Kasatker Suramadu Khawatir Jembatan Digerogoti

Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Ir Yudha Handita MT MBA, Kasatker Sementara Pembinaan Teknis Jembatan Nasional Suramadu ketika menyambut para akademsi di kantornya, Selasa (2/12). Terutama kepada akademisi yang berasal dari Madura, dia mengemukakan kekhawatirannya mengenai megaproyek yang menghabiskan dana Rp 5 triliun lebih itu.

Sebagian besar JS terbuat dari beton dan didukung besi-besi ukuran besar dan kuat. Hal ini yang memicu kekhawatiran. Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian orang Madura "suka" besi. Bukan hanya besi tua yang sudah tidak terpakai, tower listrik PLN pun pernah menjadi sasaran pencurian (seperti pernah diberitakan Koran ini).

"Karena itu, saya minta agar bapak-bapak yang dari Madura ini bisa menyampaikan pada masyarakat untuk bersama-sama memelihara jembatan jika sudah jadi," pinta Yudha. Sebab, jika sesuatu terjadi pada JS karena ulah masyarakat, maka kerugian akan datang bukan hanya pada warga Madura sendiri, tapi juga negara.

"Jembatan Suramadu ini menjadi sorotan nasional, bahkan internasional. Kalau dirusak pasti akan memermalukan diri sendiri di depan masyarakat nasional dan dunia," tandasnya.

Selama beberapa tahun sudah banyak alat-alat terbuat dari besi yang hilang. Bahkan, ada yang dalam ukuran besar. Setelah diselidiki alat-alat itu sudah menjadi potongan-potongan di tepi pantai. Modusnya, sedikit demi sedikit para penjarah itu menggergaji bahan besi yang mereka incar. Setelah terpotong, mereka akan menariknya perlahan-lahan dengan tenaga manual ke tepi pantai.

"Saya sendiri juga banyak menemukan nelayan yang menggunakan perahu di bawah jembatan. Saya pikir mereka memancing ikan, ternyata memancing besi-besi yang jatuh ke dasar laut. Kail pancing mereka diganti magnet untuk menarik besi," ungkap Yudha.

Chomeidi menambahkan, yang lebih memrihatinkan lagi, ada beberapa pekerja yang bekerjasama dengan para pemancing besi tersebut. Sehingga, mereka dengan sengaja menjatuhkan material-material besi ke laut. "Barangnya memang kecil-kecil seperti baut, lempengan besi, atau rangka besi. Kecil-kecil kalau jumlahnya banyak kan lumayan," katanya.

Saat meninjau langsung ke lokasi pancang tengah, Koran ini bersama rombongan akademisi melihat langsung aktivitas pemancing besi itu. Mereka terlihat menambatkan perahunya di bawah jembatan yang di atasnya banyak pekerja konstruksi tengah melaksanakan tugasnya. Padahal, berada di bawah orang bekerja sangat berbahaya. Di saat yang tidak terduga bisa saja sesuatu jatuh dari atas dan menimpa mereka. Namun, mereka tetap asyik memancing besi tanpa khawatir terjadi kecelakaan dan mengenakan satu pun alat pengaman.

Mengenai kekhawatiran Kasatker Suramadu, Muh. Syarif, akademisi dari Unijoyo mengatakan, penjarahan atau pencurian besi pada dasarnya merupakan tindakan kriminal perorangan. Karena itu harus ada tindakan hukum yang tegas. "Kalau memang terbukti mencuri atau merusak laporkan saja pada pihak berwenang," tegasnya. Dengan begitu, lanjutnya, harus ada pengamanan yang ketat di semua sisi JS.

Sementara akademisi lain menyarankan agar di setiap sisi JS dipasang kamera pengintai. Sehingga, aktivitas yang dilakukan orang di atas maupun di bawah jembatan bisa terkontrol. (nra/ed)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 04 Desember 2008

0 Comments:

Post a Comment

<< Home