu-ibu duduk di bangku. Ada yang mengenakan sarung, ada juga yang bercelana tiga perempat dan berdandan menor. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Madura. Sedangkan seorang anak kecil sedang mengendarai sepeda mungilnya.

Melangkah lebih ke dalam lagi, di antara jajaran stan, terdapat ruang luas. Pada bagian tengahnya terdapat beberapa warung. Etalase-etalasenya menawarkan berbagai menu masakan. Orang-orang berkumpul di sana. Tiduran sambil bercanda atau sekadar cangkruk menyeruput minuman kopi yang masih panas.

Inilah perkampungan kecil komunitas Madura dan Jawa yang ada di lantai dua Pasar Keputran Surabaya. Di antara stan-stan itu, terdapat rumah kos Matdu'i. Orang keturunan suku Madura yang mengaku sebagai seorang waria.

"Iki omahku (ini rumahku). Sempit. Tapi sik iso gawe turu (Tapi masih bisa untuk tidur),” ucapnya sembari melepas sandal merahnya yang sudah robek di sana-sini.

Terhitung, sudah tujuh tahun dia tinggal di kamar kos berukuran 2 x 3 meter itu. Untuk menghibur diri, dindingnya ditempeli berbagai poster artis. Mulai dari aktor pemain film My Heart, Irwinsyah, kelompok musik Ungu, Veri dan Mawar AFI, hingga Radja.

Sebuah televisi berukuran 15 inci mengisi lemari yang berfungsi ganda sebagai meja. Matdu'i berusaha menata kamar kecil bekas stan toko itu senyaman mungkin. Dari tidak layak ditempati hingga membuat kerasan penghuninya.

Berbagai jenis make up mengisi wadah plastik bulat di pojok ruang, bersebelahan dengan tempat membakar obat nyamuk. Lipstik dan bedak Spalding termasuk di dalamnya. Memang kurang cocok kalau Spalding dipakai untuk bedak wajah. Tapi, Matdu'i tak peduli. Asal buat wajah terasa segar, itu sudah cukup.

Kamar Matdu'i hanya ditempati kala hari sudah malam. Selebihnya, laki-laki kelahiran 1972 itu berada di warung makan, usahanya untuk mendapat penghasilan bulanan. "Aku lali tanggal lairku. Disimpen emak kabeh. Saiki emak wis gak onok, mati (Aku lupa tanggal lahirku. Disimpan ibu semua. Sekarang ibu sudah tidak ada, meninggal)," tuturnya. Senyumnya mengembang terus. Ketika berkata, kepalanya digerakkan ke kiri dan kanan. Tangannya sibuk memegang segala barang yang ada di dekatnya.

Matdu'i adalah salah seorang dari ribuan suku Madura yang mengungsi dari Sampit, Kalimantan Tengah. Hanya tujuh hari dia berada di lokasi penampungan di Sampang, Madura. Keinginan mencari nafkah sendiri begitu kuat, membuatnya merantau ke Surabaya. Menjadi salah satu penghuni kampung kecil lantai dua Pasar Keputran. (Marta Nurfaidah)

bersambung

Sumber: Surya, Friday, 11 January 2008

Labels: , , , ,

1 Comments:

At 3:36 PM, Blogger Ipoul Bangsari said...

hore.... martha njedul ndek sini.

 

Post a Comment

<< Home