Dikembangkan Kawin Silang Sapi Madura - Limousin

Dinas Pertanian dan Peternakan (Diperta) Kab Bangkalan, kini menggalakkan insminasi buatan atau perkawinan silang antara sapi Madura dengan sapi Limousin. Perkawinan silang itu menghasilkan produksi sapi dengan kualitas lebih bagus dari sapi lokal.
Bobot sapi hasil kawin silang ini lebih besar. Sapi blasteran baru lahir bobotnya 25 kg sedang sapi lokasl 15 kg. Pertumbuhannya juga lebih cepat.

"Sudah lima tahun terakhir ini, Diperta Bangkalan mengembangkan inseminasi buatan (IB) di desa-desa. Peternak sapi yang ingin mengembangkan produksi sapi dengan IB trennya mengalami peningkatkan," kata Kasi Pengembangan Peternakan dan Teknis Reproduksi, drh Imam Mukhtar, mendampingi Kepala Diperta Bangkalan Drs H Setijabudi NK MM, Kamis (24/1).

Imam menjelaskan, model kawin silang ini, antara sapi jantan Limousin yang diambil spermanya dengan sapi betina lokal Madura. "Yang melakukan perkawinan silang sapi ini petugas khusus Satuan Pelayanan Inseminasi Buatan (SPIB) yang ditempatkan di masing–masing kecamatan," ujarnya.

Petugas SPIB ini berjumlah 19 orang tersebar di 14 kecamatan di Kab Bangkalan, kecuali di Kokop, Modung, Tanjung Bumi, dan Konang. Masing-masing kecamatan ada 1 petugas SPIB, ada pula yang 2 orang yakni di Galis, Geger, dan Tragah. "Ini bergantung dengan luas wilayah dan populasi ternak sapi di suatu wilayah," terangnya.

Petugas SPIB dilengkapi alat Inseminator Kit (alat-alat IB), kontainer lapangan (tempat untuk menyimpan semen/sperma limousin beku). Masing – masing kontainer ini berisi semen 8 – 10 liter. Ini bisa digunakan untuk melakukan kawin suntik IB pada 100 – 200 ekor sapi betina.

”Teknisnya bila ada masyarakat yang berminat, petugas ini datang ke rumah peternak. Setiap melakukan IB, dikenakan biaya Rp 20.000 - Rp 25.000, sedang di Jawa sampai Rp 75.000 sekali suntik,” ujar Imam.

Pada tahun 2007 Pemkab Bangkalan melali Diperta menganggarkan Rp 300 juta untuk IB. Hasilnya perkawinan silang antara sapi pejantan tangguh dengan sapi betina lokal mencapai 6.000 ekor.

”Dari jumlah itu sudah 2.800 ekor sapi yang telah melahirkan sapi silang. Umur sapi melahirkan sekitar 9 bulan, berarti dalam waktu dekat masih ada lagi sapi itu yang lahir,” ungkapnya.

Dikatakan, harga sapi blasteran ini lebih mahal dibanding sapi lokal. Sapi blasteran satu tahun minimal harganya Rp 2,5 juta. Bila usia 2 tahun harganya bisa mencapai Rp 10 juta sampai Rp 12 juta, sedang sapi lokal 50 persennya.

”Kalau kita hitung kasar dalam setahun harga sapi minimal Rp 2,5 juta kalikan dengan 2.800 ekor yang lahir dari perkawinan silang, berkisar Rp 6 miliar. Padahal anggaran yang digunakan hanya Rp 300 juta untuk program ini,” katanya.

Keberhasilan pengembangan kawin silang sapi limousin dengan sapi lokal Madura produk Bangkalan rupanya bisa diandalkan. Terbukti pada lomba Exspo Peternakan dan Kesehatan Hewan se-Jatim tahun 2007, menjadi juara II Kereman Sapi Madura hasil IB. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Kamis 24/01/2008

2 Comments:

At 6:33 PM, Blogger Unknown said...

dalam rangka pengembangan ekonomi masyarakat saya kira sangat bagus.tetapi apakah itu juga baik menurut tinjauan kesehatan (dokter)?

 
At 1:42 PM, Blogger Deals Hunt said...

ada data terbaru mengenai keluarga miskin di sampang ngga? trims

http://masjoko.blogdetik.com/

 

Post a Comment

<< Home