Batik Kontemporer dan Tiga Dimensi

PERKEMBANGAN batik Madura tak hanya dirasakan oleh mereka yang sudah lama berkecimpung di bidang ini. Generasi muda juga ikut andil memerkenalkan batik Madura dengan dimensi dan corak-corak baru yang coba dikenalkan pada masyarakat umum. Sementara batik klasik terus berkibar, batik jenis kontemporer dan tiga dimensi juga sedang mencari kejayaan di dunia "perbatikan".

Demikian yang dilakukan oleh UKM batik milik Rudi Susanto, asal Pamekasan, yang juga ikut serta dalam kegiatan Jawa Timur Affair 2008 di Surabaya. Menurut Mamang, salah seorang pekerjanya, batik-batik koleksi Rudi Susanto yang didatangkan dan dibuat oleh home industry di Proppo dan Candi Burung ini sudah beberapa kali dipamerkan di luar pulau. Di antaranya Makassar, Bali, Jakarta dan Solo.

"Kami memang lebih banyak mengoleksi dan memamerkan batik jenis kontemporer dan tiga dimensi," ujar Mamang.

Sebab, batik kontemporer dan tiga dimensi bisa dipakai oleh segala usia, tua maupun muda. Selain itu, memiliki harga jual yang lebih tinggi daripada jenis batik lainnya.

Harga jual batik kontemporer relatif sama dengan batik kontemporer dari daerah lain. Hanya, warna dan corak motifnya yang membedakannya. Sedang batik tiga dimensi memiliki harga jual yang tinggi karena prosesnya yang cukup rumit. Pasalnya, untuk membuat batik yang terbuat dari sutra super itu diperlukan masing-masing 3 kali proses. "Dibatik 3 kali dan diwarnai 3 kali. Jadi, yang membuat mahal diprosesnya," tandasnya.

Menurut dia, batik kontemporer dan tiga dimensi dari Pamekasan memang unggul di corak dan pewarnaan. Tak heran, jika masyarakat Jakarta, Solo, Makassar dan Bali sangat menyukai batik jenis tersebut meski harganya relatif lebih mahal. "Ini semua kami dapatkan dari masyarakat yang masih membatik hingga sekarang. Di Pamekasan memang ada show room-nya. Tapi masyarakat di desa yang diberdayakan," paparnya.

Jika tak ada halangan, tambahnya, UKM milik Rudi Susanto ini akan memamerkan koleksi batiknya di negara Belanda bulan Februari tahun depan. Dia berharap masyarakat Belanda yang banyak tahu tentang Madura bisa tertarik pada hasil seni dari budaya Madura. "Mudah-mudahan nanti mereka banyak pesan batik dari Pamekasan. Itu akan baik untuk menghidupi masyarakat pembatik di desa-desa," ujarnya sambil sibuk melayani pengunjung. (nra/ed)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 22 November 2008

0 Comments:

Post a Comment

<< Home